2 Weeks Later…
“Demi, kau melihat mantel putihku tidak? Aduh aku lupa meletakkannya di mana. Terakhir aku pakai tadi malam. Kemana ya?” aku menggeledah setiap sudut ruangan untuk mencari mantel putihku itu. Aku benar-benar lupa meletakkannya di mana. Aku dan yang lain sedang berberes menyiapkan semua barang yang akan di bawa pulang. Ya, hari ini adalah hari kepulangan kami semua. Akhirnya hari ini tiba juga. Tapi kemana mantel kesayanganku itu? Masa hilang? Aku tidak rela!
“Kau menggantungnya di kamar mandi.” Perrie keluar dari kamar mandi sambil membawa mantelku.
“Astaga, aku baru ingat. Terima kasih, Perrie.” ucapku mencium sekilas pipi kanan Perrie.
“Kau ini Autumn, selalu ceroboh menaruh barang sembarangan.” omel Demi.
“Tidak usah membicarakan orang. Kau juga begitu, Dem.” sahut Perrie. Aku tertawa sedikit.
Aku kembali merapikan barang-barangku untuk kumasukkan ke dalam koper besar berwarna merah tua ini. Peralatan mandi, semua baju dan seragam sudah. Gadget-gadgetkujuga sudah. Peralatan pribadiku pun sudah. Sepertinya sudah semua aku masukkan ke koper. Kecuali mantel dan dan beanie biruku ini, aku berniat memakainya. Aah, senangnya bisa kembali ke rumah!
Tadi Mom sudah meneleponku dan dia bilang, dia yang akan menjemput kami-aku dan Harry. Tidak sabar lagi bertemu dengannya! I miss her so freakin’ much!
“Ayo kita segera berkumpul di lapangan! Apel sebentar lagi dimulai.” seru Demi.
“Baiklah. Semua sudah siap, kan?” tanyaku.
Demi dan Perrie mengangguk mantap. “Let’s go!” ujarku bersemangat. Lalu kami beranjak dari kamar dan langsung turun ke lapangan utama.
Lapangan basket outdoor ini sudah dipenuhi mahasiswa-mahasiswi yang masing-masing dari mereka membawa sebuah koper atau tas besar di punggungnya. Semuanya mengenakan pakaian musim dingin mereka. Walaupun salju belum turun, tapi musim gugur tak lama lagi akan berakhir dan dingin pun semakin menjalar sampai ke aliran darah. Aku menoleh ke tengah kerumunan ini dan mendapati Selena, Miley, dan Eleanor sedang melambaikan tangan mereka ke arah kami bertiga. Aku, Perrie, dan Demi berlari menghambur menghampiri mereka.
Spontan aku memeluk tubuh mungil Selena erat sekali. “Hey, Autumn.” sapanya membalas pelukanku. Aku bergeming. Tiba-tiba saja aku merasa sedih. “Kau kenapa?”
Aku melepas pelukanku dan memandangi satu per satu wajah sahabat-sahabatku ini. “Kita akan berpisah.” lirihku.
Selena dan Miley, yang berada di sebelah kiri dan kananku, merangkul bahuku. Kami semua saling merangkul bahu membentuk sebuah lingkaran kecil.
“Hanya satu bulan. Setelah itu kita kembali bersama-sama, kan?” ucap Eleanor.
“Ya, El benar. Tidak perlu bersedih.” sahut Miley.
“Aku tahu. Tetap saja hatiku sedih.” ujarku.
“Sudah, sudah, jangan bersedih seperti ini. Bayangkan kalian kembali berkumpul bersama keluarga, pasti senang.” ucap Demi.
Aku tersenyum mendengar kata-kata Demi barusan. “Ya, kau benar.”
Kami melepas rangkulan ini. Kepala Universitas mulai menaiki podium yang tersedia. Apel ini dilakukan untuk mendengarkan informasi-informasi terakhir sebelum menjalani libur panjang dari Kepala Universitas, Mr.Ferdinand. Kami mendengarkan dengan saksama apa-apa saja yang Mr.Ferdinand tuturkan. Info yang disampaikan sebenarnya hanya ucapan-ucapan terima kasih, selamat, nasehat, serta salam perpisahan.
Apel berlangsung selama 30 menit. Setelah sudah dikomandankan untuk membubarkan barisan, kami semua berpencar menuju ke tujuan masing-masing. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok Harry. Di mana anak itu? Mom baru saja mengirim pesan padaku kalau dia akan tiba di sini kurang dari 10 menit lagi.
YOU ARE READING
Unexpected (Completed)
FanfictionSekelompok gadis remaja "anti-popular" yang bersahabat, Autumn Styles, Demi Lovato, Miley Cyrus, Selena Gomez, Perrie Edwards, dan juga Eleanor Calder, harus terbiasa dengan keberadaan pria-pria popular di kampus mereka. Seperti julukannya yang anti...
