Disebuah jalan setapak yang di apit oleh ladang padi. Gerobak yang ditarik oleh kuda berjalan pelan, di gerobak tersebut terdapat enam orang. Satu di depan sebagai pemandu yang merupakan seorang pria tua. Dibelakang terdapat lima orang, mereka adalah party pahlawan yang diimpikan akan membawa dunia ke kedamaian. Mereka adalah Kevin, Eza, haru, Alice, dan andras.
Terlihat mereka begitu menikmati pemandangan yang ada, angin membuat rambut mereka bergoyang, hembusan angin seakan membawa bisikan dari masa depan. Suara telapak kuda yang berjalan sedikit menghapus kesunyian perjalanan.
Kevin, Eza, dan andras sibuk membicarakan tentang tujuan mereka selanjutnya. Sedangkan haru membaca kitab sihir yang ia temukan di reruntuhan dan Alice menghitung keuangan mereka.
"Sepertinya kita akan kekurangan uang kita untuk beberapa hari kedepan." Ucap Alice tiba-tiba yang membuat mereka menghentikan aktivitas yang berlaku.
Kevin memandang kantong uang yang semakin menipis, "kau benar, Alice. Seingat ku kantong itu tidak setipis yang ku liat hari ini."
Haru melirik sedikit kantong uang tersebut lalu menoleh pada Kevin, "itu terjadi karena kau memberikan uang pada seseorang beberapa saat lalu."
Alice pun mengalihkan pandangan nya dari kantong ke haru, "apa maksudmu haru?"
"Haahhhh..... Beberapa waktu lalu sebelum kita naik ini, Kevin memberikan mungkin setengah dari koin yang kita memiliki pada seseorang tidak terlalu membutuhkan." Jawab haru sambil membaca kitab sihirnya.
"Apa benar itu, kev?"
"Iya." Jawab Kevin tanpa menutupi apapun.
Memang benar Kevin menggunakan koin itu untuk membantu, namun Kevin memberikan terlalu banyak koin mereka.
"Haaah.. ya sudahlah apa boleh lagi. Mungkin didesa selanjutnya kita harus mengambil misi lagi." Ucap Alice pasrah sambil menutup kantong uang dan menyimpannya.
Haru menatap mereka berdua datar lalu menoleh pada Eza dan andras yang berbincang seakan mereka tidak mendengarkan percakapan tadi.
Alice menoleh pada haru yang sibuk membaca tanpa memperdulikan percakapan tadi, ia sudah tau dari awal memang haru orangnya dingin dan cuek terhadap sekitar namun dalam segi kekuatan dan sihir haru adalan ahlinya dalam hal tersebut.
Seakan terasa haru melirik Alice dari sudut matanya," ada yang ingin kau bicarakan Alice?"
Alice pun tersadar dari lamunannya," ah.. itu tidak terlalu penting kok."
Haru pun menutup kitab sihirnya lalu memasukkan ke ruang penyimpanan nya. Haru tau Alice ingin bertanya, itu terlihat dari sorot matanya yang terlihat bercahaya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya haru dingin sambil menatap Alice datar.
Melihat sorot mata dingin haru, Alice sedikit takut, "a.. aku hanya ingin bertanya tentang sihir zoltraak saja. Apakah aku bisa menggunakannya?"
Kevin, Eza, dan andras menoleh pada haru yang menatap Alice dingin, mereka menunggu jawaban dari pertanyaan Alice. Mereka tau bahwa sihir zoltraak telah menjadi sihir dasar yang selalu digunakan oleh para penyihir. Namun, dalam kasus lain beberapa penyihir tidak bisa menggunakannya.
Alice menunggu jawaban dari haru. Ia sedikit gelisah akan jawabannya, sebab ia tidak terlalu pandai dalam hal sihir.
"Bisa"
"HAHHH" kaget mereka yang membuat pria tua menoleh ke belakang segera Kevin meminta maaf lalu pria tersebut kembali memandang kedepan.
Mereka menyangka bahwa Alice bisa menggunakan sihir zoltraak, namun haru terlihat kurang yakin akan jawabannya sendiri.
"Namun, ada kemungkinan kecil bahwa Alice akan kesulitan dalam menggunakan sihir zoltraak."
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Eza.
"Karena dalam beberapa faktor ada yang memengaruhi proses sihir zoltraak, seperti pengendalian daya sihir, kesulitan mengontrol daya hancur dari zoltraak sendiri ataupun belum pernah menggunakan sama sekali." Jawab haru sambil menatap mereka satu persatu dan berhenti pada Alice.
