Lelaki dengan jaket kulit hitam itu kini sudah duduk di salah satu sudut Andreson Bar. Padahal, beberapa saat yang lalu ia masih sibuk bercengkerama dengan Salsabila. Ujung rokoknya, sesekali menyala terang dan sesekali meredup akibat hisapan kecil pada ujung yang lain. Barulah pada rokok ketiganya, nampak seorang lelaki sedang berjalan menuju ke arahnya. Seseorang yang dengan mudahnya ia kenali, juga seseorang yang menjadi alasannya berada di tempat itu.
Lelaki itu duduk di hadapannya tanpa basa-basi. Ia melepas topi koboinya, menampakkan rambutnya yang terlihat jelas begitu hitam pekat, meskipun kondisi di dalam bar tidak begitu terang.
Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa itu, rileks. Sementara matanya kini menyorot Renjana yang tak kalah tenang menikmati rokok ketiganya.
"Selamat malam, bapak Arulian." sapa lelaki itu tersenyum lebar.
Renjana masih saja diam tak acuh, ia melambungkan asap rokoknya tinggi. Lelaki itu tertawa kecil. Ia kemudian meminta beberapa botol minum.
"Setidaknya, taruhlah sedikit rasa hormatmu pada seniormu." Ia menyeringai tipis. "Jujur, saya terkesan sekali dengan langkah-langkah anda yang begitu percaya diri di persidangan. Anda masih begitu muda, dan sangat bertalenta."
Lelaki itu menuang isi botol minum yang baru saja datang ke dalam gelas kecil.
"Tapi, anda pastinya paham, tujuan saya bertemu dengan anda bukanlah hanya sekedar untuk memuji, bukan?"
Renjana membuang asapnya yang kesekian kali ke langit-langit. Mata tajam itu tak lepas dari setiap pergerakan lelaki yang mengundangnya mendadak untuk bertemu.
"Saya paham tujuan anda." Suara berat itu muncul. Penuh wibawa dan percaya diri.
Lelaki itu menganguk pelan. "Baguslah. Kalau sudah paham, saya tidak perlu basa-basi lagi."
"Mundurlah, lepaskan kasus ini."
Renjana tersenyum tipis. "Apa untungnya bagi saya?"
Lelaki itu meneguk minumannya.
"Anda bisa bergabung bersama saya di Royal Consultant. Tentunya, anda tahu, prestise Royal jauh lebih besar daripada tempat sekarang anda bekerja. Pamor dan karir cemerlang akan dengan cepat anda dapatkan, saya jamin."
"Selama anda memihak pada Aris Darmawan, karir anda tidak akan tenggelam. Dan juga sebaliknya." tambahnya penuh penekanan.
Lelaki itu meneguk minumannya untuk kedua kali.
"Saya bisa melihat kemampuan anda, yang begitu disayangkan jika saja anda tetap keras kepala memilih bertahan pada kasus ini. Sebab, saya tidak bisa menjamin, apakah anda bisa bertahan sampai akhir."
Lelaki itu menutup kalimatnya dengan sebuah sunggingan senyum licik di sudut bibir. Senyum milik peran antagonis.
"Apalagi yang bisa anda lakukan selain mengancam saya?" Alih-alih ciut, lelaki tampan itu justru menantang. Ia menggosok kasar ujung rokoknya ke dalam asbak.
"Jika kesempatan pertama tak merobohkan, bukankah kita harus menyempurnakan kesempatan kedua. Bukan begitu bapak Arulian?"
"Bangsat." umpat Renjana dalam hatinya. Ia tahu betul apa maksud dari kalimat yang diucapkan kepadanya. Sementara tatapan mata lelaki dihadapannya menancap tajam pada mata Renjana. Ia mengintimidasi.
"Semoga anda bisa belajar dari pengalaman. Dewi fortuna tidak selamanya berpihak pada anda. Mungkin saja, di kesempatan yang lain, Dewi maut yang ada di pihak anda." Lelaki itu kembali tersenyum, tipis dan licik sebelum ia mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong jaketnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUNSHINE
RomanceTerkadang, takdir adalah satu-satunya alasan kita percaya bahwa segala sesuatu telah diatur dengan sempurna. Renjana Arulian terjebak dalam perasaan cinta pada Sherina Salsabila, wanita yang hanya ia jadikan sebagai pembuktian ego diri nya. Bagaiman...
