Part 11

1.6K 138 7
                                        


Moon Chae Won POV

Kuletakkan coolbox yang kubawa tepat dihadapan pria tengik ini. Sungguh aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Ia kemudian membuka kotak itu dan menyeringai tipis.

"Dimana rekan-rekanku?" tanyaku tak sabaran.

Dia terlihat tersenyum sinis. Kulihat ia mengodekan sesuatu kepada anak buahnya. Tak lama kemudian dapat kulihat dua rekanku dokter Oh dan dokter Park dibawa mendekat. Mereka didorong hingga jatuh terduduk di lantai gudang lembab ini. Anak buah pria Eropa ini kemudian menodong mereka dengan senapan laras panjang di tangannya. Membuatku terlonjak dari kursi yang kududuki. Belum sempat aku berlari ke arah mereka, anak buah pria tengik yang berada di sampingku juga menodongkan pistol ke kepalaku. Memaksaku untuk duduk kembali.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku marah.

"Mana file itu?" tanyanya.

Aku mengeryit heran. "File apa? Aku tidak mengambil file apapun."

Pria berpakaian hitam yang menodong rekanku mengokang senapannya. Mendesakku untuk menyerah. Kulirik sekilas rekanku itu. Kulihat dengan jelas ketakutan yang amat sangat dari mata mereka. Tubuh mereka bergetar hebat.

"Serahkan file itu atau rekanmu akan mati," ancamnya.

Aku terdiam. Mendadak menjadi linglung. Aku benar-benar tidak tahu file apa yang ia bicarakan.

"Aku sudah mengatakan padamu untuk menyerahkan file itu."

"Fi... file apa yang kau bicarakan?" tanyaku gugup.

Pria itu menggebrak meja, membuatku kaget dan sedikit terlonjak. "SERAHKAN PADAKU! Atau kau mau melihat rekanmu mati."

Kutatap lagi mata rekanku yang kini basah oleh air mata. Aku tidak bisa melakukan apapun sekarang.

"Satu....Dua...Tiga..." pria itu mulai menghitung. Sementara aku masih terpaku.

"Empat... Lima...Enam... jika pada hitungan ke sepuluh kau tidak menyerahkannya juga, aku benar-benar akan membunuhnya!" ancamnya.

"Tujuh... Delapan..."

"TIDAAK,... TIDAK... KUMOHON. Mereka tidak ada hubungannya apapun mengenai ini. BUNUH AKU. BUNUH AKU SAJAA," teriakku histeris sementara pria itu masih tersenyum sinis.

"Sembilan...."

Kurasakan air mataku mulai mengalir. Sial. Seharusnya tak kutunjukkan sisi lemahku ini. Aku kalut. Pistol di balik sakuku tak bisa kuraih. "JANGAAAN... JANGAAN... AKU MOHON," pintaku, nyaris putus asa.

"Sepuluh..."

Tepat pada saat pria itu menutup mulutnya, suara tembakan terdengar. Peluru dari senapan itu telah dimuntahkan. Menembus tengkorak dokter Park. Membuatnya jatuh seketika meregang nyawa. Dokter Oh disampingnya menjerit histeris. Sementara aku tergugu. Hatiku mencelos melihatnya.

Kulihat anak buahnya yang lain mendekat. Membisikkan sesuatu ke telinga bos-nya. Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya ke arah algojonya yang telah menghabisi nyawa rekanku.

Aku membelalak kaget. Belum sempat aku mengeluarkan suara, algojo itu telah menarik kembali pelatuknya. Menembakkan peluru dari selongsong senjatanya. Mengarah tepat ke kepala dokter Oh.

"TIDAAAK.... APA YANG KAU LAKUKAN? HAH?"

Air mataku semakin deras mengalir. Kucengkeram tepian meja dihadapanku.

"Kau melanggar aturannya nona Moon. Kekasihmu. Kau mengajaknya juga?" tanyanya. Masih dengan senyum sinis yang sungguh amat aku benci.

Kutatap matanya tajam. Amarah telah memuncak dalam diriku. Dengan cepat, kucengkeram tangan pria yang menodongkan pistol ke arahku. Mengalihkan target pistol itu menjauh dari kepalaku dan akhirnya menumbuk ruang kosong. Kupuntir tangannya. Membuatnya menjatuhkan pistolnya. Kulihat penjahat lain telah bersiap dengan pistolnya. Kutarik tubuh penjahat itu. Menjadikannya tameng sehingga peluru-peluru itu mengenainya.

The X FilesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang