“Bodohnya aku! Mengapa gambar tadi aku kumpulkan pada Mr.Collin? Niatnya kan gambar itu mau aku simpan.” gerutu Zayn ketika sadar akan kelalaiannya itu. Zayn berbalik badan dan berlari kembali ke kelas tadi berharap Mr.Collin belum beranjak dari sana.
Pas sekali Mr.Collin keluar pintu kelas, Zayn sampai di depan pintu kelas. “Mr.Collin, maaf, gambarku tadi tidak jadi aku kumpulkan. Boleh aku memintanya kembali?”
“Sayang sekali. Gambarnya sudah kubuang. Itu, di sana.” ucap Mr.Collin sambil menunjuk ke arah keranjang sampah di samping pintu.
“Mengapa dibuang Mr.?” keluh Zayn.
“Untuk apa aku simpan pula? Bukan gambar seperti itu yang harusnya kau kumpulkan Mr.Malik. Kerjakan ulang tugasmu dan berikan padaku besok pagi hasil yang sesuai permintaanku. Jika tidak, kau akan kuhukum.” ujar Mr.Collin tegas.
“Baiklah, baiklah, permisi.” ucap Zayn agak kesal, lalu beranjak dari sana.
Zayn berjalan ke tempat keranjang sampah itu terletak, dan mulai mengaduknya dengan tangan, mencari-cari gambarnya tadi. Untunglah keranjang sampah itu hanya berisi serpihan-serpihan kertas saja. Bukan benda-benda menjijikan.
“Hey, Zayn! Sedang apa kau mengacak-acak tempat sampah itu? Seperti kucing saja.” Tiba-tiba Harry muncul entah dari mana, dan menghampiri sahabatnya itu.
Zayn tidak menanggapinya dan masih mencari-cari. Tak lama, akhirnya gambar itu ditemukannya juga. “Enak saja kau bicara. Aku tadi mencari ini.” sahut Zayn menunjukkan gambarnya.
Harry menatap aneh gambar itu. “Terlihat seperti kakakku.” ujarnya.
“Memang.” sahut Zayn.
“Jadi, kau menggambarnya? Untuk apa? Dia yang menyuruhmu?” Tanya Harry.
“Tidak. Aku saja yang sedang ingin menggambarnya.” jelas Zayn.
“Kenapa? Jangan-jangan kau suka padanya?” tuduh Harry.
Zayn tertawa kecil. “Tidak. Hanya-“
“Hanya apa?” potong Harry. “Kukatakan padamu, kawan. Lebih baik kau jangan menyukainya. Dia galak sekali.” ujar Harry merangkul bahu Zayn. “Dan kau juga tahu kalau dia itu anti orang-orang tampan seperti kita, kan? Sangat tidak cocok untukmu.”
“Bukannya dia hanya galak padamu? Sepertinya, dia orang yang baik.” sanggah Zayn, sedikit tertawa.
Harry menghela napas. “Ya sudahlah kalau kau menganggapnya begitu. Yang penting, aku sudah memperingatkanmu.”
“Ya, ya. Hey, kau ini juniorku! Kenapa jadi kau yang perintah-perintah?” protes Zayn bercanda.
“Ha-ha! Walaupun begitu aku manusia tertampan di muka bumi ini!” ujarnya over confident dengan tawanya yang dibuat-buat.
“Yuck! Aku ingin muntah.” canda Zayn. Mereka berdua tertawa bersama.
********
Kelas terakhir dihari ini adalah kelas Drama. Huft, akhirnya sebentar lagi hari yang terasa berat ini akan berakhir juga. Dan aku senang karena dalam kelas kali ini aku bertemu dengan Demi dan Selena! Ternyata jadwal kelas Drama kami sama. Untunglah, mereka bisa menaikkan tingkat mood-ku yang sejak tadi pagi sangat rendah. Kami bertiga duduk berdamping-dampingan di atas karpet berwarna hijau tua ini. Ya, kelas Drama tidak menyediakan kursi dan meja, melainkan hanya beralaskan karpet yang lumayan tebal ini. Karena kelas ini memang kelas khusus berlatih drama, jadi tidak membutuhkan meja/kursi. Kelas ini sangat luas seperti Aula.
“Kalian tahu? Hariku benar-benar buruk.” keluhku kepada Demi dan Selena. Dosen yang akan melatih Drama kali ini belum datang, jadi kami masih bisa mengobrol.
YOU ARE READING
Unexpected (Completed)
FanficSekelompok gadis remaja "anti-popular" yang bersahabat, Autumn Styles, Demi Lovato, Miley Cyrus, Selena Gomez, Perrie Edwards, dan juga Eleanor Calder, harus terbiasa dengan keberadaan pria-pria popular di kampus mereka. Seperti julukannya yang anti...
