Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Disinilah aku, bersama diriku sendiri, dihamparan yang kosong, dan hitam.
Ku tak dapat melihat lagi, selamanya.
Cukup sulit, tapi aku pasti akan terbiasa.
Kalian taukan, kalo aku kenapa?
Yups, Buta! Hmm, bahasanya sedikit kasar, jadi ganti jadi Tuna Netra.
Aku tau kenapa aku bisa buta, dan itu salahku sendiri.
Oo iya, pacarku kemana ya? Apa dia menjauhiku?
Aku tidak akan menyalahinya, kalo dia menjauhiku.
Siapa yang mau punya pacar buta?
Aku buta karena kecelakaan motor, entah mataku kena apa, dan sekarang jadi buta.
Itu penjelasan yang sangat singkat bukan.
Ah iya, setahuku, kamarku berwarna Tosca.
Hijau tosca, itu bukan warna favoritku, tapi warna favorit pacarku.
Aku dan dia kenal sejak SMP.
Sudah kenal baik, kamipun pacaran.
Sampailah aku di SMA.
Sekarang aku kelas 11 SMA.
Tapi aku sekarang sekolah di Slb.
Itu wajar bukan.
Semenjak itu, pacarku tak pernah datang, sudahku bilang itu wajar.
Dia mau datang ngejenguk aja aku pasti senang, apalagi dia masih mau nerima aku, itu sangat mengkhayal, Rafa.
Ah iya, namaku Rafa Alaska, hmm nama yang unik, umurku bisa kalian tebak, dan kelasku ada diatas tadi.
Nama pacarku Sia.
Masih kelas 10, kalian bisa hitung sendiri umurnya.
"Rafa..." membuatku menoleh kearah pintu, walaupun aku gak lihat.
Aku pasti hapal dengan kamarku sendiri.
Warna tosca, lebarnya/panjangnya 3x4 m, jendela 2, lemari 1, kamar mandi ada disebelah kananku, dan pintu, tepat dihadapanku.
"Ya?" tanyaku, karena aku tak tau siapa yang memanggilku.
"Rafa..." tiba-tiba memelukku, ini siapa?
"Ini Radit, kakakmu," ujarnya membuatku akhirnya tau kalo dia kakakku, bukan aku gak hapal suaranya, tapi dia kuliah diluar kota, karena itu aju jarang ketemu, dan jarang mendengar suaranya.
"Kamu gapapakan, kata Papa, papa lagi berusaha mencari pendonor mata, kata papa lagi, papa siap buat donor mata papa untuk kamu," ujar kak Radit membuatku terkejut, papa mau donorin matanya buatku?