Annisa POV
Hari ini di ruangan ini suasana ini. Aku. Fahri. Abi dan Umi duduk dengan tegang dan terdiam mencoba memecahkan masalahku dengan Fahri
Tidak. Tidak..
Ini bukan masalahku ini hanya masalah Fahri dan wanita itu. Wanita yang datang tanpa undangan dan langsung menceritakan semuanya dan aku yang harus menanggu sakitnya..
"Aku minta maaf Ann" ujar Fahri yang berada di depanku. Beberapa bulan yang lalu Fahri duduk di tempat yang sama dengan baju yang sama tetapi tujuannya berbeda, dulu dia datang kesini untuk meng khitbahku dan sekarang dia datang kesini untuk menyelesaikan masalahnya
"Aku udah maafin" jawabku lalu terdiam. Apa yang aku bicarakan mudah untuk berkata 'aku sudah memaafkan' tetapi sulit untuk dihilangkan
"Kamu berbohong nak" ujar Abi yang berada di sebelah Fahri
"Kamu memaafkan suamimu hanya di mulut saja bukan hatinya" aku tersentak apa yang Abi katakan benar maafku hanya sekedar di mulut saja tidak di hatiku
"Maafkan suamimu dengan benar.. Dia tidak sepenuhnya salah dia hanya ingin yang terbaik di kehidupannya dan dia memilihmu kamu, seharusnya beruntung karna Fahri masih mau menjemputmu.. Pulanglah dengan suamimu nak.. Selesaikan dengan dewasa Fahri yang sekarang bertanggung jawab atasmu bukan Abimu lagi" ucapan Abi membuatku terdiam dan berusaha memikirkan jalan keluar yang terbaik untuk masalah ini
"Pulang Annisa" pinta Fahri yang berusaha membujukku untuk ikut pulang bersamanya
"Baik aku akan pulang" jawabku mantap dan berusaha menyelesaikan semuanya dengan caraku sendiri
Di rumah...
"Fahri.. Aku ingin bertemu dengan Sofie" ujarku pada saat membuka hijab yang senantiasan menutup auratku
"Apa?! Nggak aku gak bakalan antar kamu sama dia.. Udah cukup Annisa ini sudah selesai aku tidak mau membahas ini cukup" jawab Fahri dengan tekat yang bulat
"Aku mohon untuk kali ini Fahri" aku memohon kepada suamiku
"Tidak. Sebaiknya kamu istirahat ini sudah malam dan aku cape" jawab Fhari yang langsung berlalu meninggalkanku ke kamar mandi
aku menyiapkan Fahri baju untuk ia pakai solat Maghrib di mushola dekat rumah. Ya Fahri yang membeli rumah ini rumah bertingkat dua dengan desain yang modern cocok untuk keluarga sepertiku. Tapi Fahri memilih rumah yang dekat dengan masjid atau mushola katanya agar bisa dapat berjamaah dengan warga sekitar walaupun banyak yang memilih solat
dirumah
"Ann..." Panggil Fahri yang berada di dalam kamar
"Kamu nggak solat?" Tanya Fahri yang sudah bersiap untuk pergi ke mushola
"Iya ntar solat" jawab ku benar karna aku memang tidak berjamaah dengan Fahri
"Kenapa entar? Sekarang aja Ann jangan nunda nunda gak baik" uajr Fahri dan langsung menyuruhku untuk segera mengerjakan kewajibanku
"Nggak ah aku gak mau solat di mushola Fahri mau di rumah aja" jawab ku dengan polos
"Aku nggak jamaah di mushola Ann ayoo jamaah lagian bukannya siap-siap dari tadi" ujar Fahri yang ternyata tidak jamaah di mushola kompleks
"Kenapa nggak bilang?"
"Kamu nggak nanya"
"Yaudah aku siap-siap dulu" jawabku dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi dan solat
Selesai solat...
"Fahri.." Panggilku pada saat Fhari sedang sibuk dengan pacar barunya laptop
"Hmm.."
"Fahriii.." Panggilku lagi
"Hmm.."
