[ E i g h t ]

811 173 39
                                        

"Surprise, Bitch!"

What?

***

- Author POV's -

Splash.

Dua butir telur busuk tepat mengenai wajah Adrienne. Segerombolan lelaki dan gadis ditepi jalan terbahak melihat keberhasilan mereka.

"Lemparan yang bagus, Niall." Mereka semua ber-highfive.

"Niall?" Adrienne memejamkan matanya perlahan.

"Giliran kau, Liam." Niall menyeringai kearah Adrienne.

"Dengan senang hati, Nialler." Liam segera melempar satu pack tepung terigu kearah Adrienne berdiri.

Splash.

"Yeah! Lemparanku sangat bagus bukan?" Teriak Liam dengan penuh kemenangan.

"Jangan menangis, Adrienne."

"Haha, of course, Payno!" Zayn memberi Liam sebuah pelukan.

"Lihatlah mukanya? Sangat hancur, hey kau siburuk rupa? Masih hidup hah?" Anya, kekasih Liam mendorong bahu Adrienne pelan.

"Giliranku, mate!" Louis segera mengambil ancang-ancang dengan sebuah ember yang berisikan air got. Semuanya mundur, Adrienne masih berdiri dengan gemetar dihalamannya. Adrienne memejamkan kedua matanya dengan pasrah karna beberapa saat lagi air busuk itu akan membasahi dirinya. Satu tetes kristal jatuh dari kelopak mata Adrienne.

"One, two, three! Go!" Louis segera mengguyur Adrienne.

Adrienne masih terpejam.

"Kenapa aku tidak basah?" Batin Adrienne.

"Hey kau! Menyingkirlah dari sana, kau merusak acara kami saja." Itu suara Zayn.

"Kalian semua pengecut. Tidak malu melawan seorang gadis dengan kondisi kalian yang beramai-ramai seperti ini?"

"Suara.......Harry?" Adrienne segera membuka kedua matanya, Harry berdiri tegak didepan Adrienne. Oh, jadi dia?

Niall dan yang lainnya hanya bisa terdiam.

"Ini bukan urusanmu." Niall menatap Harry tajam dan dingin.

"Tentu saja ini urusanku, Horan. Aku menjadi pelindungnya sekarang." Harry menatap Niall kemudian bergantian menatap yang lainnya.

"Pelindung? Kau dibayar oleh Red hair berapa hah?" Niall mendekati Harry.

Gawat.

"Aku membantunya dengan ikhlas sepenuh hatiku." Harry berjalan mendekati Niall.

Caroline memutar bola matanya malas mendengar perkataan Harry barusan.

"Sekali lagi, aku ingin kau meninggalkan tempat ini. Aku ingin melanjutkan apa yang harus kulanjutkan."

"Kau siapa berani memerintahku? Aku tidak akan pergi dari sini, Horan."

Adrienne menangis, meratapi nasibnya yang sial karna bertemu dengan manusia yang tidak memiliki perasaan seperti Niall.

"Cukup. Aku tidak butuh bantuanmu, Harry." Suara parau Adrienne terdengar dibelakang sehingga Harry langsung menoleh kemudian menatapnya heran.

"Dan kau, Horan. Terima kasih banyak atas semua perlakuan baikmu selama ini kepadaku. Aku harap aku tidak dapat melihatmu lagi, esok dan seterusnya." Adrienne menatap Niall dengan tatapan yang sudah tidak dapat diartikan lagi, kacau.

"Jika kalian ingin bertengkar, jangan didepan rumahku. Pergilah." Adrienne menatap Harry sekilas lalu meninggalkan halaman rumahnya dengan gontai. Dia hampir ambruk.

Semua mata memandang punggung Adrienne yang sudah menghilang dibalik pintu. Harry merasakan hatinya benar-benar hancur mendengar Adrienne mengatakan seperti itu. Apakah dia marah? Batin Harry pelan.

"Argh! Ini belum selesai, Red hair!" Niall segera memasuki mobilnya dengan di-ikuti ketiga sahabatnya, sementara itu Caroline dan lainnya berada dimobil yang terpisah. Mereka segera melajukan mobil dengan kecepatan penuh.

Harry masih berdiri didepan pintu Adrienne, sedari tadi mengetuknya tetapi tidak ada satupun jawaban yang didapatnya.

"Adrienne, maafkan aku." Harry menyenderkan punggungnya kepintu, mengacak-acak rambutnya cepat.

"Mom, i wanna go home." Adrienne terduduk dibelakang pintu sambil terisak.


*******

Heyyaaaaaaaaa

Kasian skl y Adrienne

Maunya kalian Adrienne pindah sekolah apa ngga?wkwkk

Don't forget to vomments.

All the love, E.


Roleplayer - Nh [ Slow Update babe ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang