Need You

43 7 11
                                        

Team NAVY
Jung_kimkim2627
Owl1218

Malam ini, aku duduk di dalam sebuah cafe karena di luar masih hujan. Aku masih memikirkan seorang pria yang sudah tiga bulan terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit ditemani mesin yang aku tak tahu apa namanya. Aku mencintai pria itu. Pria yang selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan untukku.

Perkenalkan, namaku adalah Victoria Navy, dan pria yang tadi aku ceritakan adalah kekasihku, Aaron Ingelbert. Aku masih duduk di bangku universitas seoul. Kini, aku sudah semester empat, begitu juga dengan Aaron. Hari-hariku di kampus sangat buruk tanpanya. Terkadang aku membolos dan melakukan hal-hal yang aku suka.

Aku merindukannya. Terakhir kami bertemu empat bulan yang lalu. Saat kami sedang menikmati hamparan bintang di pinggir pantai.

July 2016

“Navy, nampaknya hari ini kamu terlihat lelah. Apa dosen itu bertingkah lagi?” Tanya Aaron kepadaku. Aku menghela napas berat.
“Hhemm... bukan Aaron. Tadi ia tidak masuk,” kataku memelas.

“Jadi? Kamu kenapa sayang?” Ia mengernyitkan alisnya bingung.

“Aaron, besok aku ada jadwal musik. Nona Han memintaku untuk melatih junior-juniorku. Pasti besok aku tidak bisa bersamamu.” Aku merangkul lengan Aaron dengan erat.

Ia tersenyum dan mengacak puncak kepalaku. “Tidak apa-apa, Navy. Aku mengerti.” Aaron merangkul bahuku dengan lembut dan aku tersenyum melihatnya.

“Apa kamu mau melihat bintang malam ini?” Tanyanya. Aku mengangguk dengan antusias. Lalu kami pergi ke pinggiran pantai.

Kami duduk di pinggir pantai, menengadah, menatap langit yang nampak ramai dengan kerlap-kerlip bintang. Aku menyenderkan kepalaku pada bahu Aaron dan ia menyenderkan kepalanya di kepalaku.

“Hhhmm... Navy, menurutmu bintang mana yang indah?” tanyanya dengan lembut.

“Itu... itu... itu... dan itu.... semua indah, Aaron,” kataku menunjuk bintang yang bertebaran di langit.

“Lalu, menurutmu mana yang indah, Aaron?”

“Tidak ada. Semua jelek kecuali...” Aaron menggantungkan ucapannya.

“Kecuali apa?” Tanyaku penasaran.

“Kecuali ia diberikan make up, hahaha...,” candanya. Aku ikut tertawa dibuatnya.

“Bagaimana bintang bisa menggunakan make up, Aaron? Kalau kamu yang memakaikannya, itu akan indah,” ledekku.

“Kamu mau mempunyai kekasih aneh? Aku lelaki tulen, Navy,” katanya sedikit merajuk.

Aku tertawa sambil melihat wajahnya yang bercahaya karena pantulan sinar bulan. Kini hanya semilir angin yang menemani kami. Ia memeluk pinggangku erat sehingga kehangatannya menjalar ke seluruh tubuhku.

“Navy, jika aku pergi nanti, aku akan melihatmu di balik bintang-bintang itu,” katanya terdengar sangat tenang.

“Memangnya kamu mau kemana? Kenapa kamu mau pergi dan melihatku di balik bintang-bintang itu?” Aku menatapnya lekat-lekat.
Aaron tertawa kecil lalu menggeleng.

“Awas saja kalau kamu berani pergi meninggalkanku. Aku akan mencincangmu hidup-hidup,” ancamku.

“Hahaha... kamu seperti psychopath saja sayang.” Ia mencubit pipiku dengan gemas.

“Tenang saja, aku tak akan pergi kemanapun, sayang,” katanya sambil memelukku.

“Kamu janji?”
“Ya, aku janji.” Aaron menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingnku. Aku tersenyum bahagia.

Writer's Color 1 First EventTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang