Rara menatap takjub dengan keindahan sunrise pagi ini. Ini benar benar indah. Karena dalam sejarah hidup Rara, hari Minggu digunakan untuk tidur hingga siang dan tak ada kesempatan baginya untuk bisa melihat pemandangan seelok ini. Bahkan terakhir kali ia melihat sunrise saat ia masih berumur sembilan tahun di saat ia sedang rekreasi bersama keluarganya.
Nata munculkan seculas senyuman manisnya, ketika menatap Rara takjub. Biarkan danau ini menjadi saksi bahwa Rara tengah berbinar saat ini.
"Lo seneng banget gitu keliatannya," ujar Nata pada Rara.
Rara menunjukkan senyuman indahnya. "Emang gue seneng Nat, kok lo gak kasih tahu sih ada tempat seindah ini."
"Nanti rusak kalo gue kasih tau elo," ledek Nata dengan tawaan khasnya.
Rara tertawa membuat Nata merasa bahagia, Rara menyenggol lengan Nata sebelah kiri. "Yee, yakali Nat. Lo kira gue tikus suka ngerusak suasana!"
Nata hanya mengiyakan ucapan Rara. Cewek disebelahnya ini memang sudah membuat Nata menjadi Nata yang tegar dan selalu menunjukkan senyuman indahnya. Walau di dalam hidupnya banyak kisah pahit yang menyelimuti harinya. Tapi cewek ini, benar benar membuat Nata untuk selalu melihat pada kenyataan bahwa dibalik kepedihan seseorang akan terbalaskan dengan semua rasa cinta yang utuh dikebahagiaan. Terkadang dia ingin sekali untuk cepat menyatakan perasaannya pada Rara, gadis yang sudah ia sukai sejak pertama kali ia memandang Rara di perpustakaan sendirian sedang membaca buku. Menurut Nata, ada keistimewaan tersendiri dari Rara yang mampu membuat Nata menjadi lebih tegar dalam menjalani hidupnya yang pahit.
Nata kembali mengingat tentang kisah cintanya dengan gadis ini. Gadis ini mencintai seorang cowok yang tak lain adalah Andra sahabatnya sendiri. Begitu pedih bisa mengetahui ketika Rara sudah mencintai Andra sejak satu tahun lamanya. Dia harus tetap kuat bagaimanapun juga.
"Ra, soal Andra, lo masih serius suka sama dia?" tanya Nata dengn nada serius.
Wajah Rara yang semula mengembang indah, kini berubah masam senang. "Kenapa lo nanya gitu Nat?"
"Gapapa gue cuman pengen nanya aja."
Rara menghela nafas dalam, mempersiapkan kalimat yang hendak ia lontarkan. "Gue masih suka Nat, gue gak bisa berhenti buat suka sama dia."
"Lo mau nerima kenyataan pahit gak Ra?"
"Bahasa lo apa banget sih Nat."
Rara tertawa sejenak mendengar ucapan Nata yang tak seperti biasanya, seketika tubuhnya menegang dan dia harus bisa mempersiapkan semuanya tentang berita duka yang akan diucapkan oleh Nata. Dengan berat hati ia bertanya. "Emang kenyataan apa?"
"Andra mau nembak cewek."
"Oh."
Satu kalimat yang aneh tapu meyakinkan. Nata tahu betul jika gadis di sebelahnya ini sedang tidak baik. Sorot matanya memandang sayu ke arah danau. Nata juga bisa melihat perasaan Rara saat ini, dari wajah Rara yang putus asa seperti biasa. Ia merasa bahwa ia bodoh, kenapa harus mengatakan hal yang tak perlu ia katakan.
Begitu mendengarkan kalimat itu, rasanya hati Rara hancur berkeping keping, dadanya sesak, pikirannya entah sekarang harus bisa fokus apa tidak. Akhirnya Rara memberanikan diri untuk menyanyakan siapa orang yang hendak menjadi sasaran Andra selanjutnya. "Siapa?"
Sedikit ragu bagi Nata untuk mengucapkannya tapi ini demi kebaikan Rara sendiri. "Erika," jawab Nata mantap.
Rara tetap tersenyum walau sekarang paru parunya melemas, rasanya ia benar benar ingin lari dari kenyataan. Andra memang mencintai Erika sejak dulu, bahkan Rarapun tahu soal itu. Tapi siapa sangka bunga yang telah layu bisa bersemi lagi di hati Andra seorang. Apa salah Rara mencintai Andra. Apa salah ia mencintai orang yang harus dicintai orang lain. Kenapa Andra justru memilih orang yang pernah menyayat hati Rara hingga berdarah darah dan tak ingin menuangkan kepedihannya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Glosarium
Teen FictionCerita ini mengisahkan tentang perasaan. Memendam, menyimpan, meluapkan dan semua rasa yang ada dalam diri. Dan bagaiamana seseorang harus belajar untuk mengerti perasan orang lain yang teramat dalam baginya. 3 Maret 2017 Copyright © Arimbi Dwi