Sofie POV
Setelah aku melihat baby Zee aku memutuskan untuk berbicara berdua dengan Annisa
"Kamu mau ngomong apa Sof?" Tanya Annisa, jujur aku masih belajar untuk menutup rambutku dengan sehelai kain ini, kadang jika imanku sedang lemah aku membuka penutup kepala ku ini di bagian leher. Aku harus belajar banyak dengan Annisa
"Menurutmu aku harus bagaimana?" Tanyaku ambigu dia tidak tahu permasalahannya dan aku menanyai pendapatnya. Aku ini gimana??
"Maksud kamu? Menurutku kalau kamu sudah mencintai Allah dia dengan sendirinya datang kepadamu" kata Annisa meyakinkanku, beruntung sekali Fahri
"Aku tidak tahu Nis, tapi menurutku dia orang yang baik, dia peduli dengan sekelilingnya, mungkin" kataku tidak yakin
"Kamu yakin? Kamu udah sholat istikharah?" Tanya Annisa
"Sudah, bahkan hampir setiap malam" jawabku yakin
"Apa jawaban dari Allah?" Tanya Annisa. Jawaban? Allah bisa menjawab dengan berbicara? Aku baru tahu
"Memang Allah bisa langsung berbicara dengan umatnya?" Tanyaku bingung
"Hahahaha, bukan Sofie, maksudku kamu di beri mimpi atau sejenisnya yang meyakinkan hatimu?" Tanya Annisa sambil tertawa
"Kalau bermimpi? Tidak, aku tidak memimpikannya, tapi dia itu selalu ingin serius denganku, dia tidak mengajak aku berpacaran, dan dia menerima statusku. Apa itu jawaban ya Nis?" Tanyaku tidak yakin
"Mungkin. Allah selalu mempunyai cara terbaik untuk hamba-Nya yang berusaha" kata Annisa. Kata-katanya menenangkan dan aku yakin dengan pilihanku
"Sebenarnya kamu beneran udah di lamar sama dia atau belum si Sof?" Tanya Annisa penasaran
"Sebenarnya, dia akan datang besok." Kataku
"Oh iyaa, sekarang kamu tinggal dimana? Masa nanti baby Zee mau ke rumah auntynya tapi gak tau kemana" kata Annisa
"Aku tinggal di Bali sekarang Nis, maaf ya gak kasih kabar. Aku di terima kerja disana dan aku tinggal disana" kataku sambil memegang tangan Annisa
"Jauh yaa, kamu menetap disana?" Tanya nya lagi
"Ingin sih, tapi kata kamu kalo udah punya suami harus ikut suamikan?" Tanya ku dan Annisa hanya mengangguk
"Si Azzam itu jadi dokter apa di Bali?" Tanya Annisa
"Dia jadi dokter bedah kalo gak salah, tapi aku gak ngerti dokter bedah apa" kataku jujur
"Cerita dong gimana awal kamu ketemu dia" kata Annisa antusias
"Waktu itu aku ketemu dia pas lagi nge jenguk teman kerjaku di Bali, pas itu aku tabrakan sama dia di lobby utama, dan pas aku lagi nemenin temanku di ruang rawat dia datang buat kontrol temanku" kataku singkat, tapi memang itu adanya pertemuan singkat tapi membuatku berdebar ketika mengingatnya
"Terus hanya sekali kamu bertemu dengan dia?" Tanya Annisa lagi
"Gak. Pertemuan keduaku itu pas aku kena musibah, aku sakit dan waktu itu aku menganggap itu hanya sakit biasa cuma pusing dan sedikit mual jadi aku gak ada niatan untuk ke dokter. Tapi pas aku di rumah sama kakak ku, aku ngak sengaja nendang gelas kaca dan serpihannya itu masuk ke dalam pergelangan kaki aku
Aku gak kuat dan akhirnya aku di bawa ke rumah sakit. Ternyata waktu itu dia lagi jaga malam, karna posisinya memang malam hari bahkan hampir tengah malam. Pada saat serpihan kaca itu ingin di ambil aku tidak tahan menahan sakitnya, aku baru ngerasain ternyata begitu rasanya kalo benda asing masuk ke dalam tubuh kita, aku gak kuat itu sangat sakit. Mungkin pada saat itu juga badanku sedang tidak ada tenaga jadi aku pingsan. Sebelum pingsan aku marah-marah sama dia soalnya dia tuh nyebelin Nis, kan itu sakit dan dia malah jawabnya santai sambil terus melakukan operasi kecil" kataku menjeda ceritaku
"Ya Allah itu pasti sakit banget, eh emang dia jawab apa sama kamu sampe kamu marah-marah sama dia?" Tanya Annisa
"Kan aku bilang sama dia 'dok ini tuh sakit dokter gak ngerasain ya' dan kata dia 'makanya jangan nendang gelas kalo gak mau di bawa ke rumah sakit' itu kata dia dan waktu itu dia berubah menjadi dokter yang sangat nyebelin" kataku mengingat beberap bulan yang lalu
"Terus abis itu kamu kan pingsan? Emang kamu sakit apa?" Tanya Annisa penasaran
"Aku positif tifus waktu itu, dan dia yang balik marah-marah sama aku" kataku sambil tersenyum mengingat kejadian itu
"Marah-marah maksudnya?" Tanya Annisa telmi
"Iya dia bilang 'kamu itu kalo sakit ke dokter, bukannya diam di rumah sambil negarasain sakitnya, sekarang kamu positif tifus. Trombosit kamu rendah, kamu harus di opname. Dan, kaki kamu sudah membaik mungkin obat biusnya akan segera habis dan jangan cerewet kalo kamu merasakan sakit di bagian kaki kamu, jaga terus pola makan dan tidur yang teratur jangan tidur terlalu larut dan bekerja dengan keras. Otak kamu perlu di refresh biar gak cerewet lagi' itu katanya dan aku hanya bisa mendengarkan" kataku sambil terus bercerita
"Eh udah malam yaa? Aku pulang dulu ya Nis, besok kamu jangan lupa datang" kataku sambil bersiap-siap
"Kamu pulang langsung ke Bali? Emang ada pesawat jam segini?" Tanya Annisa sambil melihat jam
"Gak, aku pulang ke rumah tanteku di daerah Kebayoran Baru, dan lamarannya juga di adakan disana" kataku sambil memberikan alamat rumah
"Jangan lupa datang, aku sangat perlu kamu dan Ana besok" kataku dan berpamitan dengan Annisa dan Fahri yang baru turun
"Assalamualaikum, besok jangan lupa dan aku wajibkan kalian datang membawa baby Ana oke?!" Kataku sambil mengeluarkan kunci mobil

KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Dua Hati [REVISI]
Spirituelles[WARNING!! SEBAGIAN CERITA DI PRIVATE FOLLOW ME IF YOU WANT TO SEE A FULL PART!!] Ketika cinta itu datang, aku bahagia namun kenapa harus ada cinta yang lain - Annisa Syifa A Berusaha untuk adil dan menyatukan mereka, tapi kenapa tidak bisa - Fahri...