"Non Edith, tidak apa-apa jika membantu Bibi mempersiapkan sarapan untuk Non sama Tuan-tuan muda?" Ucap Bibi Jane selaku pembantu dirumah ini.
"Tidak bibi, kan aku yang meminta ini, aku hanya ingin belajar mandiri jika Dad dan Mom sedang melakukan bisnis. Aku juga ingin menunjukkan pada mereka bertiga kalau aku bisa melakukan ini" Ucapku sembari membawa nampan berisi Bacon, dan roti isi yang sudah Bibi dan aku buat. Ya walaupun aku hanya membantu sedikit. Tetapi ini sudah awal yang baik bagiku.
Zayn, Niall, dan Harry baru saja tiba di meja makan dengan tas yang mereka jinjing berpakaian rapi dan tentu saja tampan dan wangi.
"Wow, Edith kau mempersiapkan semuanya?" Ucap Niall kaget.
"Hanya sedikit" Kekehku
"Tidak apa. Kau sudah baik melakukannya" Ucap Zayn.
"Apa kau juga yang memasak ini?" Ucap Harry sambil menunjuk semua makanan yang ada di meja makan.
"Ya seperti itulah. Kecuali Roti isi. Itu memang sudah komplit"
Kemudian Harry tak banyak bertanya dan langsung mengambil roti isi dan menaruhnya di piringnya. Mengapa dia tidak menyetuh baconnya? Apa dia tidak suka jika aku yang memasaknya? Kejam sekali jika memang begitu.
"Wow! Baconnya lebih enak daripada masakan Mom, serius!" Ucap Niall dengam mulut penuh.
"Niall, telan dulu makanannya. Lain kali kau harus coba masak yang lain Edith ini sungguh lezat" Ucap Zayn sambil mengacungkan jempolnya.
"Hey, Harry cobalah. Ini lezat sekali" Sambar Niall
"Tidak. Aku kenyang" Ucap Harry mengernyit kearah Niall.
"Edith, mengapa kau tidak makan? Apa yang kau tunggu?" Tanya Zayn kemudian Harry menoleh padaku.
"Aku juga tidak lapar. Hari ini aku naik taksi ya semuanya. Ada jadwal penting di sekolah dan aku harus berangkat pagi-pagi sekali" Ucapku Beralasan. Bukan begitu, hanya saja melihat kelakuan Harry membuatku jadi tidak selera makan dan awkward di meja makan. Ini membuatku untuk mencari alasan supaya cepat cepat pergi dari sini sementara.
"Buru buru sekali? Apa terjadi sesuatu?" Ucap Zayn
"Tidak ada. Aku pergi yah. Sampai jumpa di sekolah" Aku langsung meraih tasku di lantai dan langsung berlari pura pura buru buru. Kenyataannya adalah aku sedih karena Harry tidak menghargai jasaku. Kapan dia akan selamanya seperti itu padaku? Ini membuatku muak teramat muak. Dad, Mom kuharap kalian cepat pulang.
***
Aku sedang tidak ingin bermain basket karena aku kapok. Keadaanku saja belum sepenuhnya pulih, dan aku mengikuti kegiatan ini lagi? Aku pasti sudah di marahin oleh Zayn.
"Hai, Edith?" Tiba tiba seseorang bergabung denganku duduk di kursi panjang sambil menonton mereka yang bermain basket.
"Oh hai James. Sedang apa kau disini?"
"Hanya melihat lihat dan ternyata aku menemukanmu disini jadi aku memilih untuk mampir" ucapnya dengan senyuman manisnya.
"Oke. Jika begitu aku senang kau disini. Sedari tadi aku kesepian terus dan hanya bisa menunggu Emmy yang sedang bermain basket"
"Uhmm aku ingin bertanya. Mengapa kau jarang sekali bersama Harry? Maaf bukan maksud kepo atau apa, aku hanya heran saja"
"Oh tidak ada apa apa. Harry memang seperti itu. Dia suka dunianya sendiri. Dan aku menghargai itu"
"Begitu ya? Dengar dengar dia sedang dekat dengan Kendall"
"Ya. Kau tahu?"
