Glosarium 5

81 14 1
                                    

Bagian 1345. Kategori B

Bahagia : ..cinta, bebas,

Rara kembali menutup bukunya. Memasukkan kedalam tas yang jauh dan sempit. Ini alasan kenapa ia meletakannya disini, karena tidak ingin orang lain membacanya. Kecuali Bella dan Tiara. Dua orang itu sudah pernah membuka sebelumnya, tapi tidak seluruhnya. Dan seperti yang kita tahu, mereka berdua menatap kasihan pada Rara yang begitu mengharapkan seorang Andra yang begitu dalam.

Jam istirahat sudah dimulai, kini banyak murid yang menghambur keluar kelas menuju tempat faforit mereka. Kantin. Rara mengeluarkan botol minuman yang baru. Karena seperti yang kita tahu, botol minuman itu sudah diberikannya pada Andra kemarin.

"Lo ganti botol, Ra?" tanya Bella begitu melihat Rara mengeluarkan botol minumannya di lokernya.

Rara menoleh bingung, dia berfikir sejenak, "Eh, kemaren botol gue ilang," jelasnya.

Bella tersenyum sambil membawa ponselnya yang ia genggam. Rara melanjutkan aktivitasnya menyiapkan semua berkas untuk ke perpustakaan.

Tiara menarik tangan Bella, "Gue sama Bella ngantin dulu yak!"

Rara tersenyum, "Yoi, gue juga mau ke markas hehe."

Bella dan Tiara menjauh dari kelas, terutama dari Rara. Kemudian mencoba untuk membawa bawaanya dan segera menjauh dari kelas. Dilihatnya semua murid ke kantin untuk mengisi perut mereka yang kosong.

Rara melewati lapangan sepak bola, dan mendapati sedang ada latihan futsal. Sebentar lagi, tim futsal dari sekolahnya akan berperang untuk lomba di SMA lain. Dan tentu saja, SMA Nusantara tidak akan berhenti disini. Mereka berjuang demi mendapatkan apa yang mereka mau. Rara melihat sedang ada pengarahan dari pelatih yang terkenal di sekolahnya, Pak Candra. Guru Olahraga yang terkenal paling ambisius, dan kuat tekadnya untuk melatih olahraga. Guru seperti ini cocok untuk menjadi pelatih perlombaan. Tak jarang jika Pak Candra sering memenangkan berbagai perlombaan olahraga, sebagai pelatih. Rara mendapati Nata dan tim lainnya sedang mendapatkan pengarahan.

Tiba tiba ditolehnya Nata ke arah Rara yang sedang mengamati. Rara tertegun, Nata tersenyum menatap Rara. Rara memerah, dia cepat cepat pergi menjauh dari lapangan ke perpustakaan. Sebelum Nata tau jika Rara melihatnya. Ini alasan kenapa beberapa hari yang lalu, Rara pingsan. Pasalnya bola futsal yang keras mengenai Rara yang malang. Oleh Nata yang bertanggung jawab. Dan jam seperti ini, mereka latihan futsal.

Rara segera memasuki perpustakaan sekolah dan duduk di bangku yang sudah jadi langganannya. Semua pihak perpustakaan hafal dengan Rara. Karena tiap hari, ia yang datang kesini. Tanpa bolos. Mulai dari penjaga perpustakaan yang hamil, killer, cantik, ganteng, judes semuanya Rara hafal.

Segera diambilnya buku di rak perpustakaan yang sudah ia janjikan sebelumnya. Ia segera memulai pengamatan. Dari buku buku yang satu ke buku lainnya.

***

Rara keluar dari perpustakaan dan membawa bukunya yang tebal tebal itu. Dilihatnya, masih sama. Sekolah masih penuh dengan murid murid yang menikmati sekolah. Dan tampaknya hanya Rara yang sedang membawa buku saat ini. Rara sudah terbiasa dengan situasi seperti ini. Dimana ketika dia menjadi nerd di sekolahnya. Namanya sekolah, berita cepat tersebar luas bagaimanapun caranya. Rara berjalan lurus menyusuri koridor kelas kelas. Beberapa sorot mata sedang memperhatikan Rara, sebab kejadian kemarin. Dimana dia dan dua sahabatnya mendadak menjadi terkenal karena di datangi oleh geng populer di sekolahnya. Rara hanya menggeleng kecil sambil melanjutkan perjalanannya ke kelas. Tanpa memperhatikan semua sorot mata yang sedang menatapnya sangar. Kini Rara menyusuri ruang guru yang panjang. Tepat di depan ruang guru, Pak Candra keluar dengan wajah linglung dan khawatir. Rara berhenti sejenak, kemudian Pak Candra memberhentikan Rara yang tengah berjalan santai sambil celingukan.

GlosariumTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang