Bonus Part I - She's Kinda Hot

1.1K 103 96
                                        


"Woy, Abe." Victor yang kini sedang berada di ruang ganti olah raga menoel-noel lengan sahabatnya, Abe yang sedang sibuk melepaskan celana olah raganya untuk berganti celana seragam.

"Hm," sahut Abe malas, sama sekali tak menoleh ke arah Vic.

"Tante gue kemarin ke rumah, sama suaminya." Vic bukannya segera mengganti bajunya dengan baju seragam malah duduk di bangku dan memulai dongengnya.

"Tante siapa? Kendall Jenner?"

"Yoi man. Sama uncle Harry. Gila, tante Kendall tambah hot sekarang."

Abe tak peduli dengan ocehan Vic.

"Dan lo tau, anak mereka, Diana ngeselinnya minta ampun. Kaya Sarah Irwin gitu modelnya. Dia ngatain gue tiap malem minggu melongo, kaya orang dongo, alias homo, padahal gue cuma seorang jomblo!" Vic kini bercerita ala rapp style yang diwariskan dari daddy nya. Tyga.

Abe memasang wajah datar ketika akhirnya ia menolehkan wajahnya menatap tingkah Victor.

"Udah macem Wiz Khalifa aja lu."

"EMINEM dong! EMINEM! Masa Wiz Khalifa?!" protes sahabatnya.

"Tyga aja deh Tyga."

"Empat aja gimana?" tawar Victor.

"Mati aja lu anjing."

Pembicaraan mereka terinterupsi oleh Nick yang tiba-tiba saja menutup paksa loker Abe hingga menimbulkan suara bantingan yang keras dan mengagetkan. "Hay, homo." Sapanya dengan seringaian angkuh.

"Hay juga banci." Sahut Abe acuh.

Vic yang mendengar balasan Abe untuk Nick langsung tertawa terbahak, ia tidak bisa menyembunyikan suara tawanya yang menggelegar dan sulit untuk dihentikan.

"Bangsat." Umpat Nick tidak terima. Di belakangnya sudah ada dua pengawalnya yang setia berjaga-jaga kalau Abe akan menyerang dan Victor membantunya.

Abe mendengus lesu. "Denger ya Nick, gue gak mau cari ribut jadi sekarang mendingan lo minggir," suruhnya dengan nada menusuk.

"Kita belum selesai Clifford, lo pikir gara-gara siapa gue discors dan dihukum bokap buat ngepel rumah selama seminggu?" Nick mendorong dada Abe keras hingga bocah berumur 13 tahun itu mundur ke belakang dan jatuh menimpa Victor yang menahan tubuhnya.

Abe menggeram, ia ingin sekali membalas Nick dan memberi pelajaran pada anak super angkuh di depannya agar berhenti mencari masalah dengannya. Karena memang, kerjaan Nick akhir-akhir ini adalah menyulut emosi anak sulung keluarga Clifford tersebut.

"Apa? Berani lo sama gue?" tantang Nick.

Ketika Abe mengepalkan tangan kanannya dan mencoba mendaratkan kepalan itu ke wajah Nick. Ia ingat sesuatu, kata-kata Luke yang terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Tentang masa lalu Luke, Michael, Calum dan Ashton dulu.

"They say we're losers and we're alright with that."

Abe menghentikan aksinya, ia segera keluar dari ruang ganti walau dengan seragam yang belum dikancingkan dan celana seragam yang masih melekat.

"Woy Abe anjing malah kabur tungguin gua woy!" Victor yang terjebak di kandang singa langsung melayangkan tanda hormat di depan Nick dengan senyuman lebar dan kemudian berlari keluar menyusul sahabatnya.

Kedua sahabat itu kini lari menuju ke ruang ganti perempuan dan masuk ke dalam sana. Entah sengaja atau tidak.

"Goblok." Victor mendesis takut.

"Iya gue." Abe di sampingnya, yang masih menempelkan punggungnya ke pintu dengan nafas yang terengah-engah hanya menyahut seadanya.

Karena di dalam pikirannya, kabur dari Nick dan bersembunyi disini pasti tidak akan tertangkap, Nick tidak akan bisa mengejarnya dan bisa dipastikan putra dari gitaris band yang dulu pernah digawangi mamanya tersebut tidak akan mengambil resiko dihukum dan diskors lagi hanya gara-gara menyelundup ke ruang ganti perempuan.

Memegang resiko dihukum karena berada di dalam ruangan itu adalah keputusan Abe yang ia ambil untuk menghindari perkelahian dengan Nick yang akan menghancurkan wajah mulusnya dan membuat mamanya kecewa.

Abe menenggak ludah sulit sambil mengancingkan kancing seragamnya, ia berjalan pelan menelusuri ruangan itu lebih dalam.

"Mantab jiwa..." Mata Abe terbelalak, mulutnya menganga lebar, ia merasakan sesuatu di bawah sana mulai mengeras, dan reflek lelaki itu memegangi kemaluannya.

Vic yang ada di belakangnya juga memasang ekspresi yang sama, tapi tidak sehebat reaksi Abe yang sampai mengeras segala. "Bangsat, peler lo anjing." Bisik Vic pada sahabatnya sepelan mungkin.

"Jangan dilihat babi!" balas Abe menyikut Vic agar menjauh darinya. Masih melindungi kemaluannya yang mengeras.

"Lu bukannya belum mimpi basah? Udah ngaceng aja lu." Ejek Vic, karena bocah berkulit hitam itu memang sangat mengerti kalau Abe belum memasuki masa kedewasaannya.

"Ya tapi kan.. aduh malah makin keras lagi punya gue.." Abe mulai panik. Vic yang sekuat tenaga menahan tawanya akhirnya gagal.

Suara 'pfffft' keluar dari mulutnya yang berusaha ia tutup. Membuat sosok di depan mereka, yang membuat Abe mengeras langsung menoleh ke arah keduanya.

"VIC?! ABE?! NGAPAIN KALIAN DISINI BANGSAT!!!!!"

Dan berikutnya, Abe serta Victor masuk UKS.

_________________

"Kamu diskors lagi?" tanya Chrissy, sang mama yang sedang mengobati lebam di wajah Abe. Anak itu hanya mengangguk lemah sambil mendesis merasakan sakit di sudut bibirnya yang sobek.

Chrissy menggeleng pelan. Ia keheranan karena lama-kelamaan tingkah anaknya makin mirip dengan papanya. "Kok bisa babak belur begini? Kamu berkelahi sama Nick lagi?"

Abe menggeleng.

"Kakak kalah ya? Kakak payah ih." Anak bungsunya ikut menyahut, Mandy yang dari tadi menyaksikan wajah kakaknya babak belur tak berbentuk—memasang wajah mengejeknya.

"Sialan lu," balas Abe yang mencoba menjitak kepala sang adik.

Namun dengan lincah Mandy berlari menghindar dan menghambur ke pelukan papanya yang sedang duduk manis makan pizza di depan tv membaca surat scorsing yang diberikan Abe tadi padanya.

Tawa menggelegar papanya memenuhi ruang tamu. "Ini baru namanya anak papa!" puji Michael pada anaknya, lalu meremas surat scorsing tersebut dan melemparnya ke tempat sampah.

"Kenapa pa?" tanya Mandy yang kini ada di dalam rangkulannya.

Michael tersenyum menatap Mandy dan mengacak-acak rambut bocah blonde itu. Kemudian beralih pada Abe dan Chrissy.

"Kamu ngintip anaknya Luke ya? Gimana? Gede apa kecil?"

Dan berikutnya, pipi Michael memerah panas karena tamparan sang istri.



The End of Bonus Part I

Safety Pin [Cliffostanza]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang