"Jadi gimana kondisi adik saya, Dok? Gimana perkembangannya?" tanya lelaki rambut ikal itu, memandang dokter Anang yang baru saja memeriksa Salsa.
"Tetap harus bed rest dulu seminggu penuh. Nanti sambil kita pantau lagi kondisinya pasca operasi kemarin. Jika tidak ada kendala, baru kita mulai ke program pemulihan." ucap lelaki yang lehernya dikalungi stetoskop, sembari mengamati lekat kaki wanita yang kakinya masih terbalut oleh gips.
Rahman mengangguk lega. Kekhawatirannya mengenai kondisi Salsa perlahan mereda. Jauh dalam lubuk hatinya, ia selalu berdoa yang terbaik untuk wanita yang baginya akan selalu menjadi gadis kecil di hidupnya.
"Terimakasih, Dok."
Dokter Anang menganguk ramah. "Sama-sama."
"Kurangi gerakan yang tidak perlu ya, Sal." kini perhatian dokter itu beralih pada pasiennya.
"Iya Dok. Tapi jujur banget saya udah bosen tiduran terus setiap hari." Ia terkekeh kecil, membuat dokter itu ikut tertawa.
"Sabar, ya. Semoga kondisi kamu terus membaik. Jadi, kita bisa mulai program pemulihan segera.
Wanita itu tersenyum lalu mengangguk. "Terimakasih ya, Dokter."
Lelaki itu kemudian berlalu meninggalkan kedua kakak beradik itu, bersamaan dengan Nabila yang memasuki ruangan.
"Assalamualaikum." Nabila menebar salam, mata indahnya menyusur seluruh ruangan dan berhenti pada wanita di atas bangsal.
"Waalaikumsalam, Nab." jawab Rahman, menoleh pada Nabila dan laki-laki yang mengekor di belakangnya, Paul. Ia lantas bergeser ke sofa bersama lelaki jangkung itu, memberikan kursi di sisi bangsal itu pada Nabila.
"Kak Sal, gimana keadaan hari ini?" Gadis itu telah berada di samping Salsa, sembari tersenyum manis ke arahnya, memaki setelan yang sangat rapi dan modis.
"Wih, cakep amat sih." goda kakak sepupunya, membuat Nabila nyengir.
"Baju buat take video marketing tadi, Kak."
"Oh, gimana hasilnya?"
Meskipun gadis mungil itu belum menjelaskan apapun, namun raut wajahnya yang sumringah sudah menjawab semuanya.
"Lancar, Kak." Gadis itu tersenyum lebar. "Untung ada Kak Paul, yang nemenin kesana kesini cari perlengkapan dan bantuin semuanya."
"Widih. Emang boleh ya sebergantung itu sama temen gue? goda Salsa semakin jahil, membuat Nabila berkali-kali menoleh ke arah sofa, memastikan lelaki jangkung itu tidak mendengar obrolan keduanya.
"Ih, Kak Sal apaan sih." cebik gadis mungil itu membuat tawa Salsa pecah. "Jangan kenceng-kenceng suaranya."
"By the way, Kak Ren nggak kesini?"
Kini giliran Salsa yang mencebik.
"Dia masih kerja, Nab. Masih dikantor katanya."
Nabila mengangguk kecil. "Aku bersyukur banget lo Kak, ada Kak Ren yang selalu jagain Kakak."
Perkataan Nabila membuat wanita itu tidak bergeming.
"Aku ngeliat Kak Ren kayak beneran care banget."
"Masak sih?" Salsa pura-pura memastikan. Jauh dalam lubuk hatinya, ia merasakan hal yang sama.
"Semua orang juga bisa lihat, Kak." jelas gadis mungil itu. "Kak Sal sama Kak Ren nggak ada niat pacaran?"
Wanita itu hanya tersenyum kecil sambil membuang muka. "Udah deh Nab, lu jangan mikirin gue. Lu mikirin yang di belakang lu aja, tuh."
Nabila kini tersipu, menundukkan mukanya malu-malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSHINE
RomanceTerkadang, takdir adalah satu-satunya alasan kita percaya bahwa segala sesuatu telah diatur dengan sempurna. Renjana Arulian terjebak dalam perasaan cinta pada Sherina Salsabila, wanita yang hanya ia jadikan sebagai pembuktian ego diri nya. Bagaiman...
