Genre: Mystery.
Dia akan menemanimu...
Dengan melodi yang akan membuatmu terjebak dalam mimpi buruk.
Selamanya...
Dark Lullaby.
Gadis itu duduk di pojok belakang kelas, menyendiri dalam kesunyiannya, di dalam dunianya. Mengacuhkan hingar-bingar kelas yang kebetulan sedang kosong siang itu.
Ia mengangkat pandangannya, beralih menatap seisi kelas dengan tatapan bosan.
Tampak para siswa lainnya berkumpul membentuk kelompok-kelompok yang tentu saja berisikan teman-teman dekat mereka masing-masing.
Beberapa siswa yang rajin tampak tengah membahas materi yang seharusnya mereka pelajari hari itu. Sementara yang lain, ada yang sedang mengunyah cemilan, ada yang tengah sibuk mengobrol dari topik yang penting sampai yang tidak penting, ada pula yang sekedar berdiam di bangku masing-masing sembari menyumpal telinga dengan headset dan tertidur.
Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, tanpa sedikitpun melirik pada seseorang yang sedari tadi mengamati mereka dari sudut ruangan.
Namanya Lizzie, sekilas jika kau amati, tak ada yang kurang dari dirinya. Dia cantik, keluarganya kaya dan lagi, dia cerdas.
Hanya saja, dia selalu sendirian.
Sang nona sempurna yang selalu kesepian.
Namun, bukan orang-orang di sekitarnya yang tak pernah mengajaknya bicara, tapi dialah yang kerap menarik diri dari sekitarnya.
Mungkin dia hanya terlalu tertutup, atau mungkin ia memang membenci orang-orang?
Entahlah, hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Menghela nafas, tampaknya ia mulai bosan dengan pengamatannya. Lizzie berdiri dari kursinya dan melangkah kearah pintu kelas.
"Loh, Lizzie? Mau kemana?" tegur seseorang yang tak sengaja berpapasan di depan kelas.
Lizzie menoleh, menatap sosok yang bicara padanya itu, lantas menyunggingkan segaris senyum tipis.
"Tidak ada." dan jawaban dingin itu keluar dari mulutnya.
"Perlu kutemani?" tanya gadis itu lagi. Lizzie hanya kembali tersenyum dingin.
"Terima kasih." jawabnya ambigu.
Tanpa bicara lagi, ia melangkah meninggalkan gadis itu yang kini hanya bisa menatapnya maklum.
Gadis yang tadi menyapanya adalah Serena, sang ketua kelas. Satu-satunya orang di kelas yang masih selalu bicara padanya meskipun kerap ia abaikan. Sementara teman sekelasnya yang lain kebanyakan memilih untuk menghindarinya.
Lizzie melangkah tanpa jelas tujuan, sampai akhirnya ia berdiri di depan sebuah kelas berpapan ruang musik 3. Ia mencoba menengok ke dalam dan ternyata kelas itu kosong. Jadi ia memutuskan untuk masuk dan diam di sana sejenak.
Lizzie melirik sebuah piano yang terletak di salah satu sudut ruangan. Ia suka piano. Ia menyukai melodi yang keluar dari benda itu ketika jemarinya bermain di atasnya.
Suara piano mampu menenangkan hatinya, setidaknya menepis sedikit rasa kesepian dalam dirinya yang secara sadar selalu ia pungkiri.
Ya, ia harus mengakuinya. Dirinya memang kesepian.
Namun entah mengapa ia tak pernah bisa membaur dengan lingkungan sekitarnya. Bukan karena mereka yang menjauhinya, bukan pula karena dirinya yang membenci orang-orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antologi Cerpen Cherry
De TodoKadang, sebaris kata dapat membuat hatimu hangat, atau mungkin membeku. Membuatmu mencinta, atau mungkin membenci. Benar? Aku menaruh racun dalam kata-kata. Niat jahat yang menyebar seketika, terjalin rapi dalam rangkaian kalimat sederhana. Secara d...
