Team MAROON
brilliantiirza
KADachune26
Aku Maroon. Nama asliku Maria Moore, tapi semua ID-ku bernama Maroon. Aku suka maroon. Aku suka merah. Aku suka darah. Aku suka film bergenre thriller dan selalu membayangkan jika aku yang jadi pembunuhnya. Aku hanya menunggu waktu beraksiku.
Aku punya teman, namanya Miley. Dia cukup bermanfaat, itulah yang membuatku masih membiarkannya berada di sekelilingku. Dia sangat perhatian, aku muak dengan itu. Dia seperti tidak tahu batas privasi. Selalu bilang kalau kita ini sahabat jadi tidak boleh ada yang disembunyikan. Ya. Dia menganggapku sahabat, aku tidak. Apa bedanya sahabat dan teman? Sama-sama menyusahkan.
Aku mengagumi seorang pria. Calon suami Miley. Dia tidak berlebihan, dia dingin. Itu keren. Semua orang berkata kalau menyukai pasangan temanmu adalah salah. Apa salahnya? Kita punya hak untuk menyukai seseorang. Miley akan sedih? Aku tak peduli. Yang jelas bukan aku yang sedih, well, aku tidak pernah sedih. Itu hanya membuang waktu.
Hari ini hari pernikahan Miley dengan Chris--lelaki yang kusukai. Bukan, ini bukan hari pernikahan mereka, ini hari penobatanku menjadi pembunuh, atau mungkin menjadi istri Chris. Aku memakai gaun berlengan panjang berwarna maroon dengan renda hitam di bagian dada, dan ujung gaun, gaunnya selutut. Berpadu dengan hiasan kepala berwarna hitam dan sepatu boot berwarna hitam mengilat. Aku membawa tas kecil berwarna maroon dengan pernik mutiara hitam.
Aku datang lebih awal, untuk menunjukkan eksistensiku sebagai kawan yang baik juga agar rencanaku terlaksana dengan lancar. Aku menghampiri Miley yang sedang dirias dan belum menggunakan gaunnya. Dia tersenyum padaku, aku membalasnya dengan seringai kecil, dia takkan curiga itu kebiasaanku.
"Maroon, kau datang lebih awal?" Tanyanya yang tidak butuh jawaban karena kenyataannya aku sudah datang
"Boleh aku yang memakaikan gaunmu nanti?" Tanyaku pada Miley tanpa menghiraukan pertanyaan bodohnya
"Waahh..tentu saja boleh, Maroon. Aku akan sangat senang", jawabnya dengan senyuman lebar, aku sudah menduga reaksinya akan seperti ini, bagus Maroon
Seusai bersolek dia mengusir si perias dan memberikan gaun putihnya yang bersinar padaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Apa setiap pengantin menggunakan gaun penuh manik seperti ini? Buruk sekali selera mereka. Aku menjereng gaun itu.
Gaun tanpa lengan yang meng-ekspose belahan dada, ekornya panjang, penuh rumbai dan manik-manik putih yang berkilau. Terdapat pita putih dari kain brokat di bagian belakang. Miley menggunakan gaun itu di tubuh polosnya. Begitu pas.
"Berbaliklah", perintahku lalu dia menurut, gadis pintar.
Aku meretsleting bagian belakang gaunnya lalu mengikat pitanya dengan sangat sangat erat.
"Uhuk! Maroon tolong renggangkan sedikit", pinta Miley dengan nafas tersengal nista.
"Tidak mau", jawabku sambil menjulurkan lidah lalu meninggalkan ruangan.
"Maroon! Uhuk! Maria Moore!" Pekiknya setengah nyawa
Aku menoleh tajam. Dengan berani dia menyebut nama asliku. Aku memberinya tatapan menusuk. Wajahnya membiru kekurangan udara.
"Apa Miley, sayang?"
"Kumohon, huhh, lepaskan", dia menggelepar di lantai dengan nafas diujung trakhea
Aku mengeluarkan cutter berkarat dari tas maroon mungilku. Lalu menyayat melintang secara perlahan di punggungnya.
"Apa ini yang dimaksud renggang?" Aku meninggalkan Miley di ruang gantinya
Chris datang dengan santai. Dia memandangku, aku menatap balik manik gelap dalam itu.
"Di mana Miley?" Tanyanya datar
"Kurasa dia tak bisa menikah denganmu, coba lihat di ruang ganti", Chris menilik ke ruang ganti, mendapati Miley mati kaku disana
"Haha, apa yang kau lakukan?" Tawanya puas
"Membantunya memakai gaun. Chris, marry me", kataku
"Tentu, Maroon", ucapnya, kami menyeringai bersama
●●●
KAMU SEDANG MEMBACA
Writer's Color 1 First Event
AcakKumpulan karya dari anak-anak Writer's Color 1 ● First event ● Genre Random √ COMPLETED
