Henry baru saja diterima masuk di sebuah sekolah yang ada di kota tempatnya tinggal kini. Ya, kini untuk kesekian kalinya, dia kembali harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Pekerjaan ayahnya yang mengharuskannya berpindah-pindah membuatnya terpaksa mengikut saja walaupun sebenarnya, dia membenci hal ini.
Dia benci beradaptasi, dia benci harus menemukan teman-teman lalu meninggalkan mereka lalu dilupakan, dan kini dia bertekad untuk tidak berteman ataupun mendekat dengan siapapun. Cukup sendirian, dan dia tidak perlu lagi merasakan sedihnya perpisahan jika saja suatu saat nanti dia harus pergi meninggalkan kota ini.
Pemuda itu melangkah santai memasuki gerbang sekolah yang begitu besar. Dia sedikit tercengang melihat gedung sangat besar yang ada didalamnya. Dan ditempat seluas ini, menemukan ruang guru tentu bukanlah hal yang mudah.
Langkah Henry terhenti ketika seorang anak perempuan tiba-tiba dengan cepat mensejajari langkahnya, lantas melewatinya begitu saja. Membut Henry tercengang sesaat di tempatnya berdiri.
Namun, yang membuatnya tercengang adalah penampilan gadis itu. Ahh, bukan, bukan, ini tidak seperti kisah dalam FTV ataupun sinetron di mana tokoh utama jatuh cinta pada pandangan pertama kepada sosok menawan yang melintasinya.
Itu konyol, oke?
Henry tercengang karena penampilan aneh gadis itu. Dengan jaket tebal, sarung tangan, syal, masker, lengkap dengan topi yang kesemuaannya berwarna putih. Membuatnya terlihat seperti Olaf di dunia nyata. Hanya saja, kepalanya tidak bisa lepas dari tempatnya.-__-
Percayalah, cerita ini akan berubah menjadi kisah horror dalam sekejap jika sampai hal itu benar terjadi.
Hey, apa gadis ini manusia kutub yang tersesat? Bagaimana bisa dia betah menggunakan pakaian semacam itu, padahal ini negara tropis. Apa dia gila?
Henry sibuk berargumen dalam pikirannya, tapi, tampaknya ia tak punya pilihan yang lebih baik. Ia tentu lebih memilih untuk bertanya pada gadis itu dibanding berputar-putar di bangunan sekolah ini dan berakhir menjadi seperti tokoh Alice in Wonderland yang tersesat di dunia antah berantah.
Oke, itu berlebihan.
"Hey, tunggu!" panggil Henry, membuat gadis itu menoleh. "Apa kau tahu di mana ruang guru?" tanyanya sopan.
"Maaf, aku buru-buru," jawab gadis itu cepat, lantas berlalu meninggalkan Henry yang semakin tercengang seperti orang bodoh di tempatnya berdiri.
Henry melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 6.25, masih terlalu pagi, bahkan matahari belum benar-benar menunjukkan sinarnya. Lantas mengapa gadis itu begitu terburu-buru?
"Cih! Sombong sekali?" decihnya kesal, kemudian kembali melangkahkan kakinya.Berharap nantinya ia bertemu dengan orang yang lebih ramah dan lebih 'normal' yang bisa ia tanyai.
#
Kelas bertanda 12B itu mendadak riuh ketika seorang guru masuk diikuti seorang anak laki-laki yang tampak asing bagi mereka. Mereka baru tenang ketika sang guru menatap mereka dengan pandangan menegur.
"Namanya Henry. Mulai hari ini dia akan menjadi teman sekelas kalian, jadi baik-baiklah padanya," ujar guru itu memperkenalkan Henry pada kelas barunya.
"Kamu bisa duduk di sana," lanjutnya menunjuk salah satu kursi kosong yang terletak di baris paling belakang. Tanpa banyak omong, Henry melangkah menuju kursinya diikuti tatapan penasaran seisi penghuni kelas.
"Guru matematika kalian sedang ada keperluan saat ini," suara guru di depan membuat para siswa kembali menatapnya.
"Kerjakan latihan soal halaman 83, dan jangan berisik," pesannya sebelum berlalu meninggalkan ruang kelas itu. Dan seketika setelah sang guru berlalu, suasana kelas menjadi lebih ricuh dari sebelumnya dikarenakan sorakan-sorakan bahagia para penghuni kelas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antologi Cerpen Cherry
RandomKadang, sebaris kata dapat membuat hatimu hangat, atau mungkin membeku. Membuatmu mencinta, atau mungkin membenci. Benar? Aku menaruh racun dalam kata-kata. Niat jahat yang menyebar seketika, terjalin rapi dalam rangkaian kalimat sederhana. Secara d...
