Team VIOLET
Liandianatasya
lailatuliz
"Gara-gara lo gue harus membersihkan tempat terkutuk ini, sumpah bau banget." Zea mengomel.
"Ini salah lo, lo yang gak bilang ke gue kalo tugas itu untuk semua murid kelas kita."
"Kok nyalahin gue sih? Lo tu yang gak becus jadi ketua kelas."
"Aaaaaaaww" pekik Zea karena terpeleset saat ingin mengambil air.
"Zea lo gakpapa?" Andra mendekati Zea yang terbaring di lantai.
"Ha? Apa-apaan si lo?" bentak Zea marah karena Andra menutup rok Zea yang menganga.
"Lo lihat apa ha? Lo ngapain bukak rok gue?" ucap Zea marah.
"Z–zea, gue nutup rok lo. Rok lo emang udah terbuka saat lo jatuh." Andra gugup karena tuduhan Zea.
"Gak nyangka gue, ternyata orang yang selama ini rajin belajar, pintar, disayang guru, eh ternyata gak lebih dari cowok brengsek kayak lo" Zea membanting kain pel kelantai lalu pergi meninggalkan Andra.
***
"Kalian tau gak sih? ketua kelas kita itu gak sebaik yang kalian fikir. Tadi gue kepleset saat bersihkan toilet, gue sangka dia bakalan bantu gue, tapi dia malah bukak rok gue. Kan brengsek banget!" ucapan Zea mendapat perhatian dari seisi kelas.
Andra bangkit dari bangkunya kemudian mengahampiri Zea yang berada tepat di tengah ruangan.
"Jaga mulut lo." desis Andra.
"Udah deh lo gak usah membela diri, jelas-jelas lo buka rok gue. Ngaku aja deh lo."
Seisi kelas menatap Andra tak percaya.
"Zea!" teriak Andra marah.
"Apa ha mesum!"
Andra menarik kasar tangan Zea, tak sengaja cermin kesayangan Zea jatuh dan pecah.
Zea melongo tidak menyangka melihat cerminnya yang berubah menjadi pecahan kaca.
"Lo ... Lo mecahin cermin gue?" suara Zea terdengar serak.
"Yaelah, cuma cermin doang. Dipasar loak mah banyak."
"Lo gak tau berharganya cermin itu bagi gue, itu cermin pemberian Oma gue sebelum dia meninggal. Asal lo tau cermin itu dibeli oma gue di Singapura. Lo harus ganti cermin gue, sama persis dan beli di Singapura!" Zea berteriak kalap sambil menangis lalu pergi meninggalkan Andra.
"Awas lo!" Ancam Alexa.
Alexa dan Dairin mengejar Zea.
"Hikss ... Hiiks"
"Udah lo tenang aja, gak usah nangis." Alexa dan Dairin memeluk Zea yang terisak.
"Lo tau kan, berharganya cermin itu bagi gue." ucap Zea yang disela isak tangis.
"Kita tau kok Zea, tenang Andra pasti ngenganti cermin lo."
"Tapi kan beda, gue mau cermin dari Oma gue, bukan dari Andra Hikss."
"Iya iya, nanti kita ambil pecahan cermin lo. Simpen buat kenang-kenangan." Dairin mencoba menenangkan.
Zea hanya mengangguk sedih.
***
Keesokan harinya.
"Woy mesum! Mana cermin gue?" Zea menagih cerminnya kepada Andra yang sedang mengerjakan soal.
"Z–zea gue ... gue belum beli." Andra merasa bersalah melihat wajah Zea yang sedih serta mata yang sembab, meskipun Zea marah namun kesedihan masih terlihat jelas diwajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Writer's Color 1 First Event
RandomKumpulan karya dari anak-anak Writer's Color 1 ● First event ● Genre Random √ COMPLETED
