Basement.

113 12 1
                                        

Langkah wanita itu melambat ketika menyadari suara derap kaki seseorang yang seakan mengikutinya di basement kantor.

"Dim, bikin kaget aja." ucap Salsa, ketika matanya menangkap lelaki itu, beberapa langkah di belakangnya.

Dimansyah hanya tertawa kecil. "Parno banget sih, Sal. Siang-siang gini juga."

Lelaki hitam manis itu menatap wanita yang kini membenahi kacamatanya yang sedikit melorot. "Lu darimana?"

"Semalem habis nonton drakor triller, jadi agak was-was." keluh Salsa asal. "Gue habis makan siang, sama Novia." 

"Trus novianya mana?" lelaki itu memandang ke sekitar, mencari keberadaan kekasih teman gondrongnya itu.

"Dia tadi disamperin Nayl, trus nggak tau kemana cabut berdua." Wanita itu melangkah lagi, kali ini langkahnya sejajar dengan langkah milik Dimansyah yang juga sama-sama menuju ke dalam kantor."Oh." ucap Dimansyah, mengimbangi langkah wanita itu. 

"Tumben, nggak sama Renjana?"

Salsa mengenyit. "Emangnya harus sama Renjana terus, ya?"

Lelaki itu mengedikkan bahunya. "Bukannya kalian lagi deket?"

Tiba-tiba Salsa merasa canggung, entah keruh apa yang memenuhi dirinya. Bahkan ia sendiri seperti tidak bisa menerima, bahwa sialnya ia memang sedang dekat dengan lelaki yang menurutnya casanova itu.

"Sal.." panggil lelaki itu, membuatnya berhenti sejenak.

"Iya, Dim?"

Dimansyah mengambil nafas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menatap wanita di hadapannya. "Gue nggak mau ikut campur urusan kalian, tapi lu harus mikir seribu kali untuk nentuin orang yang layak ada disamping lu."

**

Hati lelaki itu terasa penuh, ketika menatap wanita berkacamata yang kini duduk disampingnya, sedang sibuk menghabiskan sate taichan Gandaria yang akhir-akhir ini sedang viral di Tiktok.

"Santai aja sih, makannya. Nggak ada yang ngejar lu." goda lelaki itu.

"Serius ini enak banget." ucap Salsa, menggigit daging pada tusukan kelimanya. "Pantes antriannya udah kaya uler."

Renjana terkekeh. Matanya kemudian melirik antrian panjang di depan meja pesan, tempat dimana tadi ia berdiri hampir satu jam disana hanya untuk memenuhi keinginan wanita itu. Sebuah hal yang jelas-jelas tidak masuk akal bagi seorang Renjana Arulian.

Malam itu, Salsabila diculik paksa oleh Renjana. Lelaki yang seharian penuh sibuk menemui klien-kliennya itu merasa butuh tempat untuk beristirahat dari rasa lelah. Entah mengapa, satu-satunya hal yang terpikirkan dalam benaknya hanyalah menemui Salsa.

"Lu suka?" tanya lelaki itu, menoleh ke arah Salsa, yang begitu sibuk dengan sate taichannya, hampir-hampir menganggap lelaki itu tidak ada.

Wanita itu mengangguk. "The best ini mah."

"Besok malem mau kesini lagi?"

Kini giliran Salsa yang menoleh. "Yakin? Kaki lu nggak copot tuh, berdiri sejam?"

Renjana tertawa lagi, kali ini ia gemas.

"Buat lu apa sih yang enggak?" jawab Renjana, diikuti dengan senyum jahilnya. Membuat darah wanita disampingnya sejenak berdesir, meskipun ia tahu itu hanyalah kata-kata gombalan belaka. Ia mulai merutuki dirinya sendiri, yang akhir-akhir ini perasaannya sering menghangat, seperti sedikit melayang dari tempat yang seharusnya.

"Stop jadi buaya, lu."

Renjana melenguh. "Apaan sih, Sal."

"Kenapa sih lu milih mainin cewek? Padahal jadi orang yang setia tuh juga keren." kini giliran Salsa mengintimidasi.

SUNSHINETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang