Keadaan kantin saat ini begitu ramai. Ketiga gadis yang sedang duduk di salah satu bangku di kantin tengah bercanda ria sambil menyesap minuman kaleng di tangan mereka. Kecuali satu diantara mereka, tidak suka dengan kondisi seperti ini. Wajar, Rara jarang sekali datang ke tempat ini, karena menurutnya tidak penting. Dilihatnya banyak murid murid bercanda ria disana. Semua gelakan canda tawa dan gerahnya situasi kantin yang menjadi jadi.
"Ra, Ra! Mereka dateng!"
Rara segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Bella. Dibelakangnya, disipitkan matanya untuk menghindari cahaya matahari yang masuk. Siapa lagi kalau bukan gerombolan Andra dan kawan kawan. Mereka tengah berjalan menuju kantin, dan menjadi pusat perhatian. Rara kembali terenyuh, kembali memfokuskan dirinya pada kaleng yang ia pegang saat ini. Semoga ingatan Rara berhenti ketika melihat sosok orang yang pernah menbuat hatinya menangis.
Bella dan Tiara sibuk memperhatikan mereka satu persatu. Dan Rara, gadis itu saat ini tengah berharap agar semuanya baik baik saja. Tidak ada masalah. Semoga jantungnya tidak lepas dari urat nadi ketika melihat siapa yang datang.
"Rara ya?"
Rara menoleh cepat, terhenyak dan memikirkan apa yang terjadi. Semua sorot mata yang memandang kini terpusat pada Rara yang tak mengerti apapun. Seakan akan ini hanya illusi.
"Cieee..cewek lo Nat?"
Deg. Deg. Deg. Ketika semuanya berakhir pada hari ini. Rara tidak tahu harus bicara apa. Mulutnya bungkam seribu kalimat. Tak bisa berucap lagi. Andra. Dia yang dikejar oleh Rara kini ada pada padanya. Sedang bicara padanya untuk kedua kalinya.
"Cie cieee, Nata udah gede cieee..." sahut Tian salah satu temannya.
Rio tersenyum jahil melihat ke arah kami, "Gue kira lo masih anak mama, Nat!" ucapnya sambil menepuk bahu Nata.
"Jangan dipeduliin mereka," ujar Nata enteng.
"Ihh, cantiiik, kenalan dong!" ucap jahil Adi dengan sorakan khas. Membuat sorot mata semua tertuju pada bangku Rara untuk kedua kalinya. Setelah kemarin ia bertengkar dengan Erika.
"Tadi gue udah janji sama lo buat traktir lo. Sekarang pesen apa aha terserah nanti gue yang bayar," ucap Nata.
Rara merasa tidak enak dengan pemberian yang berlebihan ini.
Di sekolah, Nata dan kawan kawan memang dikenal sebagai cowok yang populer. Begitu juga dengan Andra. Selain tampan, mereka juga tajir. Tak jarang banyak gadis memperhatikan mereka dengan tatapan kagum.
Jadi untuk Nata uang lima puluh ribu adalah uang yang dikiranya kecil."Aduuuhh..aku juga mau dong kak.." ledek Adi semakin menjadi jadi.
Nata berdecak, "Berisik bego!"
"Ng, makasih, Nat! Sori ngerepotin lo," ujar Rara malu malu.
Nata melipat dompetnya dan memasukkan kedalam saku celananya lagi, Rara tertunduk malu. Pipinya memerah, karena digeromboli geng faforitnya, "Ok gue juga maaf ya soal kemaren,"
"Kapan kapan kenalan dong cantik!" ledek lagi Tian.
Dikiriknya Andra, dan benar Andra adalah cowok paling pendiam. Beda dengan lainnya. Dia hanya menggeleng kecil sambil tertawa sesekali melihat aksi kawan kawannya.
Nata memutar bola matany sebal, "Hush! Udah ah, oya, gue sekalian mau kenalin temen temen bego gue."
"Asiikk..kenalan.." mereka bersorak kegirangan.
Nata menepuk bahu Rio, sambil berucap sebal, "Yang ini namanya Rio."
"Hai cantik!" ucap Rio sambil menjabat tangan Rara dengan lembut. Membuat lainnya bersorak kegirangan. Rara segera melepaskan jabatannya karena risih.

KAMU SEDANG MEMBACA
Glosarium
Teen FictionCerita ini mengisahkan tentang perasaan. Memendam, menyimpan, meluapkan dan semua rasa yang ada dalam diri. Dan bagaiamana seseorang harus belajar untuk mengerti perasan orang lain yang teramat dalam baginya. 3 Maret 2017 Copyright © Arimbi Dwi