"Namun, karena perkembangan zaman yang telah maju ini beberapa ahli sihir membuat kitab sihir zoltraak yang akan membantu semua penyihir dalam menggunakannya." Lanjut haru sambil memunculkan kitab sihir yang memiliki sampul bintang. Lalu memberikan kitab tersebut pada Alice, Alice pun menerimanya.
Dengan memandang kitab yang ada ditangannya, terdapat keraguan dalam sorot mata," apakah aku bisa menggunakan zoltraak?"
Melihat keraguan di mata Alice, Kevin menepuk pundaknya pelan." Kau pasti bisa, sebab haru akan membantumu tentang itu." Kata Kevin sambil menoleh pada haru yang menganggukkan kepalanya.
"Hilangkan keraguan mu,Alice. Sebab penyihir kelas satu tidak membutuhkan keraguan lagi dalam hidup mereka, yang mereka butuhkan adalah keyakinan dalam diri." Ucap haru sambil melihat Padang padi.
"Baiklah, aku akan membaca dulu kitab ini" balas Alice dengan yakin. Iapun membuat kitab sihirnya dan mulai membacanya.
"Begitu dong." Balas Eza,Kevin,dan andras secara bersamaan yang membuat mereka tertawa kecil.
Haru pun fokus melihat Padang padi tersebut, sebab ia merasa ada yang mengawasi mereka.
Tak berselang lama, mereka berlima turun di persimpangan jalan setapak. Mereka mengucapkan terima kasih pada pria tersebut sebab telah mengantarkan mereka sampai persimpangan jalan. Pria tua tersebut pun memilih pergi ke desa Wirata. Sedangkan tujuan mereka adalah menuju daratan Utara.
Eza yang sedang tadi memperhatikan haru seperti lagi mengawasi sorot matanya tajam bahkan berkilau biru," apakah ada sesuatu haru?"
Haru pun menganggukkan kepalanya," sejak tadi ada yang mengawasi, namun sepertinya seseorang itu pandai dalam menyembunyikan daya sihirnya. Bahkan pendeteksi daya sihir ku agak sulit menemukan posisinya."
"Apakah orang tersebut berbahaya haru?" Tanya Kevin pada haru yang fokus memandang Padang padi. Andras,Eza, dan Alice pun berwaspada sebab sekelas haru saja kesulitan menemukannya apalagi mereka.
Haru yang memandang kesana kemari dengan waspada, lalu iapun merasakan setitik cahaya yang berkilau haru menajamkan pandangannya. Haru langsung memunculkan tongkat sihirnya lalu membuat sihir pertahanan.
"Zoltraak."
Derrrr
Duarrr
Saat zoltraak mengenai sihir pertahanan, sihir zoltraak berubah menjadi partikel-partikel kecil bercahaya. Lalu haru memunculkan banyak sekali simbol sihir zoltraak.
"Zoltraak"
Derrrr
Derrrr
Derrrr
Duar
Duarr
Duarr
Zoltraak yang haru tembakan mengarah ke tempat persembunyian orang tersebut dan meledak kan tempat tersebut hingga menciptakan kawah yang cukup besar.
"Haru, dia sudah ada disana lagi. Dia menggunakan teleportasi untuk menghindari semua zoltraak muncul. Namun, sepertinya..." Ucap Alice sambil memandang Padang padi yang berada cukup jauh dari tembakkan zoltraak haru.
"Dia hanya sedikit berpindah." Lanjut Alice dengan cepat memunculkan tongkat sihirnya lalu menembakkan lima bola cahaya ke arah tempat yang ia rasa munculnya orang tersebut.
Duarr
Duarr
Duarr
Melesat keluar dari asap ledakan, seorang pria dengan memakai jubah yang menutupi sedikit wajah, ditangan nya terdapat tongkat sihir, dia juga memiliki daya sihir yang hampir setara dengan Alice.
Mereka memandang orang tersebut dengan waspada. Eza telah siap dengan palu nya, begitu juga dengan andras yang menarik kedua pedang nya. Haru dan Alice mengarahkan tongkat sihirnya pada orang tersebut, bahkan haru telah siap siaga jika orang tersebut tiba-tiba menyerang.
Kevin melangkah kedepan dengan menarik pedang dari sarungnya lalu menodongkan pedang tersebut pada orang tersebut," siapa kau?
" Aku adalah...."
KAMU SEDANG MEMBACA
This is the path I chose
FantastikDisebuah desa terjadi kekacauan yang sangat kacau. Terjadi pembunuhan masal yang disebabkan kaum iblis dari kejadian itu hanya menyisakan satu dari sekian penduduk desa tersebut dan pemuda itu diselamatkan oleh seorang penyihir agung dan melatihnya...