"Cukup tahu. Aku pernah mengencani Kendall sewaktu aku kelas 11"
What the fuck "benarkah?"
"Ya. Saat itu dia masih junior dan dia imut sekali serta polos. Tapi setiba dia naik ke kelas 11 sifatnya berubah drastis, dan membuatku membiarkannya"
Oh wow! Kendall benar benar hebat! Dia bisa menaklukan pria mana pun di sekolah ini termasuk Harry. Dan hebatnya lagi pria yang mendekatinya bahkan kelewat tampan semua.
"Ya. Tidak semua wanita yang kau anggap polos terus-terusan polos. Maksudku terkadang mereka mampu berubah seiring berjalannya waktu, bukan?" Ucapku
"Ya. Jika mereka mampu meningkatkan popularitas mereka. Jadi hey, apa kau sendiri juga akan seperti itu?" Tanyanya
Seperti siapa maksudnya? Kendall? "Seperti kendall?" Dan dia hanya mengangguk. "Uhm tidak. Kau tahu, aku anak pemilik sekolah disini dan aku tidak besar kepala bahkan tidak mau menyombongkan diri."
"Ya aku tahu, bahkan siswa disini tidak banyak yang tahu bahwa kau anak Mr. Anderson, kecuali sekelasmu tentu saja" ucapnya tiba-tiba sedetik itu juga bel masuk. Dengan sigap aku bangkit berdiri disusul oleh James.
"Kalau begitu aku duluan ya, Sampai bertemu lagi" ucap James kemudian berlalu begitu saja.
"Hey, kau berbicara apa saja dengannya? Apa kalian membicarakanku lagi?" Tiba tiba kulihat Emmy sudah berada di dekatku.
"Tidak kau percaya diri sekali Rashelling. Ayo ke kelas" ucapku sembari merangkul Emmy.
...
Kebetulan ini hari yang menyenangkan karena 1 jam mata pelajaran bahasa inggris di kelasku sedang kosong. Guru yang mengajar sedang tidak datang hari ini, jadi kami semua sorak bergembira dan mulai ribut di kelas.
"Ayolah Edith, kita selfie. Aku belum pernah berfoto denganmu"
"Tidak. Aku tidak terlalu menyukainya"
"Ah kau malu-malu. Kau tidak asyik. Siapa yang membuatmu malu. James sialan itu bahkan tidak ada disini" Ucap Emmy dan apa? James? Dia mengira aku malu karena James? Ada ada saja.
"Tidak ada hubungannya dengan James. Duduk diam sambil.membaca novel itu lebih menyenangkan"
"Hey, siapa juga yang mau melakukan hal yang membosankan seperti itu? Lagi, mumpung kelas kita free les. Jadi dipuas-puasi saja selama satu jam."
Huh.... aku mendesah dalam hati "Baiklah satu foto saja, oke?"
"Dua. Oke?"
"Terserah" aku memutar mata.
Tak lama kami berfoto ria, tiba tiba Liam menghampiriku di bangkuku ini membuatku teramat malu karena saat Liam datang kami sedang mengekspresikan wajah lucu kami di depan kamera, sialan.
"Hey, Edith? Apa kau lupa janjimu?" Bisik Liam
Janji? "Apa?"
Dia memutar matanya dariku "Nomor ponsel Elisabeth. Ayolah kau teman baik dia semasa smp kan? Kau tahu, aku belum bisa move on dari dia" ucap Liam
"Oke oke. Ini" aku menjulurkan handphoneku yang berisi kontak Elisabeth.
"Oke sudah, terima kasih. Dan oh ya mengapa kau tahu mengenai aku dan Elisabeth?"
"Tentu tahu. Elisabeth sering menceritakanmu"
"Benarkah?" Ucap Liam tidak menyangka.
"Ya. Sewaktu kalian masih pacaran tapi"
Kulihat Liam mendengus berat dan tak lama kemudian hadir sosok Harry dibalik punggung Liam dan dia mengunci pandangannya kearahku. Mengapa tiba tiba menjadi horror ya?
TO BE CONTINUED
