Team PEACH
Tika_Atika
Abu-abu warna yang terlahir dari putih dan hitam. Putih yang berarti kesucian, dan hitam yang berarti kehancuran. Namun saat kedua kata bertolak belakang itu di gabungkan, kebahagiaan yang sesungguhnya akan tercipta dengan begitu apik hingga meninggalkan akhir yang bahagia. Sebab Tuhan melahirkan segala sesuatu dengan bentuk yang saling bertolak belakang dengan tujuan menyempurnakan ciptaaannya agar senantiasa menyadari jika di dunia ini tidak ada yang sempurna selain diri-Nya.
Hari itu, langit nampak marah dengan berupaya mengumpulkan awan hitam yang siap untuk menurunkan hujan badai. Marah sebab manusia telah menghianatinya dengan tak pernah sekalipun peduli dengan sesamanya, saling memberontak mencari kebahagiaan duniawi dengan segala cara buruk yang sangat jelas ia lihat. Bukan hanya langit, bahkan Tuhan sang pemilik alam hanya dapat terdiam melihat semua keburukan manusia di dunia.
Lantas, apakah Tuhan hanya akan diam selama ini? jawabannya adalah Tuhan akan melakukan suatu hal di waktu yang tepat. Dan saat itu terjadi, maka binasalah para manusia yang tak bertaqwa.
Clara Canesteen, seorang gadis pendiam yang akhir-akhir ini menjadi bahan pembicaraan sekolah akibat tindakannya yang aneh. Rossa teman perempuannya dengan sengaja ingin mengambil buku catatan Clara di dalam tas dan betapa terkejutnya gadis tersebut ketika menemukan Clara yang telah berada di belakangnya dengan tangan kanannya yang sudah siap melayangkan tamparan keras. Tidak seperti sebelumnya, gadis itu biasanya hanya akan diam saja mau di perlakukan mau bagaimanapun.
Bukan hanya itu, Clara menjadi sangat posesif dengan mencoba menjauhi semua lelaki terkecuali kakak angkatnya Luis dan Austin teman masa kecil yang sangat ia cintai.
Setelah sekian lama berpisah dengan Austin, Clara merasa sangat senang saat dapat bertemu dengan lelaki itu lagi. Namun kebencian Austin pada Clara di masa lalu ternyata tak dapat menghilang hingga saat ini. Clara memang merasa sangat sakit ketika Austin slalu menolak keberadaannya, tetapi gadis itu tidak pernah berwajah sedih di depan Austin.
Mau lelaki itu menolaknya atau pun mengusirnya pergi, Clara akan slalu ada untuk Austin dengan wajah girang tanpa dosa. Sebab gadis itu tau, hanya Austin-lah yang dapat membantu hidupnya saat ini.
"oh.. jadi kau yang bernama Austin" ucap Luis ketika ia secara tak sengaja bertemu dengan Austin di persimpangan lorong kelas yang temaram akibat cahaya matahari yang mulai redup karna tertutup awan. Austin menaikkan satu alis ketika ia sama sekali tak mengenali siapa lelaki yang tengah mengajaknya berbicara itu, "aku kakaknya Clara. Ku lihat, dia sepertinya sangat menyukaimu" jelas Luis ketika mengetahui kebingungan Austin.
Austin yang mendengarnya pun melebarkan mata, terkejut sebab yang lelaki itu tau Clara hanya hidup sendiri di dunia ini sejak kecil. Dan mendengar penjelasan Luis yang menyebutkan bahwa dirinya adalah kakak dari Clara, jelaslah bahwa dia pasti hanyalah kakak angkat.
"bukan urusanku" jawab Austin datar dengan melengos pergi melewati Luis yang tersenyum miring. "mendengar bahwa kau adalah teman masa kecilnya, mungkin gadis itu akan berfikir jika kaulah satu-satunya penolong untuknya. Tetapi saat mendengar bahwa kau membencinya, ku fikir itu hanyalah sebuah harapan" jelas Luis dengan penuh tanda tanya lalu beranjak pergi meninggalkan Austin yang terdiam di tempat.
Lelaki itu membalikkan tubuh untuk menatap punggung Luis yang berjalan santai di lorong, mengernyitkan dahi untuk berfikir lebih rinci mengenai maksud dari penjelasan Luis beberapa detik yang lalu. Penolong? Harapan?Clara?
Austin melebarkan mata lalu berlari cepat berniat mencari Clara.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
Writer's Color 1 First Event
RandomKumpulan karya dari anak-anak Writer's Color 1 ● First event ● Genre Random √ COMPLETED
