Happy Reading
Tiga hari terasa lebih lama dari biasanya bagi Gala.
Rumah yang biasanya sunyi karena hubungan mereka yang canggung, kini terasa benar-benar kosong. Tidak ada suara langkah pelan Bulan di pagi hari. Tidak ada keluhan kecil tentang mual. Tidak ada cahaya lampu kamar yang menyala sampai larut.
Ia memang menerima video call setiap malam. Bulan terlihat baik-baik saja. Tertawa bersama teman-temannya. Sesekali mengelus perutnya ketika bayi mereka bergerak. Tapi tetap saja, Gala merasa ada yang hilang.
Dan pagi hari ketiga itu, ia sudah berdiri di depan pintu bahkan sebelum mobil yang membawa Bulan berhenti sempurna.
Mobil itu berhenti.
Pintu terbuka.
Bulan turun perlahan, satu tangan memegang tas kecil, tangan lainnya refleks menyangga perutnya. Wajahnya terlihat lelah, tapi ada semburat bahagia karena tiga hari bersama teman-temannya.
Belum sempat ia melangkah jauh, Gala sudah berdiri di depannya.
"Kamu capek?" tanyanya cepat.
Bulan terdiam sesaat. Biasanya ia akan menjawab datar. Tapi kali ini, ia hanya mengangguk pelan.
"Lumayan."
Tanpa banyak kata, Gala mengambil tasnya. Bahkan sebelum teman-teman Bulan selesai berpamitan, ia sudah sigap membuka pintu rumah.
"Thanks ya udah jagain dia," ucap Gala pada teman-temannya dengan sopan.
Mereka tersenyum penuh arti.
"Tenang,Istrinya dijagain kayak ratu."
Bulan sempat menoleh, sedikit malu mendengar kata itu. Tapi ia tidak membantah.
Begitu masuk rumah, suasana terasa hangat. Ruang tamu rapi. Meja makan sudah terisi makanan hangat.
"Kamu masak?" tanya Bulan pelan.
"Pesan catering sehat khusus ibu hamil," jawab Gala, sedikit defensif, seolah takut dianggap berlebihan.
"Kamu pasti capek."
Bulan menatapnya lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu yang berubah.
Selama tiga hari itu, ia memang menikmati kebebasannya. Tertawa, bercerita, merasa menjadi dirinya sendiri lagi. Tapi di sela-sela itu, ia beberapa kali teringat Gala—pesan-pesannya yang sederhana, panggilannya sebelum tidur, kekhawatirannya yang tidak dibuat-buat.
Ia tidak ingin mengakuinya, tapi ia merasa... dirindukan.
"Aku kangen rumah," ucap Bulan tiba-tiba.
Gala tersenyum kecil. "Rumahnya atau...?"
Bulan menatapnya, lalu untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia menjawab tanpa nada dingin.
"Rumahnya lah"
Jawaban itu sederhana. Tapi bagi Gala, itu lebih dari cukup.
Malam itu, tidak ada pertengkaran. Tidak ada jarak yang terasa tajam. Bulan duduk di sofa sambil bersandar, dan tanpa sadar membiarkan Gala duduk lebih dekat dari biasanya.
Tiga hari perpisahan kecil itu ternyata membuat mereka sadar satu hal:
Kadang, jarak bukan untuk menjauhkan.
Tapi untuk menyadarkan... bahwa ada rasa yang perlahan tumbuh, meski dimulai dari luka.
"Lan"
"hmm"
"Lan"Panggil gala lagi membuat bulan kesal
"Apa sih!"
Gala terdiam beberapa detik, seolah mengumpulkan keberanian.
"Kalau aku tanya sesuatu... kamu jawab jujur ya."
Bulan mengangguk pelan.
Gala menarik napas panjang.
"Apakah kamu sudah sepenuhnya memaafkan aku?"
Pertanyaan itu jatuh di antara mereka seperti sesuatu yang rapuh.
Bulan tidak langsung menjawab.
Tatapannya beralih ke jendela, mengikuti rintik hujan. Pertanyaan itu bukan hal baru. Ia sudah sering memikirkannya sendiri. Tapi mendengarnya langsung dari Gala membuat dadanya terasa sesak.
"Aku... nggak tahu," jawabnya akhirnya, jujur.
Gala menunduk sedikit. Ia sudah menduga jawabannya tidak akan mudah.
"Aku nggak lagi membencimu seperti dulu," lanjut Bulan pelan.
"Aku juga nggak ingin hidup terus-terusan dengan rasa marah."
Ia mengusap perutnya perlahan.
"Tapi kalau kamu tanya apakah lukanya benar-benar hilang... belum."
Suasana kembali hening.
Gala mengangguk pelan, menerima.
"Aku tahu aku jahat waktu itu," ucapnya lirih.
"Dan aku nggak akan pernah bisa hapus apa yang sudah terjadi. Aku cuma... takut kamu bertahan di sini cuma karena anak kita."
Bulan menoleh cepat.
"Aku memang menikah karena anak ini," jawabnya jujur. "Tapi kalau cuma karena itu, aku nggak akan peduli sama kamu. Kenyataannya... aku mulai peduli lagi. Dan itu yang bikin aku takut."
Gala terdiam.
"Memaafkan itu proses, Gala," lanjut Bulan. "Bukan tombol yang bisa langsung ditekan. Aku lagi belajar. Pelan-pelan."
Untuk pertama kalinya, Gala merasa bukan ditolak—melainkan diberi kesempatan.
Ia tidak meminta pelukan. Tidak juga mendekat berlebihan. Ia hanya berkata pelan,
"Selama kamu masih mau belajar memaafkan... aku akan tetap di sini. Nunggu."
Bulan menatapnya lama.
Mungkin ia belum sepenuhnya memaafkan.
Mungkin luka itu masih ada.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, mereka membicarakan masa lalu tanpa saling melukai.
Dan mungkin... itulah awal dari pengampunan yang sebenarnya.
T.B.C
KAMU SEDANG MEMBACA
GALLAN
RomanceTidak ada yang tau mengenai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan.Bulan seorang wanita karir yang sampai saat ini belum menikah juga semenjak dijadikan taruhan oleh mantan pacarnya. Tanpa di duga enam tahun mereka berpisah. kini mereka ha...
