1 tahun sudah aku menutup hatiku, 1tahun juga Rio sudah meninggalkanku, dan 1 tahun juga belum ada yang bisa menggantikan tempat Rio di hatiku, tapi bukan berarti aku tidak merelakan kepergiannya, hanya saja aku belum berani membuka hatiku.
Selama ini juga Bams intens mengantar jemput aku, walaupun sikapku tidak berubah padanya, tetap hanya menganggapnya sebagai teman, dia pun seolah tidak pernah menyerah untuk mendapatkanku wlaupun berkali2 aku menolaknya dia tetap selalu di sisiku, Dan dia selalu menghormatiku, tidak pernah sekalipun dia berbuat kurang ajar kepadaku, malah dia sangat melindungiku, Doni pun menjadi saingan terberatnya, karena Doni juga masih mengharapkan aku menerima dia menjadi kekasihnya, tetapi aku masih pada keputusanku bahwa aku tidak mau menjalin hubungan pacaran, jika memang mereka serius mereka dapat datang kerumahku dan memintaku menjadi istrinya kepada mama, karena bagiku cintaku hanya satu, hanya untuk Rio seorang.
Sore ini seperti biasa Bams sudah siap menungguku untuk mengantarku pulang, sudah berkali-kali aku bilang padanya tidak perlu melakukan hal itu, aku tidak mau bergantung pada laki-laki, aku tidak mau orang2 berbicara di belakangku dan mempunyai persepsi bahwa kami adalah sepasang kekasih. Tapi tampaknya Bams tidak pernah memperdulikannya, dia selalu bilang hanya ingin melihat aku sampai ke rumah dengan selamat, tidak ada tujuan apapun, perjuangannya pun aku akui sangat hebat, dia pantang menyerah, walau berkali-kali aku mendiamkannya, tidak menjawab bbmnya atau bahkan berkata sinis padanya, aku berharap dia menyerah dan mencari wanita lain, karena jujur aku tidak merasakan hal apapun di dalam hatiku saat bersama dia, bahkan kenyamanan pun tidak aku dapatkan, aku hanya menganggapnya teman biasa. Tapi dia tidak menyerah, ada kalanya aku bilang padanya untuk menjauhiku dan jangan pernah menemuiku lagi, tapi tetap saja dia menunggu ku pulang kerja dan mengantarku pulang, dia hanya berkata, "anggap saja aku supir pribadi kamu, aku gak apa2 selama aku bisa lihat muka kamu setiap hari" haaahhh.... aku bingung harus bagaimana lagi.
Akhirnya suatu ketika saat dia masih setia menjemputku dia berkata "Rul, besok rencananya aku mau ke rumah kamu pagi2, mau ketemu mama kamu" aku pun meliriknya cepat, "mau apa?"
"Yah seperti yang kamu bilang, kamu mau ta'aruf kan? Makanya besok aku akan meminta ijin mama kamu untuk meminta dia menjadikanku mantunya"
DEGGGHHH!!!! Jantungku berdebar kencang, apa maksudnya? Kenapa dia jadi begini? Bagaimana ini? Aku tidak menyukainya, aku juga tidak mencintainya, haaahhh... ternyata ketika tiba waktunya aku yang tidak siap, aku yang ketakutan, apakah keputusanku salah?. Aku hanya diam tidak menjawab perkataannya, dia kembali bertanya kepada ku
"Rul...?? Bolehkan?" Aku hanya diam, aku tak berani menatap wajahnya, aku marah padanya, aku marah kenapa dia begini. Tapi... kenapa aku marah? Bukankah ini kemauanku? Dan mama juga sudah berkali-kali bertany padaku, dia pun tidak suka jika aku selalu pergi berdua dengan Bams, dia bilang kalau ingi beta'aruf kamu gak boleh ketemu tiap hari sama lelaki dan hanya berduaan, itu sama saja kamu pacaran, orang lain kan gak tahu tentang hubungan kalian, jadi yah mereka akan menganggap kalian berpacaran, karena perkataan mama itulah makanya aku pun berulangkali menolak jika Bams ingin mengantarku pulang.
"Rul, kamu marah yah?" Aku yang diam dan asik dengan lamunanku tersadar karena perkataannya, lalu aku hanya menggeleng pelan
"Jadi... boleh?"
"Yah kamu kan sudah tahu apa kata mama waktu itu, dan juga sudah tahu tujuanku dalam pernikahan, jadi yah terserah kamu aja" kataku dengan nada sedikit judes dan marah."Iya, tapi kan kata mama kamu, aku harus meminta ijin kamu dulu, jadi gimana? Boleh?" Aku yang dari tadi diam akhirnya membuka mulutku "kamu yakin Bams? Kamu kan masih muda, dan karir kamu lagi menanjak, kamu nanti menyesal loh" aku mencoba merayunya agar membatalkan niatnya, sebenarnya aku gak tega, tapi aku belum siap, aku takut.
"Nurul, sejak aku ketemu kamu, aku sudah merasa kan suatu hal yang beda di dalan sini, dan belum pernah sepanjang hidupku aku menginginkan sesuatu sampai seperti ini, belum pernah juga aku merasakan cinta yang amat besar seperti ini ke orang lain, maaf jika aku memaksakan kehendakku, tapi aku menyayangimu Rul, melebihi sayangku kepada diriku sendiri, aku rela berbuat apapun demi kamu, aku ingin menjaga kamu, apakah kamu gak bisa lihat ketulusan hati aku selama ini?" Aku hanya diam mendengarnya berbicara seperti itu.
"Kalau kamu gak suka, dan kamu berat, kamu bilang sama aku sekarang, aku siap mundur demi kamu Rul, demi kamu bahagia, aku rela" aku tetap diam, aku tak bisa menjawab apapun. Tapi aku berpikir, aku sudah kenal Bams cukup lama, dan dia tidak pernah sekalipun menyakitiku ataupun mencoba bersikap kurang ajar padaku, dia selalu menjagaku, dia juga tetap setia mengantar jemputku kemanapun aku mau, kewajibannya sebagai orang muslim pun tidak pernah dia tinggalkan, dia selalu jalankan sholat 5 waktunya, apa lagi yang kurang darinya.
"Rul... gimana?" Dia bertanya lagi, akhirnya aku hanya menjawab pelan "terserah kamu aja" dan aku kembali diam, jujur aku belum siap, aku juga tidak merasakan apapun kepadanya, tidak sedikit pun. Tapi aku pasrah, jika memang ini jalan Tuhan aku siap menerimanya, seperti kata cici aku harus siap dengan konsekuensinya.
Akhirnya kami sampai di depan rumahku, aku pun meminta Bams untuk segera pulang tanpa harus turun, aku ingin sendiri saat ini, aku pun memintanya agar menjauhiku dulu selama seminggu, sampai nanti saat keluarganya datang untuk melamarku, aku ingin menyendiri terlebih dahulu, dan besok jika dia mau bertemu dengan mamaku aku tak melarangnya, hanya jangan sama aku kalau mau bertemu sama mama, terserahlah dia mau bicara apa sama mama, toh akhirny keputusannya sama.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menikah Tanpa Cinta
عاطفيةSetiap pernikahan di dasari atas dasar cinta dan sayang, mengandalkan perasaan kedua orang yang disatukan dalam ikatan suci. Tapi aku....... Semenjak merasakan apa yang namanya sakit mencinta, aku tak mau lagi terhanyut dalam perasaan itu, akhirnya...