Kok lu bisa tahu dia ada disana?" lelaki rambut gondrong itu bertanya penasaran. Matanya menatap lekat pada seseorang yang kini terbaring tak berdaya di ruang IGD, rumah sakit dimana Salsabila dirawat.
"Dia tiba-tiba shareloc." Kata lekaki jangkung itu. "Awalnya gue kira Renjana nyuruh gue ke appartnya, karena shareloknya nggak jauh dari situ.
Sorot mata lelaki itu tampak khawatir. "Tapi gue curiga, karena gue telfon berkali-kali nggak ada respon. Akhirnya gue putusin buat gue susulin kesana."
Nayl mendengus kecil. "Gila. Untung insting lu kuat banget, Ul."
"Akhir-akhir ini gue sama Renjana sama-sama saling posesif bang. Gue tahu dia diincer abis-abisan. Gue yakin, ini tetep ada kaitannya sama orang itu.
Nayl mengangguk. "Lu bener. Mereka nggak kasih kesempatan kita sama sekali."
Rintihan kecil yang terdengar serak itu muncul, membuat kedua orang itu mengalihkan perhatian pada tubuh yang terbujur di samping mereka.
Sementara itu, ketika lelaki yang penuh luka lebam itu membuka matanya, ia merasa linglung. Semua hal yang ia alami seperti mimpi, sebelum ia menyadari ketika rasa nyeri di perut dan dadanya menyergap ketika kesadarannya kembali.
"Ren?" panggil Paul, sembari mengelap tetes darah yang keluar dari hidung Renjana.
"Anjing, tubuh gue sakit semua. Di mana gue?"
"Lu di rumah sakit." sahut Paul yang menatap nanar sahabatnya. "Tadi gue nemuin lu babak belur di jalan deket apartemen lu."
"Bangsat, Ul." umpat Renjana lirih. "Gue dikeroyok."
"Siapa Ren?" tanya Nayl begitu ingin tahu.
Renjana menggeleng. "Gue nggak tahu bang. Tapi, mereka ngambil semua barang bukti yng gue bawa dari tempat Dika."
"Bener-bener bangsat." umpat Nayl. "Mereka beneran nekat."
"Lu udah lihat hasilnya?" tanya lelaki jangkung disampingnya.
Renjana mengangguk. "Positif. Sidik jari orang yang sama."
"Bajingan." Nayl dan Paul mengumpat hampir bersamaan.
"Gue nggak sadar kalau ada yang ngikutin. Gue baru notice saat masuk kawasan appart. Mereka ngehadang mobil, dua orang ngeroyok gue."
"Kita harus laporin pengeroyokan ini ke polisi." ucap Paul. "Ada dashboard camera kan di mobil lu?"
Renjana mengiyakan.
"Besuk kita akan urus Ren. Lu tenang aja." ucap Nayl menenangkan. Lelaki yang hidungnya masih saja mengeluarkan darah itu merasakan nyeri yang luar biasa pada ulu hatinya. Membuat Paul segera berlari memanggil tenaga medis yang melawan kantuk di jam dua dini hari itu. Wanita berseragam itu lantas menyuntikkan sesuatu pada infus Renjana, membuat rasa nyeri itu berangsur menghilang, beserta seluruh kesadarannya.
**
Dalam ruang persidangan itu, seluruh manusia bersorak. Mengelu-elukan Aris Darmawan. Palu yang diketuk itu, memberikan kemenangan pada lawan kliennya, membuat kakinya tiba-tiba gemetar.
Andi Betrandika menatap ke arahnya penuh percaya diri. Ia menyeringai lebar dan sorot matanya mengartikan sebuah penghinaan.
"Loser!"
Renjana terhenyak. Ia terbangun tersengal, bukan di ruang persidangan namun ia masih terbaring di tempat yang sama dengan selang infusnya.
Lelaki itu semakin terhenyak ketika mendapati seorang wanita berkerudung yang dengan lekat menatapnya seolah tak berkedip. Ia duduk di atas kursi roda, lengkap dengan kakinya yang masih terbalut gips yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSHINE
RomansaTerkadang, takdir adalah satu-satunya alasan kita percaya bahwa segala sesuatu telah diatur dengan sempurna. Renjana Arulian terjebak dalam perasaan cinta pada Sherina Salsabila, wanita yang hanya ia jadikan sebagai pembuktian ego diri nya. Bagaiman...
