Chapter 16

17.8K 1.2K 19
                                        

“Honey,” panggil Prilly setelah lama terjadi keheningan, dirinya belum bisa memejamkan matanya. Ali berdehem pelan. “Cium aku!”

Ali membuka matanya cepat, pandangannya turun kebawah untuk melihat wajah istrinya yang sedang berada dalam dekapannya. Apa tadi yang dibilang Prilly? Dia tidak salah dengar 'kan? Menciumnya? Yang benar saja! Ck! Istrinya benar-benar aneh belakangan ini. Apa karena efek kandungannya atau memang hanya akal-akalan Prilly saja?

“Apa? Cium?” tanya Ali memastikan pendengarannya. Prilly mengangguk-anggukan kepalanya cepat.

“Kenapa? Ngga boleh?” tanya Prilly berubah sinis.

“Ngga gitu, tapi sumpah hari ini Kamu itu aneh banget yaang.”

“Aneh? Aku rasa ngga ada yang aneh kok,” ucap Prilly mendongak menatap suaminya.

“Kamu aneh sayang, Kamu—“ belum sempat menyelesaikan ucapannya, bibir tebal Ali sudah terbungkam dengan bibir Prilly. Menurut Prilly suaminya ini sangat lama. Ali diam, tidak membalasnya. Dia tidak ingin melakukan apapun pada tubuh istrinya. Kandungan istrinya masih sangat rentang.

“Gimana? Udah puas?” tanya Ali ketika tautan bibir mereka terlepas. Tangannya bergerak mengusap bibir Prilly yang memerah dan membengkak akibat ciumannya. Prilly mengangguk-anggukan kepalanya, dan kembali mendekap suaminya.

“Nah, kalo gini kan Aku bisa Bocan,” serunya memeluk tubuh suaminya lebih erat. Ali hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian ikut terlelap bersama istrinya.

Sudah hampir satu jam, nihil. Prilly tak kunjung terpejam, dirinya masih terlihat resah, sepertinya keinginannya belum sepenuhnya terpenuhi, masih satu lagi yang berkeliaran diotaknya.

“Honey,” panggil Prilly pelan menggoyangkan tubuh Ali.

“Apalagi sayang? Aku ngantuk,” lirih Ali dengan mata yang masih terpejam. Saat ini dia benar-benar mengantuk bahkan matanya sulit sekali terbuka.

“Honey, buka mata Kamu ihh,” rengek Prilly membuat matanya Ali yang tadinya sulit terbuka menjadi terbuka cepat.

“Kenapa lagi sih?” tanya Ali lembut.

“Aku mau makan nasi goreng buatan Kamu.”

“Besok aja sayang, Aku bakal masakin nasi goreng spesial. Hari ini aku bener-bener capek.”

“Ngga mau! Maunya sekarang.. Please, Ayo dong Honey.. Emang Kamu mau anak Kita ileran?” Ali mengacak rambutnya frustasi. Jika sudah seperti ini mana bisa dia menolak permintaan istrinya.

“Oke, Aku buatin sekarang. Kamu tunggu sebentar.” Ali bangkit dari tidurnya daan bergegas ke dapur. Sesekali mulutnya terbuka lebar. Sungguh, Matanya benar-benar sulit terbuka lebar. Bayangkan saja sekarang pukul 01.00 dini hari.

Ali membuka knop pintu kamarnya pelan. Dilihatnya Prilly sedang duduk dikepala ranjang menunggunya. Sesekali tangannya menutup mulutnya yang menguap.

“Kamu lama banget sih,” dengus Prilly menatap Ali yang sedang meletakan nampan di nakas.

“Kan harus nanak nasi dulu, sayang.”

“Aku udah ngga laper, Aku nggantuk. Kamu aja yang makan,” ucap Prilly dengan santainya, kemudian meringkuk kedalam selimut.

“Tapi sayang--” Ali menatap kesal Prilly yang sudah terlelap. Ini hasil jerih payahnya? Ali meletakan piring yang sedang dipegangnya dengan kasar. Begini rasanya tidak dihargai? Ck! Emosinya sudah tidak dapat dibendung lagi, Ali berjalan keluar dari kamar dan membanting pintu sangat keras.

***

Entah sudah berapa kali Prilly mendial nomor suaminya, namun hasilnya selalu nihil. Tidak ada tanda-tanda suaminya mengangkatnya. Padahal hari ini dia ingin sekali memakan mangga dan beberapa kue. Yah! Seminggu setelah kejadian malam itu Ali terkesan menghindarinya.

Our WeddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang