Chapter 16

1.3K 59 5
                                        


Leo PoV

Sambil menunggu kerabat papa yang belum datang, gue pergi ke toilet terlebih dahulu.
Mengecek penampilan gue serta keadaan gue malam ini.

Ntah kenapa perasaan gue sedikit lega ketika papa mengajak gue kesini. Padahal biasanya kalau papa ngajak makan malam sama kerabatnya pasti ujung - ujungnya gue dijodihin dan hal itu yang membuat gue setengah mampus.

Tapi semoga malem ini ga ada namanya perjodohan.
Mungkin aja memang kerabat papa aja yang hadir, tidak dengan anaknya.

Setelah merasa penampilan gue rapi dan ganteng seperti biasanya, gue keluar dari toilet dan kembali ke meja yang ditempati papa tadi.

"Maaf barusan saya dari toilet." Ucap gue pada kerabat papa yang sudah datang.

Gue pun langsung menempati kursi yang kosong di samping Lea.

Dan betapa terkejutnya gue liat cewek yang bertatapan dengan gue sekarang.

"Jadi, ini anak sulung saya, Rian." Ucap papa memperkenalkan gue pada kerabatnya yang ternyata adalah keluarga Fanni.

Papa dan mama Fanni tersenyum ramah ke arah gue terkecuali Fanni yang tatapannya sulit diartikan.

"Rian, ini om Herman dan tante Gradia. Dan itu Reyhan anak pertamanya, disampingnya Fanni anak bungsunya yang satu sekolah dengan kamu." Kini gue beralih menatap kak Reyhan dengan senyum tipis di bibirnya.

"Yasudah, mari kita lanjutkan acara makan malam ini." Ucap papa.

Lalu kami semuapun memakan hidangan makanan yang telah di pesan.

Fanni terlihat cantik malem ini. Dengan mini dress kuning lemonnya dan dipadu dengan rambut panjangnya yang terurai membuat aura menawannya yang memikat semakin terlihat.

Tapi sayang, wajahnya datar dan tatapannya pun dingin. Membuat siapapun yang melihatnya pasti akan mengatakan bahwa ia adalah Ms.Jutek.

Ya karena memang itulah sebutan yang pantas untuk Fanni. Cantik tapi terkesan jutek.

Ntah kenapa gue bisa jatuh cinta sama Ms.Jutek yang kini sedang duduk berhadapan dengan gue.
Sikap juteknya pun gue suka apalagi sikap manisnya.

Ya,memang cinta itu tak butuh alasan. Dan cinta tanpa alasan itu artinya ketulusan.

*****

Setelah acara makan malam selesai, gue dan keluarga gue langsung pulang kerumah.

Gue merebahkan diri gue di kasur empuk kesayangan gue sambil memikirkan kejadian di restoran tadi.

Flashback On

"Fan.. ada yang mau gue omongin sama lo." 

"Yauda sih, ngomong tinggal ngomong." Jawab Fanni cuek.

"Fan.. harusnya kita gak kayak gini. Masa lo nyuruh gue jauhin lo cuma karena omongan Tari."

Fanni masih diam tak bergeming sedikit pun.

"Ya gue minta maaf kalo gue selalu jailin lo dan buat lo kesel mulu. Tapi dibalik itu semua gue bener - bener sayang sama lo Daisy Liofannie."

"Jadi,udah selesai lo ngomongnya?"

"Fan.. please." Gue menggenggam kedua tangannya.

"Apaan deh lo. Lepasin gak!"

"Gue gak akan lepasin, sebelum lo cabut perkataan lo hari itu."

"Gak! Udah deh gue mau balik." Gue menghela nafas setelah Fanni melepasan genggaman tangan gue dan meninggalkan gue sendiri di taman restoran ini.

Flashback Off

Gue harus gimana lagi buat dapetin hatinya Fanni?
Yakinin dia kalo gue ini bener - bener sayang dia, itu juga percuma. Semua nya percuma sia - sia di mata dia.

Dia gak pernah mandang gue, liat hati gue. Dia gak pernah bisa.

Tapi kenapa? Kenapa dia gak bisa?
Padahal disini gue udah berjuang mati - matian buat dia.
Gue berjuang dapetin hatinya.

Dan itu gak boleh berakhir sia - sia. Gue harus bisa dapetin hatinya. Dan jadiin dia milik gue. Milik seorang Leo Febrian.

Besok, di sekolah gue harus nyelesain semuanya. Tapi sebelum itu, gue akan coba ikutin saran Nando untuk ikutin jalan permainan Tari.

Mata gue udah terasa berat dan.. gue terpejam lalu pergi ke alam mimpi.

~~~

"Hey bro! Masih pagi juga tuh muka kusut amat dah." Miko dengan sembarangannya memegang dagu gue lalu di gerakkan ke kanan dan ke kiri.
Gue pun menepis tangannya yang berada di dagu gue.
"Apaan sih lo."

"Kenapa Yan? Soal Fanni lagi?" Tanya Nando yang gue jawab hanya dengan anggukan kepala.

"Udahlah Yan, lo lupain dulu soal itu." Kini Ken yang mulai berbicara.

"Gimana bisa,gue sayang sama dia." Jawab gue sedikit jengkel.

"Hay semua, pacar gue si Leo ganteng udah dateng belom?" Terdengar teriakan dari arah pintu kelas yang ternyata adalah suara cempreng dari cewek gila bin sarap. Tari.

"Noh Leo di belakang." Celetuk Beno lalu menunjuk gue.

Tari menghampiri gue yang sedang berkumpul bersama ketiga sobat gue di bangku paling belakang.
"Hay babe!"

"Apaan sih lo. Mending lo keluar deh dari kelas gue." Ucap gue datar tanpa melihat wajanya yang terlihat seperti dilumuri kapur karena saking putihnya dengan memakai bedak terlalu tebal.

"Oh no no no. Sebelum lo jawab tawaran gue hari itu."

"Tawaran apaan sih Tar?" Miko mulai kepo.

"Jadi, Leo mau ga balikan sama gue? Soal Fanni ga bakal lagi deh gue ganggu dia." Ucapnya.

"Ck. Basi tau gak." Ucap gue malas.

"Yan, inget omongan gue hari itu. Lo ikutin aja permainannya." Nando berbisik ke arah gue dan gue hanya manggut manggut aja walau males bener sebenernya.

"Okay, gue akan balikan sama lo. Tapi gue tetep pegang omongan lo, gak akan ganggu Fanni lagi."

Tari senyum - senyum kegirangan lalu menggadeng tangan gue keluar kelas.

Saat gue menengok ke belakang ke sobat gue, mereka hanya mengedikkan bahu tapi Nando gue lihat dia tersenyum ke arah gue sambil meyakinkan gue bahwa keputusan ini memang benar.

Okay, gue harus sabar. Gue akan ikutin permainan Tari sambil terus mengejar hati Fanni. Gue gak akan nyerah sebelum gue bener - bener dapetin hati Fanni.

*

*

*

Holaa readers!!!
Maaf maaf baru update hehehe...

Pendek banget yaa? Okay okay Rani janji deh Next Chapter akan lebih panjang!

Jangan lupaa tekan bintang yuyuyu ^^
Dikoment dehh kurang apa ini ceritaa, saran kritik.diterimaa :)

Oh yaa Mulmed di chapter15 itu kakak Fanni ya alias Reyhan Nalsanrio.

VOMENTS!!!

Ms. Jutek And Mr. TroublemakerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang