ALI
"Aku belum selesai ngomong sayang," teriakku mengamati Prilly dari tempat tidur. Kulihat Prilly sedang berusaha memutahkan sesuatu.
Awalnya Aku hanya diam mengamati Prilly dari atas ranjang, namun mual-mual yang dialaminya tak kunjung terhenti. Prilly masih tetap berada didepan wastafel sesekali memutahkan sesuatu. Baru kali ini Aku melihat istriku seperti ini, Prilly sakit? Astaga! Tanpa pikir panjang, Aku segera turun dari ranjang dan menghampirinya, memijat tengkuknya pelan.
"Kamu lagi sakit?" tanyaku mengamati wajahnya yang memucat. Prilly menghela nafas dan menatapku dalam, kemudian menggeleng lemah.
"Ngga. Cuma beberapa hari ini aja rasanya mual." Prilly kembali membasuh mulutnya kemudian menatapku lemah. Aku mengerutkan kening bingung. Ucapan Kirun beberapa waktu yang lalu kembali berputar diotakku. Apa benar Prilly sedang hamil?
"Apa mungkin Kamu lagi.. Hamil?"
"Hamil?" Aku mengangguk cepat.
"Kita pastiin dulu Honey."
"Kalau gitu, besok Kita kedokter," putusku cepat. Aku benar-benar tidaksabar mendengarnya. Prilly menganguk lemah.
Aku berlutut didepan Prilly, mendekatkan telingaku di perutnya, mencoba mendengarkan sesuatu yang ada didalam sana.
Prilly terkekeh kecil melihat tingkahku. "Kamu ngapain Honey? Bangun ih!"
"Kamu diem dulu, Aku mau dengerin dia didalem lagi ngapain?" ucapku mengelus perut Prilly yang masih rata.
"Kita pastiin dulu Honey, Lagi pula dia juga masih kecil," kekeh Prilly membantuku bangun.
Tanpa persetujuannya, langsung kuangkat tubuhnya dengan cepat kemudian menciumi seluruh bagian wajahnya. Dia sempat memberontak dengan aksiku. Aku tidak perduli! Yang pasti saat ini Aku merindukannya. Sangat!
***
AUTHOR
Prilly membentangkan kedua tangannya di balkon kamarnya,merasakan udara malam yang berhembus mengenai tubuhnya. Tubuhnya seketika menegang merasakan kedua tangan yang sedang memeluk perutnya dari belakang.
"Lagi ngapain sih?" bisik Ali tepat didepan telinganya, kemudian digigitnya pelan. Prilly menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Aku berutung banget, Tuhan milih Kamu jadi patner hidup Aku," lirih Prilly setelah lama terjadi keheningan. Ali terkekeh mendengar penuturan istrinya.
"Seharusnya yang beruntung itu Aku, pada akhirnya Tuhan nyiptain wanita sempura ini buat Aku," kekeh Ali mengeratkan pelukannya.
"One Four Three."
"One Four Three Three."
Mereka berdua sama-sama tertawa mendengarnya. "Oh ya, hari ini Kamu belum minum obat 'kan? Ayo masuk." Prilly menarik tangan Ali memasuki kamar. Sementara Ali hanya mendengus kesal. Bisa-bisanya Prilly mengingatnya.
"Aku udah sembuh sayang," protesnya mengekori Prilly.
***
Entah sudah yang keberapa kalinya, Prilly menggonta-ganti chanel Televisinya dengan cepat. Sangat membosankan. Diliriknya Ali yang masih asyik memainkan ponselnya, sepertinya dia sedang bertukar pesan dengan seseorang.
"Honey.." rengek Prilly sesekali ikut membaca pesan Ali. Ali hanya berdehem pelan sebagai jawaban.
"Lagi ngapain sih? Lagi chat-an sama cewek lain ya?"
"Iya. Ini ceweknya cantik banget," jawab Ali asal tanpa menoleh kearah Prilly.
"Tinggi ngga?"
"Tinggi, sepantaran sama Aku. Sexy lagi dia."
