Sempurna. Benar-benar hari yang sempurna! Semua orang yang kusayangi kini telah menjadi orang yang aku benci. Aku sendirian sekarang. Masih dengan perasaan yang kacau. Berjalan tengah menuju perpustakaan untuk membaca sebuah buku yang kuharap bisa menghilangkan seluruh kekesalanku ini. Setelah hampir sampai di perpustakaan, aku melihatnya. Melihat dia, Justin, sedang bercakap dengan teman-temannya. Ya, Tuhan.. lagi-lagi dadaku sesak. Bahkan hanya dengan melihat dirinya jantungku berdegup. Sebenarnya ada apa dengan hatiku? Rasanya berbeda dengan saat aku berada bersama Zayn. Tunggu. Apa? Astaga.. Aku baru menyadarinya. Jantungku tak pernah berdegup cepat seperti ini saat bersama Zayn. Mungkin aku senang saat ia memujiku atau mengatakan kata-kata indah padaku, tapi hatiku padanya biasa saja. Bahkan.. bahkan saat melihatnya kemarin dengan Perrie, aku tidak sakit. Tidak sesak. Hanya saja aku marah, sangaaat marah. Layaknya seseorang yang barang kepunyaannya telah dicuri, ya, hanya seperti itu yang aku rasakan. Sedangkan melihat Justin dan Selena kemarin? Tubuhku jadi lemas, hatiku sakit, tenggorokanku tercekat, bahkan aku sempat mengeluarkan air mata. Ada apa dengan perasaanku? Bukankah aku cinta pada Zayn? Tapi mengapa malah Justin yang membuat hatiku hancur? Aku tidak mengerti.
Aku melangkah melewati Justin dan teman-temannya itu. Berusaha sekuat mungkin untuk tidak menoleh padanya. Namun aku tahu, Justin sedang menatapku. Kumohon, jangan kau keluarkan tatapan itu lagi. Tak tahukah kau tatapanmu itu membuatku lemah? Aku mengabaikannya, aku berjalan memasuki perpustakaan. Aku memutuskan untuk membaca novel saja. Karena bacaan kesukaanku memanglah sebuah novel. Aku jadi teringat dengan Demi, dia kan juga penikmat novel sepertiku. Apa? Tidak, tidak. Untuk apa kau mengingat-ingat dia, Autumn? Dia sudah menyebalkan sekarang!
Setelah kiranya aku sudah mendapatkan novel yang ingin kubaca, aku duduk di bangku panjang perpustakaan yang memang digunakan untuk murid-murid yang sedang membaca. Di depan bangku ini, terdapat meja yang panjangnya sama dengan bangkunya.
“Kau tahu tidak, kemarin kudengar Zayn tenggelam di kolam renang.”
Samar-samar aku mendengar sebuah kalimat itu. Sepertinya diucapkan oleh seorang gadis di sebelah kiriku, yang sedang mengobrol dengan temannya. Apa tadi aku tidak salah dengar? Aku penasaran. Kupasang pendengaranku baik-baik supaya bisa lebih jelas mendengarkan mereka.
“Benarkah?”
“Ya, dan kau tahu siapa yang menolongnya? Perrie Edwards!”
Apa? Aku salah dengar atau tidak, sih? Perrie menolong Zayn yang tenggelam?
“Hah? Bukankah Perrie itu salah satu dari gadis-gadis anti-popular, ya? Kenapa dia mau menolong Zayn?”
“Aku juga tidak tahu. Tapi seperti itu kenyataannya.”
Aku benar-benar tak mengerti. Apa benar semua itu? Jika benar, berarti aku.. Aku.. Ah sudahlah, dari pada aku mati penasaran langsung kutanyakan pada mereka saja. “Hm, maaf, tadi aku tak sengaja mendengar pecakapan kalian. Tapi apa benar kemarin Zayn tenggelam?” akhirnya kudekatkan diriku pada kedua gadis yang sedang membicarakan Zayn dan Perrie itu.
“Ya, benar.” jawab gadis berambut pirang berkaca mata.
“Dan Perrie menolongnya?” tanyaku lagi.
Gadis itu mengangguk. Ya Tuhan.. apa.. apa yang sudah kulakukan?
“Terima kasih.” ucapku dan aku langsung berlari keluar dari perpustakaan.
Zayn! Aku harus bertemu dengannya! Aku mau mendengarkan penjelasan yang sesungguhnya dari dia. Kemana orang itu?
“Autumn!”
Ada yang memanggilku. Aku menoleh sejenak. Ternyata Justin. Dia masih berdiri di sana bersama teman-temannya. Ada apa dia memanggilku? Tapi maaf Justin, bukannya aku mau mengabaikanmu, ada hal penting yang harus kudapatkan kejelasannya. Aku terus berlari mencari sosok Zayn. Aku mencarinya di koridor utama, tidak ada. Aku berlari ke halaman depan kampus, juga tidak ada. Aku pun berlari menuju taman belakang. Biasanya aku melihatnya duduk bersama teman-teman gank-nya di sana. Aku menelusuri seluruh penjuru taman itu, tapi tak ada juga. Kau kemana, Zayn? Aku butuh penjelasanmu! Atau hal ini akan selamanya menjadi pertanyaan yang membekas di otakku. Aku kembali ke bangunan kampus. Lelah juga terus berlari mencari Zayn. Aku haus. Kuputuskan untuk membeli sekaleng minuman dulu di kantin. Setelah sampai di kantin, aku membeli minuman dan duduk di bangku untuk beristirahat sejenak.
YOU ARE READING
Unexpected (Completed)
FanfictionSekelompok gadis remaja "anti-popular" yang bersahabat, Autumn Styles, Demi Lovato, Miley Cyrus, Selena Gomez, Perrie Edwards, dan juga Eleanor Calder, harus terbiasa dengan keberadaan pria-pria popular di kampus mereka. Seperti julukannya yang anti...
