Akhirnya kami tiba di Villa. Dan Villa milik Dad benar-benar indah. Villa ini berdiri di bukit tinggi dan pemandangan hijaunya berada di belakang Villa tepatnya di balkon kamar yang akan aku tempati. Oh sungguh, aku ingin sekali mengajak Emmy kesini. Karena jika ada dia mungkin kami bisa seru-seruan disini. Aku masih melihat pemandangan indah disini. Dan sekarang sudah pukul 6 sore. Kami tiba lama sekali dan besok sudah harus pulang. Apa itu tidak terlalu cepat menginfat senin kami sudah masuk sekolah. Fiuh jika begini sebaiknya pada saat weekend panjang baru bisa berpuas-puas disini. Aku mendengus sebal.
Tiba tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar kamarku. Dengan sigap aku langsung membuk pintu tersebut dan memunculkan sosok Harry yang terlihat segar sehabis mandi. Rambutnya bahkan masih basah.
"Harry?"
"Begitu Zayn dan Niall sedang bermain golf di halaman depan, aku langsung mendatangimu. Boleh aku masuk?" Ucapnya yang mana aku langsung memiringkan badanku kesamping dan dia masuk melewatiku dan langsung aku menutup pintu kamar.
Harry langsung berjalan kearah jendela besar dan menopang satu tangannya menyentuh jendela sembari melihat pemandangan dibawah sana. "Bagus bukan?" Tanyaku, kemudian menyusulnya berdiri diambang jendela.
Kemudian ia langsung mengkaitkan tangannya di pinggulku seraya membawaku lebih dekat kearahnya. "Andai saja jika hanya kita berdua disini. Mungkin lebih bagus lagi."
Aku menengadah melihat wajahnya yang sedang menatapku serius. "Kau ini bicara apa? Kita sekeluarga. Jadi kita harus bersama-sama kemari. Tidak ada kata kita berdua."
Dan disaat itu pula Harry melepaskan tangannya yang berada di pinggulku kemudian menatapku keras. Apa aku salah bicara? "Salah jika aku berkata soal kita berdua?" Ucapnya.
"Tidak. Bukan begitu, Harry. Hanya saja itu aneh. Jika mereka tahu maka itu--"
"Ya. Aku tahu jelas apa yang kau maksud. Aku hanya ingin kita berhasil." Dia membuang muka dariku kemudian berjalan menjauhiku dan duduk di bangku santai dekat dengan kasurku.
"Berhasil? Tidak ada yang berhasil dari hubungan kita. Lagi, kita belum memiliki hubungan apa-apa, Harry." Ucapku yang mana membuat dia marah. Dia memukul pahanya dan aku tersentak kaget.
"Jadi kau menganggapku apa sekarang? Seorang kakak lagi? Aku tidak mau! Aku mencintaimu. Seharusnya kau tahu apa posisiku bagimu." Dia mendekat kearahku.
"A-aku masih gamang. Aku belum tahu siapa kau dalam hidupku." Ucapku kalang kabut.
Dia mendesah putus asa. "Apa kau mencintaiku?" Ucapnya yang mana pertanyaan tersebut menohok bagiku. Oh astaga, aku bahkan bingung dengan hatiku sendiri karena aku selalu memikirkan konsekuensi dari ini semua. "Katakan, Ed!"
"Aku-- Harry aku bingung. Bisakah kau bersabar atas jawabanku?" Ucapku lirih. Aku tidak mau dia meledak-ledak.
Dia mendesah mencoba menahan emosinya. "Aku mengerti. Aku akan menunggu jawabanmu. Jika kau berkata bahwa kau mencintaiku kuharap kau mau menjalin suatu hubungan lebih denganku. Aku tidak ingin kau menganggapku sebagai kakakmu karena nyatanya aku memang bukan kakakmu. Aku tidak suka mendengarnya atau menghadapi kenyataan tersebut. Kau mengerti?"
"Aku mengerti." Dengan begitu dia menarikku ke dalam pelukkannya dan aku bisa merasakan napasnya di rambutku sambil membawa tangannya mengusap punggungku secara melingkar. Ini membuatku nyaman.
***
Aku mengambilkan acar di depanku karena Harry yang meminta tolong padaku. Jarak kursinya dengan acar cukuplah jauh jadi mau tidak mau aku harus mengambilnya. Toh memang aku selalu akan menuruti kata-katanya. Karena dia berbeda. Dia menjadi lebih baik bahkan dia menjadi salah satu orang favorite ku disini. Tentunya aku tidak tahu dalam posisi apa? Apakah kakak atau justru-- ah sudahlah.
