Genre: Poetry.
Disclaimer: Poem by Sapardi Djoko Damono.
"Maaf, tapi kurasa kita tidak bisa terus seperti ini. Kau tidak perlu merasa bersalah atas apa pun karena segalanya memang jelas berasal dariku.
"Kau boleh pergi jika kau mau."
Sederet kata yang kudengar darinya saat itu membuat jatungku seolah dihujam ratusan jarum.
Sakit.
Sakit sekali ketika kalimat itu menembus pendengaranku, seketika menohok tepat di hatiku.
Terlebih, ia mengatakan hal itu tanpa ekspresi yang berarti di wajahnya yang dingin.
"Aku ... tidak mau," jawabku padanya, berusaha menahan sesak serta air mata yang bisa jatuh kapan saja.
Mungkin hal ini akan membuatku telihat sangat memalukan, namun apa peduliku?
Aku hanya ingin berada di sisinya, apakah itu hal yang salah?
Aku punya hati dan aku punya ego. Jika aku menjadi egois karena aku ingin mengikuti yang hatiku katakan....
Apakah itu sebuah dosa?
"Aku tidak ingin putus denganmu!" Kuulangi kalimatku dengan nada yang lebih tegas, namun tampaknya hal itu masih tak dapat mengubah air mukanya yang terus membuatku merasa disudutkan.
Pemuda di hadapanku lantas menghela napas.
"Kalau begitu aku yang akan pergi."
Dan ia berlalu begitu saja dari hadapanku setelah berkata demikian.
Menyisakanku yang kini ... bahkan tak sanggup berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Membuatku merosot merasai dinginnya lantai lorong yang lenggang itu dengan tangis yang tak dapat kutahan lagi.
#
Ting. Tong.
Aku sedikit menggigit bibir ketika telunjukku menekan bel apartemen yang sudah sangat aku kenali. Ahh, tak pernah kubayangkan akan segugup ini hanya karena mendatangi tempat yang bagiku sudah seperti rumah sendiri ... meski aku sama sekali tak pernah menginap di dalamnya, sih.
Aku terkesiap. Jantungku nyaris melompat ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
"Ya? Ada perlu apa-"
Kalimat itu terputus ketika obsidian milik sosok yang membuka pintu-pemilik apartemen itu-bertemu mata denganku.
"Mau apa lagi kau kemari?"
Dan tatapan itu seketika menjadi dingin dan menusuk.
Coba mengabaikan aura mengintimidasi yang mulai menyerangku, tanpa dipersilakan aku berlalu darinya melewati pintu, memasuki apartemen berukuran sedang itu seolah tak pernah terjadi apa pun.
"Hei! Kaupikir apa yang kaulakukan?!" Suara pemuda itu terdengar meninggi karena aksiku. Namun sekali lagi, aku mencoba untuk tak peduli.
"Kau belum makan, bukan? Aku ke sini memasak makan malam untukmu lalu segera pulang," sahutku dengan nada yang sengaja dibuat santai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antologi Cerpen Cherry
SonstigesKadang, sebaris kata dapat membuat hatimu hangat, atau mungkin membeku. Membuatmu mencinta, atau mungkin membenci. Benar? Aku menaruh racun dalam kata-kata. Niat jahat yang menyebar seketika, terjalin rapi dalam rangkaian kalimat sederhana. Secara d...
