Part 18 : New Year Eve (1)

1.3K 74 2
                                        

“Aku mau! Ya, bisa! Pasti akan kuusahakan agar aku bisa datang. Apapun acara atau kegiatan yang mungkin bertepatan pada hari itu, akan aku batalkan semua demi menghadiri acaramu! OMG, aku rindu sekali padamu, Autumn. Kau juga mengundang yang lain kan? Aku tak sabar bertemu kalian!” seru panjang Selena setelah aku sampaikan bahwa pada malam tahun baru nanti aku dan keluargaku akan mengadakan acara kecil-kecilan. Ya, acara keluarga, seperti memanggang daging, jangung, atau barbeque. Aku, Harry, dan Jason berniat mengundang teman-teman dekat kami untuk ikut hadir dalam acara ini. Dan saat ini aku sedang berkomunikasi lewat telepon dengan Selena.

“Benarkah? Bagus kalau begitu! Aku juga rindu kaliaannn…” sahutku.

“Jadi tidak sabar! Hm, masih dua hari lagi.” ucap Selena.

“Ya. Baiklah, aku akan menghubungi yang lain, sampai bertemu malam tahun baru nanti, Sel! Miss you!”

“Miss you too, darl. Bye..”

“Bye..” aku menutup telepon rumahku.

Aku masih harus menghubungi yang tersisa, yaitu Eleanor, Demi, Miley, dan Perrie. Aku pun menghubungi mereka satu per satu. Dan kalian tahu? Mereka bisa! Senangnya! Tapi, ternyata tidak semua bisa datang. Perrie bilang ia tidak bisa hadir. Ia sekarang sedang berada di London, kota asalnya. Ia sedang menginap di rumah kakek dan neneknya merayakan natal dan tahun baru di sana. Tidak mungkin juga aku memaksanya untuk terbang jauh ke New York hanya demi menghadiri perayaan kecil ini. Sedih juga mendengar ia tidak bisa datang. Tapi, tak apa, selain Perrie, semua bilang mereka akan datang. December, 31st, come fast please!

“Habis menelepon siapa? Miley, ya?” Harry tiba-tiba saja duduk di sampingku yang baru saja mengakhiri obrolanku yang memang dengan Miley. Miley orang yang aku hubungi terakhir tadi.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ikatan kontak batinku dengan Miley memang sangat kuat.”

“PPFFFFTT!! Haha, aku ingin muntah!” sahutku menahan tawa. Lihat saja kepercayadiriannya itu, membuatku mual saja.

“Apa dia bisa datang?” tanya Harry penuh antusias.

“Maumu?”

“Jelas saja aku mau dia datang! Dia datang, kan?” tanyanya lagi.

“Dia sih bilang begitu.” jawabku.

“Yeah!” seru Harry tiba-tiba mengepalkan kedua tangannya bersemangat.

“Bahagia sekali?” ledekku.

“Terang saja. Aku akan menarik perhatiannya nanti. Lebih bagus lagi kalau aku bisa menjadikannya kekasihku malam itu juga.” ucap Harry tanpa ragu sedikit pun.

“Mimpi saja, Styles..” ujarku, bangkit dari sofa dan melenggang masuk ke dalam kamar.

“Akan kujadikan kenyataan, Styles! Atau bisa kupanggil Malik?” sahut Harry berteriak sambil tertawa. Aku bisa dengar itu dari dalam kamarku.

Malik katanya? Aku jadi membayangkan diriku jika dipanggil Mrs.Malik nanti. Tunggu, Apa? Apa yang baru saja kupikirkan? Hahaha, membayangkannya saja bisa membuatku tertawa. Entah kenapa tapi menurutku itu lucu. Oh, ya, Zayn. Haruskah aku meneleponnya juga, mengundangnya untuk datang? Maksudku, mengundangnya itu sudah pasti, tapi apakah Harry sudah mengundangnya duluan? Hm, kurasa begitu. Ia kan sahabat dekatnya.

Sekarang aku malah berpikir untuk mengundang Justin. Eh, Kenapa pula aku harus mengundangnya? Berteman saja tidak. Tapi, kasihan juga membayangkan dia selalu kesepian disetiap acara yang harusnya ia rayakan bersama orang-orang terdekatnya. Ah, sudahlah. Kenapa sih dia terus muncul di otakku? Heran aku jadinya.

Unexpected (Completed)Where stories live. Discover now