"Edith, ayo bermain bersama kami!" Seru teman-teman Smpku saat aku masih bermain dengan boneka Barbie-ku. Aku langsung memasukkan barbie-ku ke dalam ranselku dan bergabung bermain bersama mereka.
"Hai, kita main apa?" Tanyaku pada mereka.
"Kita main kejar-kejaran tapi sebelumnya ada yang ingin menyampaikan sesuatu padamu, Edith. Nathan, ayo bicaralah padanya."
Aku melihat sosok pria disamping. Ya, dia adalah seorang pria yang suka sekali mengangguku sejak aku masuk smp. Dan entah mengapa setiap aku melihatnya, perasaanku menjadi tidak enak.
"Oh Meredith Anderson!" Ucapnya lantang. Aku mengerjapkan mataku sekali sambil menelan ludah. Apa sebenarnya yang terjadi?
"Kau adalah wanita yang paling cantik di sekolah ini." Oke aku mulai tak nyaman.
"Kau selalu menjadi pusat di sekolah ini bahkan kau selalu menjadi pusat hatiku." Mengapa tiba-tiba menjadi menjijikan?
"Kau tahu, sejak lama aku ingin menjadi kekasihmu. Kau sungguh mempesona. Edith?" Dia memegang tanganku tanpa seijinku. Mataku menjereng lebar.
"Jadilah kekasihku." Dia berlutut kemudian mencium tanganku tanpa seijinku lagi. Sialan!
"Jauhkan tanganmu dariku!" Aku memekik sementara teman-temanku malah menyorakiku dan Nathan.
"Kumohon lepaskan." Aku merintih dan teman-temanku masih saja menyoraki kami berdua.
BUGGGH....!
Aku tersentak ketika Harry baru saja melayangkan pukulannya kepada Nathan dan seluruh orang disini menjadi bungkam. Aku melihat Nathan meringis sambil mengelap darahnya yang ada di sela-sela bibirnya.
Aku menatap wajah Harry yang penuh emosi dan kebencian pada Nathan. "Sekali lagi kau berani menyentuhnya atau mendekatinya, akan ku habisi kau." Ucapnya lalu menoleh padaku. "Mengapa kau masih disini? Pergi sana!" Usirnya kasar dan tanpa apa-apa lagi aku hanya bisa pergi, menuruti kata-katanya.
***
"Harry membantumu?" Tanya mom. Sembari ia menyisir rambutku. Aku hanya mendesah melihat pantulan diriku di cermin.
"Ya, Mom. Tapi setelah itu ia menjadi dirinya lagi yang kasar padaku." Aku memilin ujung-ujung gaunku. Malam ini aku terlihat wangi dan cantik. Ah entahlah, harus nya begitu karena hari ini adalah hari ulang tahun Zayn yang ke 16. Dan akan ada pesta dirumah ini. Dan ia mengundang teman sekolahnya sementara sebagiannya Dad mengundang kerabat kerjanya.
"Kau tidak perlu khawatir, sayang. Sebenarnya ia menyayangimu cuma dia terlalu gengsi."
Aku menoleh pada Mom. "Benarkah itu Mom?"
Oh kuharap jawabannya benar. "Tidak." Tiba-tiba seseorang memotong percakapanku dan Mom, aku melirik kearah pintu mendapati Harry sudah mengenakan toxedo dan ia terlihat tampan tetapi sayang wajahnya terlihat masam.
"Harry?" Panggilku dan dia tidak mengubris. Ia hanya melihat Mom.
"Mom, mereka semua sudah menunggu kalian di bawah. Aku disuruh Dad untuk memanggil kalian."
Mom tersenyum. "Baiklah kalau begitu, ayo sayang." Mom memegang tanganku dan menggiringku untuk turun kebawah. Aku melirik Harry berjalan disebelahku, sebenarnya ini menyenangkan walau hanya sebentar tetapi dia benar-benar ada di sampingku sampai kami tiba di ruangan pesta ulang tahun Zayn.
