Sudah memasuki jam makan malam. Dan kau tahu? Sejak siang tadi, aku dan Harry tidak beranjak dari bangunan kosong ini sampai sekarang. Kami mengobrol panjang, uhm, mungkin lebih tepat dikatakan mencurahkan isi hati kami kepada satu sama lain. Ya, kami saling menceritakan curahan hati kami masing-masing. Aku bercerita masalah perasaanku pada Justin berserta keganjalan-keganjalannya, sedangkan Harry menceritakan perasaannya terhadap Miley yang semakin hari katanya semakin bertumbuh. Jujur, ini pertama kali terjadi dalam hidupku, dan kurasa juga dalam hidup Harry. Karena sebelumnya aku selalu bercerita pada Jason dalam hal apapun, apalagi percintaan. Sedangkan Harry, ini adalah kali pertama dia jatuh cinta. Gila, bukan? Seorang Miley Cyrus dapat menaklukkan hati si maniak ini, haha. Tapi itu bagus, akhirnya Harry bisa merasakan perasaan itu, jadi dia bisa lebih menghormati wanita.
Kami berdua tertidur di sini setelah mengobrol panjang tadi. Bahkan Harry masih terlelap, kepalanya masih bersandar di atas pahaku. Jika sedang tidur seperti ini, wajah Harry jadi terlihat 4 tahun lebih muda dari usianya, lucu dan menggemaskan, haha.
Aku menepuk pelan pipi Harry untuk membangunkannya. Aku lapar sekali. Aku takkan bisa beranjak kemana-mana, apalagi ke cafetaria jika kepala Harry masih berada di atas pahaku seperti ini.
“Harry, bangun! Sudah malam.” ujarku sambil menggerak-gerakkan pahaku. Harry mengerang, namun tidak membuka matanya.
“Ayolah, Harry, bangun! Kakiku pegal tahu!”
Harry masih enggan membuka matanya. Anak ini, jika tidur sudah seperti sapi malas! Akan kukerjai dia!
“MILEY?!” teriakku.
Dengan sigap, Harry langsung bangun dan membenarkan posisinya menjadi terduduk. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
“Mana Miley, mana?” ucapnya.
Aku tertawa lepas. Benarkan? Dia langsung bangun. Dasar cinta, hahaha.
“Kau mengerjaiku, ya?! Tidak ada Miley.”
Aku masih tertawa. “Bagaimana? Segar kan matamu sekarang?”
“Segar sih, segar. Aku kaget tahu!” protesnya.
“Sudah, apa kau tidak lihat ini sudah malam? Sekarang pukul 7.30, aku lapar.” seruku.
“Aku juga. Baiklah, ayo kita ke cafeteria.” ajaknya. Kami pun beranjak dari sana.
-----------
Aku melihat mereka. Duduk bersama di tempat biasa kami menyantap hidangan makan malam kami. Di meja yang terletak di tengah ruangan cafeteria ini. Sekarang aku hanya bisa memandangi mereka, tanpa bisa ikut bergabung. Guys, aku rindu kalian. Aku tahu, akulah sekarang orang yang paling menyebalkan di mata kalian. Aku terima itu. Tidak apa-apa, aku pun merasa seperti itu. Tapi aku tidak bisa mengelak rasa bahwa aku masih ingin bersama dengan kalian, selamanya. Kalian adalah hidupku. Aku menaruh separuh jiwaku di masing-masing diri kalian.
“Memandangi mereka takkan membuat mereka mengetahui rasa sesalmu. Hampiri mereka dan minta maaf.” ujar Harry. Aku sedang duduk bersebelahan dengannya. Harry rela untuk tidak bergabung dengan gank-nya dan menemaniku makan malam.
“Tidak. Aku takut.” sahutku.
“Nah, baru saja kubilang padamu, hilangkan rasa takutmu itu. Atau kau takkan pernah minta maaf.”
“Aku tahu, aku tahu. Tapi tidak sekarang, aku belum siap. Lagi pula aku butuh berbicara privasi dengan mereka, bukan di tempat ramai seperti ini, gila saja.”
“Ya, benar juga, sih.” tanggapnya lalu menggigit roti sosis-nya. Dasar.
Aku mengaduk-aduk makanan di piringku dengan garpu. Aku jadi tidak nafsu, padahal tadi aku lapar sekali. Ya, semua rasa bersalah ini sedang merajai diriku. Apapun yang kulakukan rasanya jadi tidak berguna sebelum penyesalanku ini tersampaikan.
YOU ARE READING
Unexpected (Completed)
FanfictionSekelompok gadis remaja "anti-popular" yang bersahabat, Autumn Styles, Demi Lovato, Miley Cyrus, Selena Gomez, Perrie Edwards, dan juga Eleanor Calder, harus terbiasa dengan keberadaan pria-pria popular di kampus mereka. Seperti julukannya yang anti...