"Fahriiiiiii" panggilku kesal
"Apa si Ann?" Panggilan yang ke tiga Fahri merespon
"Gak jadi deh.." Jawabku dengan cengiran bebas
"Gak jelas banget si kamu" ujar Fahri sambil mengelus rambutku
"Jangan iseng deh" ucapku karna Fahri sangat iseng banget abis dari rambut ke leher terus di kelitikin dehh sumpah itu geli bangettt
"Udahh sanaa kerjaa.. Oh iya kan kamu satu kantor sama Sofie terus besok gimana ketemunya?" Tanyaku kepada Fahri dan yang di tanya langsung berhentidari pekerjaannya
"Nggak tau mungkin aku yang akan keluar dari kantor itu.." Jawabnya dengan santai sambil merenggangkan ototnya
"Terus kalo nggak kerja mau ngapain? Udahlah Fahri biarin aja toh kamu bilangkan kalo itu semua udah berakhir udah selesai yaudah anggap aja nggak kenal kalo perlu jangan sampe satu tim biar nggak makin makin dianya" jawabku dengan sedikit rasa kesal
"Yaudah aku mau tidur" ujar Fahri yang langsung berbaring di sebelahku
Pagi hari...
Setelah solat subuh aku bersiap untuk pergi praktek pagi ini. Ya aku seorang dokter, lebih tepatnya dokter kandungan. Kenapa aku memilih untuk menjadi dokter kandungan? Karna aku ingin menyaksikan sendiri dan membantu para ibu di dunia ini untuk melahirkan seorang bayi yang nantinya akan membanggakan mereka, dan juga tujuan aku menjadi dokter kandungan karna menurut aku jarang dokter kandungan seorang wanita, aku tidak tau alasan yang jelas tapi aku ingin agar para ibu lebih nyaman saat melahirkan karna seorang yang membantu bersalinnya adalah seorang perempuan.
"Assalamualaikum" Fahri baru sampai dari rumah setelah ia memilih solat berjamaah di mushola
"Kamu praktek Ann?" Tanya Fahri setelah melepas baju kokonya dan berganti menjadi baju kantor
"Iya, cutti yang aku ajuin udah abis kan cuma beberapa bulan, nggak lama jugaa lagian aku kangen ketemu suster di rumah sakit" jawab dengan memberikan dia penjelasan yang masuk akal
"Kan mobilnya cuma satu. Rumah sakit sama kantor aku juga nggak searah" ujar Fahri yang sudah berada di meja makan
"Aku naik angkutan umum aja kalo gitu" jawabku santai. Memang setelah menyelesaikan kuliah aku baru di berikan mobil oleh Abi karna Abi bilang dia nggak mau putri satu-satunya mempunyai pergaulan yang bebas karna sering keluar malam
"Nggak, nggak boleh. Atau nggak kamu praktek jam berapa?" Tanya Fhari yang aku rasa mempunyai solusi untuk masalah ini
Aku melihat jam yang aku pakai di tangan kiriku " jam 10 pagi sihh.. Emang kenapa?" Aku yang kembali bertanya kepada Fahri
"Yaudah kamu ambil mobil di rumah Abi nanti dari rumah Abi langsung ke rumah sakit" kata Fahri tegas
"Aku ke rumah Abi naik apa?" Tanyaku polos
"Ya bareng aku Ann,, kamu mau naik angkot yang desek-desekan sama ibu-ibu yang pulang belanja sayuran di pasar?" Tanya Fahri yang langsung ku hadiahi gelengan
"Kamu mau makan apa?" Tanya ku pada Fagri yabg sibuk melihat di tabnya
"Roti aja" jawabnya singkat tanpa mengalihkan padangannya
"Minumnya susu atau teh?" Tanya ku lagi. Jujur aku dengan Fahri terbalik, aku sangat menyukai coffe apalagi arabian coffe sedangkan Fahri sangat menyukai susu tetapi tidak terlalu menyukai coffe
"Coffe aja" jawabnya singkat masih dengan keadaan yang sama tanpa mengalihkan pandangan dari tabnya
"Serius mau coffe? Yaudah aku bikin cappucinno kan?" Aku bertanya kepada Fahri dan agak bingung, pasalnya dia sangat jarang sarapan dengan roti dan coffe di pagi hari
Acara break fast pun selesai aku sibuk dengan semua peralatan dokter ku begitu juga Fahri dia juga sihuk dengan semua dokumennya
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Hati [REVISI]
Spiritual[WARNING!! SEBAGIAN CERITA DI PRIVATE FOLLOW ME IF YOU WANT TO SEE A FULL PART!!] Ketika cinta itu datang, aku bahagia namun kenapa harus ada cinta yang lain - Annisa Syifa A Berusaha untuk adil dan menyatukan mereka, tapi kenapa tidak bisa - Fahri...
![Cinta Dua Hati [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/44710924-64-k370125.jpg)