Fantaisie

2.7K 190 37
                                        

Musik adalah “bahasa” yang dapat dipahami oleh semua orang.

Itu yang mereka katakan.

Kau dapat memahami bahasa itu meski kau tak tahu apa maknanya.

Sebab kau tak perlu mengerti.

Kau hanya perlu merasai.

Itu yang mereka katakan.

….

Omong kosong!

“Fantaisie Impromptu, ya?”

Sebuah suara membuat jemari yang semula bergerak dengan lincah di atas tuts menghentikan tariannya. Sosok di belakang piano itu menoleh ke sumber suara, demi mendapati seorang pemuda yang berdiri dengan cengiran lima jari di ambang pintu.

Menghela napas, sosok pemuda lain di belakang piano itu kembali memosisikan dirinya seperti semula.

Seolah angin lalu.

Seakan seseorang yang baru saja menyapanya itu tak pernah ada.

Ahh … bukan.

Dia memang tak seharusnya ada.

“Hei?”

Ia masih tak menggubris. Tangannya terulur meraih partitur di depan mata, membolak-balik halamannya, lantas jemari itu kembali menggelitik balok hitam dan putih seolah mencumbu.

Lincah dan penuh perhitungan, namun—

“Kau mengabaikanku lagi!”

—permainannya kembali terinterupsi tatkala sosok lain yang entah sejak kapan telah berdiri tepat di sebelahnya memukul tuts dengan kasar, coba menarik atensi sosok yang masih setia dengan sikap tak acuhnya.

Mendengus, akhirnya ia kembali menoleh.

Bersikap apatis takkan membuatnya menang, dan ia tahu benar soal itu.

“Apa maumu?”

Dan itu kata yang selalu keluar setiap kali ia mulai berbicara pada pemuda itu, sosok entah siapa—dan entah apa—yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya beberapa hari ini. membuntutinya seperti hantu.

Atau dia memang hantu?

Sejujurnya ia tak begitu peduli … jika saja sosok itu tak memiliki rupa yang persis seperti dirinya.

Ya, persis sama seperti dirinya.

Hanya dengan sifat yang tampaknya berkebalikan 180 derajat.

Dan lucunya, sosok itu hanya akan muncul ketika ia bermain di belakang piano.

Doppleganger, kah?

Ia pernah mendengar bahwa jika seseorang bertemu dengan doppleganger-nya, maka orang itu akan segera menemui kematian dalam waktu dekat.

Well, bukan berarti ia peduli.

Mati sekarang atau nanti, tak ada beda baginya. Mungkin justru lebih cepat lebih baik, toh tak ada yang bisa ia lakukan di tempat ini. Ia tak pernah tahu jika menunggu kematian akan menjadi semembosankan ini.

“Kau tentu tahu jika permainanmu sangat bagus, tapi aku merasa hampa. Lagu yang kaumainkan hanyalah sederet nada tanpa emosi, dan itu saangat membosankan~,” celoteh sosok serupa dirinya itu, lagaknya terlihat santai dengan sepasang siku yang terlipat di belakang kepala.

“Lantas apa pedulimu?” balas pemuda yang meyakini bahwa dirinya adalah sosok ‘yang asli’ itu tanpa emosi yang berarti.

“Tidakkah kauingin menyampaikan sesuatu lewat musikmu? Semua orang bilang, musik adalah bahasa yang dapat dipahami oleh siapa saja, tidakkah kauingin memanfaatkan itu untuk menyuarakan hatimu?”

Antologi Cerpen CherryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang