Genre: Fantasy, Songfict.
Song: Call My Name - YUCCA.
A rift in the night at the hill where we pledged to meet
Kissing the flower petals that fall in the moonlight
Dua puluh satu hari ....
Semilir angin menyusuri retak malam, membawa dingin yang merasuk hingga tulang. Semilir angin menari, berlalu tanpa salam, menyisa sepi dalam kelam.
Aku menunggunya.
Seseorang yang entah berasal dari mana ... mungkin dunia yang berbeda. Seorang manusia yang kuanggap berharga, bahkan lebih dari sebuah nyawa.
Aku menunggunya.
Bukit tempat kami berjanji akan bertemu. Aku menantinya dalam jemu, meski sadar benar bahwa keberadaanku hanyalah sesuatu yang semu.
Aku tetap menunggunya.
Di bawah kelopak bunga yang menari terbawa angin malam. Di antara aroma manis yang jatuh di bawah sinar bulan. Bunga persik yang bermekaran menjadi saksi betapa aku setia menanti.
A mysterious land and the key that lures you away
Until you let go of it−−you, little girl, will remain a child
"Lama menunggu?"
Suaranya menyentakku dari lamunan. Aku mengangkat pandanganku, lantas mendapati sosok yang kutunggu berdiri di hadapanku. Seulas senyum tergaris manis di bibirnya, membuatku turut menarik garis yang sama.
"Tidak juga. Aku suka menunggumu di sini," sahutku seadanya, apa adanya.
Memang, selain hal itu ... tak ada lagi yang dapat kulakukan di sini. Dalam ruang khayal ini.
"Maaf, akhir-akhir ini aku mengalami kesulitan tidur. Masalah ini dan itu membuatku terus berpikir hingga menutup mata pun jadi sulit," keluhnya. "Aku lega bisa bertemu denganmu lagi."
"Hidupmu di dunia nyata sepertinya berat sekali ya?"
Dia mendengus. "Aku tidak ingin membicarakannya, setidaknya saat ini ... biarkan aku lupa akan apa yang sudah terjadi. Aku lelah.
"Aku sungguh berharap aku tak pernah keluar dari mimpi ini ...." Sorot dingin nan sayu merayapi wajahnya.
Ahh, apa kau bertanya-tanya siapa aku? Atau ... siapa dia? Di mana kami?
Well, kau akan mengerti pelan-pelan. Biar kujelaskan sedikit yang mungkin perlu kaupahami.
Aku hanyalah bagian dari ilusi yang diciptakan gadis ini. Bagian dari dunia ideal yang ia coba ciptakan untuk melindungi ... atau mungkin sekadar menghibur dirinya dari dunia nyata yang kejam.
Lucid dream.
Kau pasti tahu arti istilah itu, bukan? Keadaan di mana kau sadar bahwa kau tengah bermimpi.
Dan aku hanyalah bagian dari hal konyol itu.
"Walau bagaimanapun, ini bukanlah tempatmu. Kau boleh datang kapan saja, aku akan selalu ada di sini menunggumu, tapi kau harus tetap pulang," jawabku menanggapi gumamannya, lantas membuatnya tersenyum miris.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antologi Cerpen Cherry
RandomKadang, sebaris kata dapat membuat hatimu hangat, atau mungkin membeku. Membuatmu mencinta, atau mungkin membenci. Benar? Aku menaruh racun dalam kata-kata. Niat jahat yang menyebar seketika, terjalin rapi dalam rangkaian kalimat sederhana. Secara d...
