Part 7 : CRAZY!!!!!!!!!

1.7K 91 2
                                        

Aku sedang berada di perpustakaan kampus ini. Mencari sebuah buku yang menceritakan tentang sejarah komposer-komposer atau musisi-musisi legenda di dunia. Aku takkan melakukannya jika bukan Mr.Groof yang menyuruhku. Tadi setelah kelas pertama selesai, aku hendak pergi ke toilet, lalu aku bertemu dengan Mr.Groof dan akhirnya aku jadi disuruh seperti ini. Dia bilang sih, bukunya akan dipakai untuk menjelaskan materi pelajaran Sejarah nanti saat bel pergantian pelajaran berbunyi. Apa boleh buat, aku tak bisa menolak.

Keperhatikan baik-baik baris demi baris dan kolom demi kolom rak buku khusus tentang Sejarah ini. Melihat buku demi buku di barisan rak itu. Membaca judulnya satu per satu. Tapi tak kunjung aku temukan buku yang aku cari. Aku mendongakkan kepalaku melihat buku-buku yang terletak di barisan atas rak. Kembali kubaca satu per satu judul disetiap bukunya. Ketemu! Itu dia. Buku tebal berwarna coklat berjudul “Musicians History”. Akhirnya! Tetapi, tinggi sekali letaknya. Aku menjinjitkan telapak kakiku mencoba meraih buku itu. Jari telunjukku hampir menyentuhnya, tapi tak sampai juga. Aku melompat-lompat kecil untuk menggapainya. Tak bisa juga. Ya beginilah mempunyai tinggi badan yang kurang proporsional. Aku menghela napas. Mencari akal bagaimana supaya aku bisa meraih buku itu. Kutolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan mencari sebuah bangku.

“Hey, cari apa?”

Aku berhenti menolehkan kepalaku. Pandanganku beralih ke orang yang baru saja berbicara tadi. Tepat di samping kananku, Cody Simpson. Astaga mengapa dia ada di sini? Dug-dug! Jantungku berdebaran. Gawat, jangan sampai aku salah tingkah di hadapannya. “Mencari bangku.” jawabku kembali mengitari pandangan seolah masih mencari bangku itu. Padahal kenyataannya, aku sedang mencoba menormalkan debaran ini.

“Untuk apa?” tanyanya lagi.

“Meraih buku itu. Aku tidak sampai.” jawabku lagi, menunjuk bukunya.

“Oh. Itu mudah.” Cody mengulurkan tangannya ke atas dan dengan tanpa kesulitan meraih buku yang sedari tadi aku perjuangkan untuk kuraih. Damn, he’s so tall and… kinda hot. Oops! “Ini bukunya.”

Aku mengambil buku itu dari tangan Cody. “Ehm, terima kasih. Seharusnya kau tak perlu membantuku.” ucapku canggung sekali.

“Kenapa? Sesama manusia harus saling tolong-menolong.” balasnya dengan senyuman yang terlukis indah bagaikan surga di bibirnya.

“Ya, kau benar. Sekali lagi terima kasih.” ucapku lagi. Sungguh, sudah tampan, baik hati pula. Memang pria idaman.

“Don’t mention it.” sahutnya lagi-lagi tersenyum. “Kau Autumn, kan?”

Aku mengangguk. Aku tahu, dia hanya berbasa-basi saja. Karena tidak mungkin dia tak mengetahui namaku yang masih satu jurusan dan Fakultas dengannya. Ya, Fakultas Seni. Dan dia juga satu semester denganku. Sama seperti kelima sahabatku, Justin, dan sekelompok Gank yang disebut One Direction itu. Kecuali Harry, dia dua semester di bawah kami. Jadi, Cody tidak mungkin tak mengenaliku. “Dan kau, Cody Simpson.”

Ia juga mengangguk. Ini memang kali pertama kita saling bicara. Maka itu saling memastikan nama satu sama lain. Terdengar konyol, tapi percakapan ini membuatku sangat berbunga.

“Kau suka menbaca buku sejarah seperti itu?” tanya Cody menunjuk buku di genggamanku.

“Tidak. Mr.Groof yang menyuruhku mengambilnya untuk kuserahkan padanya.” jawabku.

Cody mengangguk mengerti. “Setelah ini pelajaranmu apa?” tanyanya lagi.

Aku mengangkat bukunya. “Sejarah.”

“Oh ya? Berarti kita satu kelas.”

Aku merekahkan ekspresi wajahku. Tidak bisa mengontrol emosi karena terlalu senang. Tapi sejenak setelahnya, langsung kuubah lagi air mukaku menjadi biasa saja. Semoga Cody tidak menangkap ekspresiku tadi. “Benarkah?”

Unexpected (Completed)Where stories live. Discover now