Part 15 : Special Gift For Christmast

1.3K 88 6
                                        

Sudah satu minggu semenjak aku pulang dari Asrama. Sudah satu minggu pula aku berada di rumah. Dan ini adalah malam natal! Waaa, senangnya! Terlebih lagi salju turun lebih awal, yaitu malam ini. Saat ini pun aku sedang memandangi turunnya butiran salju dari depan pintu rumahku. Sangat indah. Dingin yang menusuk ini pun terbayarkan dengan keindahan butiran-butiran salju putih yang turun perlahan. Salju yang turun belum terlalu banyak. Maklum, baru awal musim dingin.

“Autumn, kau pergi beli perlengkapan-perlengkapan untuk menghias pohon natal, ya?” suara Mom terdengar dari arah ruang keluarga.

Aku menoleh ke dalam rumah dan beranjak masuk. “Aku kira Mom sudah beli?”

“Belum, tadi Mom sangat lupa. Tolong ya kau yang pergi membelinya?”

“Baiklah, aku ganti baju dulu.” aku menaiki anak tangga untuk pergi ke kamarku dan berganti baju. Lima menit kemudian aku kembali turun ke ruang keluarga.

“Harry, kau temani kakakmu sana.” ujar Dad yang duduk di samping Mom, kepada Harry yang sedang memainkan handphone-nya di lain sofa.

“Jangan Harry, Dad. Jason saja yang temani aku.” usulku. Jauh akan lebih baik jika Jason yang menemaniku berbelanja.

“Memangnya aku mau?” sahut Jason yang baru saja keluar dari dapur.

“Memangnya kau tidak mau?” keluhku cemberut.

“Aku malas keluar. Kau sama Harry saja, ya?” ucap Jason.

“Harry, Kau dengar tidak, sih? Temanilah kakakmu belanja.” seru Dad. Harry kembali bergeming. Ia tidak dengar atau memang sudah tuli? Dari tadi pandangannya terus ke layar iPhone-nya.

“HARRY!” aku teriak saja di sebelah telinganya.

Harry terkejut, iPhone-nya hampir saja terjatuh dari genggamannya. “Apa, sih?”

“Temani Autumn membeli perlengkapan menghias pohon natal.” jawab Mom.

“Oh. Bilang dari tadi.” sahutnya. Ugh, selalu saja buat orang kesal! “Ya sudah, ayo!”

_______

Aku sedang memilah-milih accessories lucu untuk disangkutkan dipohon natal kami nanti. Banyak sekali rasanya yang ingin aku beli. Semua accessories nya terlihat bagus. Aku suka semuanya. Tapi, mana mungkin aku membeli semua. Yang ada pohon natalku tidak akan terlihat kalau itu pohon natal. Aku mengambil semua accessories yang kiranya menurutku paling bagus. Bintang, bola-bola lampu, dan lain-lain. Kurasa ini sudah cukup untuk menghias pohon kami. Aku mengedarkan pandanganku, mencari Harry. Dia kemana, sih? Seperti inilah Harry jika diajak berbelanja. Akan sibuk sendiri mencari barang-barang yang akan dibelinya. Aku heran, aku saja yang wanita tidak gemar belanja, Harry malah senang sekali. Aku mulai melangkah untuk menemukan Harry. Sudah beberapa kali berkeliling di toko ini, masih tidak ketemu juga! Ya sudahlah, aku pulang sendiri saja. Malas mengurusi anak itu.

Setelah membayar semua belanjaanku di chasier, aku keluar dari toko ini. Sebenarnya tadi aku ke sini dengan mobil, Harry yang menyetir. Mobilku pun masih terparkir di depan toko ini. Berarti Harry masih ada di dalam toko. Atau pergi ke tempat lain tanpa menggunakan mobil? Entahlah. Kalau saja aku bisa menyetir, akan kubawa pulang mobil ini bersamaku. Tapi apa daya, aku tidak bisa menyetir. Taxi pun menjadi satu-satunya pilihan transportasiku untuk pulang. Tapi mengapa sepi sekali? Pukul berapa sih ini? Aku meraih iPhone di sakuku. Sudah pukul 10 malam. Lama juga aku berbelanja.

Aku pun memutuskan untuk berjalan kaki, siapa tahu diperjalanan nanti bertemu taxi. Aku melangkah dengan membawa kantung plastic putih yang lumayan besar ini. Benar-benar sepi. Mengapa ya? Padahal ini kan malam natal. Oh, mungkin semua penghuni rumah sedang sibuk menghias pohon-pohon mereka. Atau mungkin juga sudah tidur.

Unexpected (Completed)Where stories live. Discover now