Gloasrium 12

23 1 0
                                    

Setibanya di depan toko buku langganannya, Rara segera memarkir sepeda motornya dan melepaskan helm yang masih menyangkut di kepalanya. Dengan hati yang gembira dia memijakkan kakinya di tempat yang ia rindukan aromanya.Tempat dimana dia memanjakan matanya. Tempat dimana dia mulai beraksi.

Dengan langkah tak sabaran, dia mulai membelah rak rak buku yang tinggi dan penuh dengan buku. Dia segera menuju ke bagian astronomi, seperti biasa tempat dia mencari buku kesukannya.

Membaca sedikit demi sedikit tulisan kecil yang ada di belakang buku tebal dari semua penulis terkenal tentang teori langit dan astronomi. Setelah dirasa pas, dia memilih buku buku lagi, karena ini kesempatan emas dia bisa mencari dan menjelajah dunia buku yang ia tunggu tunggu. Tanpa basa basi, dia menuju ke satu rak sedikit sepi dengan tumpukan buku. Dengan cepat, dia segera meraih buku yang jarang ditemukan baginya. Tapi sayangnya, satu tangan juga menjalar mengambil buku tebal dan antik itu.

Rara mengerjap, berharap dengan baik hati seorang yang sama mencari buku yang ia cari berniatan untuk memberikan buku yang selama ini ia cari.

"Eh, lo bawa aja," ucap gadis tinggi berkulit putih itu.

"Lo aja gapapa," kata Rara lirih mengucapkan hal itu. Berat hati sekali ia mengucapkan itu.

Gadis itu mengerjap pertanda tak percaya. "Serius?"

Rara tersenyum semanis mungkin merelakan buku yang ia cari selama ini pindah di tangan orang. "Makasih ya, oh ya sori kalo udah bikin lo kecewa."

Rara tersenyum sendu, benar benar menyedihkan. "Gapapa kok, santai aja."

Gadis itu berjalan menjauh dengan membawa buku yang selama ini ia cari dan nantikan. Dalam hati Rara sedikit sebal. Kenapa ia tidak mengambilnya saja. Toh tangan Rara yang duluan menyentuh badan buku itu. Tapi mungkin ini bukan waktunya.

Dengan berat hati, Rara membawa beberapa tumpuk buku yang ada di genggamannya menuju kasir. Kemudian kembali pulang ke rumah tempat ia menjejalkan impiannya.

***

"Eh buset, seriusan dia cantik banget!"

"Gue gak nyangka ada adek kelas secantik dia!"

"Katanya sih pindah dari Australia."

"Eh gila, seksi uy!"

Rara tetap berjalan fokus menuju koridor kelasnya. Tidak peduli dengan cibiran cibiran yang ada di telinganya mengenai 'siswi baru'. Yang terpenting sekarang adalah masuk ke kelas dan menceritakan kepada kedua sahabatnya bahwa buku yang selama ini ia cari tidak berhasil dipegangnya.

Belum sempat Rara duduk di bangku, Tiara dan Bella sudah menyeret lengan Rara paksa, membuat Rara kaget.

Rara yang merasa risih dengan aksi kedua sahabatnya segera meluruskan aksi mereka. "Apaan sih? Pasti berita panas lagi."

"Ra, lo harus liat Ra!" celetuk Bella sambil mengajak keluar menuju ke arah sebrang kelasnya, tepatnya area kelas sepuluh.

"Ra, astaga, lo harus liat itu!" jelas Tiara sambil menujuk ke arah cewek yang sedang jadi pusat perhatian.

Rara masih mengelak. Dia berdecak dan mengumpat dalam hati. Sia sia jika ia hanya menggunakan waktu yang tidak penting dengan berdiri memandangi cewek yang tengah jadi pusat perhatian. "Apaan sih?"

"Liat Ra, liat siapa itu!" jelas Bella seraya menujuk ke arah itu lagi.

Rara menyipitkan matanya, seperti tak asing baginya. "Eh tunggu, gue kayak pernah ketemu aja sama dia."

Bella dan Tiara berteriak bersamaan heboh. "Siapa Ra?!"

"Kemarin gue ketemu di toko buku kalo gak salah," ujar Rara enteng.

GlosariumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang