Petunjuk Pertama

97 14 1
                                        

Koridor rumah sakit terlihat sedikit lengang ketika lelaki tampan itu menyusuri lorong, sementara kedua tangannya penuh dengan kantong berisi makanan dan buah-buahan.

"Panjang umur, lu." ucap Novia, tepat setelah wajah Renjana muncul dari balik pintu kamar inap. Sementara lelaki itu hanya menatap semua orang didalam ruangan itu dengan pandangan bodoh, tak mengerti.Hingga matanya bertemu dengan sepasang mata yang entah mengapa tetap terlihat begitu indah, meskipun penuh sayu.

"Apaan nih?" tanya Anggis, ketika kantong-kantong itu mendarat di atas meja, dekat sofa dimana ia sedang duduk bersama kekasihnya, Bian.

"Makan aja, buat kalian." jawab Renjana, sesaat sebelum ia berlalu dan berhenti disamping wanita yang tak kunjung berhenti memandanginya.

"Apa yang lu rasain sekarang , Sal?" tanya lelaki itu.

Wanita yang sudah melepas alat bantu pernapasannya itu hanya tersenyum tipis. "Badan gue rasanya remuk kayak habis lembur."

Renjana ikut tersenyum, lebih lebar dari senyum wanita itu. "Lu sakit bisa-bisanya tetep ngelawak."

Mereka berdua tertawa kecil, semakin mencuri perhatian beberapa pasang mata yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik keduanya.

"Kita balik ya, Sal. Cowok lu udah dateng." goda Novia, dibalas dengan tatapan pasrah dari Salsa.

"Kasihan Nabila juga, dia sendirian sakit di appart. Malem ini biar dia nginep sama gue." tambah Novia sembari beranjak dari duduknya, diikuti Anggis dan Syarla yang juga bersiap-siap untuk beranjak.

"Sorry ya Nop ngrepotin lu, gue titip Nabila." kata Salsa, kali ini dengan raut wajahnya yang sedih.

Novia mendekat kearahnya, menabok kecil lengan sahabatnya itu. "Dih, kayak sama siapa aja lu."

"Titip kak Salsa ya, bang Ren." ucap Syarla, yang dijawab dengan anggukan kecil dari Renjana.

"Jagain ya, kita balik dulu. Bang Aman lagi keluar beli makan." ucap Novia.

Lelaki itu mengangguk lagi, seraya memandangi empat pasang kaki yang kini mulai melangkah meninggalkan ruangan. Menyisakan ia sendiri bersama Salsa.

Ia lantas duduk di tepi bangsal, tepat disamping wanita itu.

"Lu mau makan?"

Salsa menggeleng. "Udah. Barusan makan disuapin Novia."

"Kapan giliran gue nyuapin lu?"

"Ren?"

Lelaki itu terkekeh. "Bercanda Sal."

"Sal." panggil Renjana lagi, sesaat setelah mereka berdiam sejenak.

"Ya?"

Renjana mengatur nafasnya yang berat. "Gue siap dengerin cerita lu, kapanpun lu udah siap cerita."

"Gue boleh cerita sekarang?"

Renjana mengangguk, sebelum ponsel dalam saku celana kargo coklatnya itu berdering. Notifikasi panggilan dari wanita itu menyala. Livana.

Ia mengambil ponselnya, lalu membiarkan ponsel itu terus berdering.

"Nggak lu angkat?" tanya wanita itu.

Renjana menggeleng. "Nggak penting kok."

"Jadi gimana, Sal?"

"Rem mobil lu trouble, saat gue ngebut tiba-tiba rem nya beneran blong. Gue akhirnya banting setir sampai akhirnya nabrak beton." ucap Salsa, terdengar sedikit ada rasa trauma.

SUNSHINECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang