COMA

266 21 21
                                        

Team BROWN
Sal_faa
nona_maya

Dia dengan licah memainkan setiap tuts piano yang berada di hadapannya sehingga mencipatakan melodi yang indah. Suara pianopun bergema hingga ke setiap penjuru ruangan hampa dimana ia berada. Kertas-kertas bergambar not balok berserakan di atas lantai.

Disana hanya ada dia. Itulah yang dia rasakan.

Tepat di atasnya ada sebuah jendela besar yang tinggi hampir menyamai langit. Sangaaattt tingggiiii.

Ia terjebak di dalam sana.

Dia semakin menyelami permainannya. Lebih dalam dan lebih dalam. Namun, semua harus berakhir karena terusik dengan suara berisik dari atas. Jendela besar itu.

Jarinya berhenti bergerak lalu ia menatap jendela besar yang bergetar. Fokusnya sekarang pada jendela besar diatasnnya.

Semakim lama semakin bergetar hebat hingga menimbulkan bunyi yang nyaring.

Braaakk!!

Jendela itu terbuka lalu disusul jatuhnya seseorang. Ia cepat-cepat berdiri lalu dengan sigap menangkap tubuh mungil milik seorang gadis.

Tubuh mungil gadis itu mendarat sempurna di lengannya. Ia menghela nafas lega karena gadis itu tidak terluka. Untung saja.

Mata gadis yang tadinya terpejam secara perlahan mulai terbuka. Matanya berwarna hitam legam sedangkan rambutnya berwarna cokelat tua. Ia teringat seseorang. Tapi siapa?

"Bisakah kamu menurunkanku?" sadar sang gadis merasa risih karena ia perhatikan, ia langsung menghentikan kegiatan memperhatikannya dan menuruti keinginan gadis itu.

Ia mendudukan gadis itu di kursi piano sedangkan ia berdiri di hadapan gadis itu. Gadis itu menunduk lalu beberapa menit kemudia gadis itu menatapnya.

"Kau ... aneh." Gumam gadis itu. "Kamu seperti alien ... hanya saja kamu lebih tinggi, memakai dasi kupu-kupu berwarna putih, matamu bulat dan ... kulitmu berwarna hitam."

Ia hanya diam lalu ia menatap tangannya. Ia juga bertanya kenapa wujudnya seperti ini? Aneh memang.

"Maaf, aku tidak bermaksud menghinamu." Ia menggelengkan kepalanya. "Aku Alice. Siapa namamu?" Ia hanya diam tak menjawab. Karena ia tau jika ia tak bisa mengeluarkan suara. Ingin sekali ia menjawab pertanyaan Alice.

Alice sedikit memiringkan kepalanya. "Kamu tidak menjawab. Boleh jika aku memanggilmu Black?? Hanya itu yang terlintas dipikiranku." Ia hanya diam menatap Alice. "Aku tau itu aneh. Jadi boleh, kan? "

Ia--maksudku Black menganggukkan kepalanya. Lalu Alice menundukkan kepalanya. Beberapa saat hening akhirnya Alice membuka suara.

"Aku tidak tau bagaimana aku jatuh. Sebenarnya dimana aku? Bagaimana bisa aku jatuh disini? Sebelum aku jatuh dari sini dimana aku? Dan kenapa aku jatuh disini?" Black hanya diam dan Alice tetap berbicara. "Bagaimana caranya aku bisa kembali?"

Membantu. Black akan membantu Alice. Black mengulurkan tangannya. Alice menatap tangan Black yang menggantung.

Alice mengangkat tangannya ingin menerima uluran tangan Black. Pertama ia ragu dan sedikit menarik tangannya. Alice menatap mata Black.

Tenang saja, aku akan membantumu.

Detik kemudian Alice menggenggam tangan Black yang menggantung.

***

Alice memandang gerbang besar dengan akar-akar panjang berduri yang melilit gerbang itu. "Gerbang apa ini?"

Alice mengalihkan pandangannya ke Black. "Apa kamu tau?" Black menjawabnya dengan gelengan. 

Writer's Color 1 First EventCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang