“Lo udah seenaknya ‘Nidurin’ dia, dan sekarang apa yang Lo lakuin? Buang dia? Iya? Brengsek!” ucap Prilly menghempaskan kerah Kevin begitu saja.
“Lo pikir dia apa? Hah? Cepet Lo temuin dia, minta maaaf sama dia! Brengsek!” Prilly menendang kaki Kevin tepat pada tulang keringnya.
“Aw..” ringis Kevin memegang tulang keringnya yang terasa nyeri akibat tendangan Prilly yang begitu kuat ditambah dengan sepatu tebal yang digunakanannya.
“Sebaiknya Lo pergi aja Vin, Lo selesai-in masalah Lo sama Mila,” ucap Kirun bergidik ngeri melihat tingkah Prilly. Sementara Ali hanya diam, tidak percaya dengan tingkah Prilly yang mengerikan saat ini. Ali mengisyaratkan pada Kevin agar pergi ketika Kevin beralih menatapnya.
“Tapi hari ini Gue ada meeting besar,” desis Kevin pelan.
“Lo tenang aja, kita bisa undur meetingnya besok. Lagipula salah satu client kita hari ini juga berhalangan hadir. Lo selesai-in masalah Lo dulu,” kali ini Ali yang angkat bicara.
Kevin menghela nafas. “Oke. Gue pergi dulu,” ucap Kevin bangkit dari duduknya. Tangannya sesekali memegang tulang keringnya yang masih nyeri.
***
Setelah punggung Kevin menghilang dari pintu, Kirun ikut bangkit keluar, dia tahu setelah ini apa yang akan terjadi, melihat mereka bermesraan didepannya? Ck!
Saat ini hanya tinggal mereka berdua disini. Sudah cukup lama, mereka hanya berdiam diri. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing. Ali menatap Prilly yang mendudukan dirinya pada sofa bekas Kevin. Ali tersenyum dan bangkit dari duduknya ingin menghampiri Prilly namun Prilly menyentakkan tangannya menyuruh Ali berhenti.
“Mau kemana?” tanya Prilly ketus.
“Mau kesana,” tunjuk Ali pada tempat samping Prilly. Ali mengerutkan keningnya bingung. Apa kemarahan istrinya pada Kevin akan berdampak baginya juga?
“Aku aja yang kesana,” ucap Prilly bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ali, mendudukan dirinya di pangkuan Ali. Ali begitu gemas dengan tingkah Prilly yang begitu lucu saaat ini. Ingin sekali melahap bibir mungil istrinya saat ini juga.
Tangan Prilly bergerak mendorong wajah Ali yang sudah berada di dekatnya. “Mau apa? Hem?”
“Mau nyium Kamu, Ngga boleh?” jawab Ali dengan nada kesal, hampir saja bibir mereka bersentuhan, tapi dengan seenak jidatnya Prilly menghentikannya.
“Biar aku aja,” ucap Prilly membuat Ali mau tidak mau harus tersenyum lebar.
Prilly menangkupkan kedua tangannya pada wajah Ali kemudian mengecup bibir Ali singkat. Hanya sekali dan sangat singkat.
Ali membuka matanya kembali ketika sudah tidak merasakan bibir Prilly, kemudian menatap Prilly tajam. “Ngga gitu sayang, Ulang!”
Prilly menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali menyenderkan punggungnya didada suaminya, tangannya bergerak menarik-narik dasi suaminya.
“Aku mau pulang, Aku capek,” keluh Prilly mengerutkan bibirnya.
“Yaudah, ayo pulang!” ucap Ali mendorong tubuh istrinya agar bangkit dari pangkuannya. Kemudian membereskan beberapa lembar kertas yang berserakan di mejanya.
***
Entah sudah beberapa kali Kevin menekan bel apartemen Mila, namun tidak kunjung juga ada jawaban dari dalam. Bahkan password apartemen Mila juga sudah diganti. Sebegitu marahkah Mila pada dirinya? Apa dia tidak pantas menerima maaf dari Mila?
“Mil, bukain pintunya. Aku mohon!” ucap Kevin kembali menekan bel apartemen Mila.
“Aku mohon Mil, kita harus bicarain ini semua, Aku tau aku salah Mil—” ucapan Kevin terhenti ketika pintu apartemen terbuka, Mila hanya membukanya tanpa berbicara apapun, kemudian berjalan kearah sofa diikuti Kevin dibelakangnya. Belum sampai mendudukan dirinya disofa Kevin sudah memeluk tubuhnya dari belakang.
