"Pokoknya aku tidak ingin tahu, setelah ujian tolol kita berakhir kau akan membawaku ke Villa Ayahmu, oke?" Ucap Emmy.
Aku mengangguk dan terkekeh. "Tentu."
Ya, sedari tadi yang kami lakukan jika sedang bosan adalah aku bercerita mengenai liburan singkatku di Amsterdam dan itu benar-benar membuat Emmy mati rasa. Aku yakin ia pasti sangat bersemangat jika sudah berbicara soal liburan keren. Maka dari itu aku tidak ambil pusing untuk mengajaknya kemanapun.
"Hey, kau tidak mengajak James kan?"
"Tidak."
Dia bernapas lega. "Oh syukurlah, berarti aku bisa berleluasa mendekati--"
"Tapi Zayn yang akan mengajaknya." Tukasku cepat sementara Emmy langsung menjerengkan matanya. Lucu sekali.
"A-apa? Oh sialan! Bagaimana nantinya?"
"Kau tenang saja. Aku sudah berkata pada James untuk tidak mencampuri urusan pribadimu. Aku berpihak padamu." Ucqpju langsung menepuk bahunya.
"Benarkah? Kau berkata sesuatu pada James? Dan aku tidak perlu khawatir? Bagus! Kau memang sahabatku! Jadi apa sudah ada kedekatan diantara kalian?"
Aku menoleh cepat kearah Emmy. "Maksudmu aku dan James?"
"Ya begitulah."
"Tidak."
"Baguslah! Jangan sampai kau mendekati dia. Bukan karena aku tidak setuju tetapi kau tahu kan aku sedang mencoba mendekati kakakmu Niall?"
Oh iya! "Ah yayaya. Terserah padamu saja Emmy Rashelling."
"Edith?"
Tiba-tiba saja seseorang memanggilku dari belakang kursiku. Aku menoleh kebelakang dan kulihat Harry terduduk sendiri di kursi belakang tanpa ada Liam. Dia menatapku.
"Harry? Ada apa?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
Aku mengangguk tidak yakin.
"Aku akan menunggumu di halaman belakang sekolah." Bisiknya saat ia sudau bangkit dari kursinya dan berjalan melewatiku dengan kedua tangannya di dalam saku celananya. Sementara aku masih berpikir untuk mengikutibya atau justru diam disini. Ah tapi tidak. Harry bisa marah. Dan aku tidak mau mempermainkannya. Dengan begitu aku langsung cepat menyusulnya, tentunya aku permisi kepada Emmy.
***
"Duduklah." Harry menarik tanganku untuk duduk bersamanya di kursi putih panjang di samping pepohonan besar yang rindang dan banyak daun berjatuhan.
"Harry? Apa yang ingin kau katakan?"
"Dad dan Mom akan pulang nanti sore atau mungkin malam. Kepulangan mereka lebih cepat dari yang aku kira. Jadi---"
"Jadi?" Aku menelan ludah, gugup.
Harry mengambil kedua tanganku yang menganggur dan menggenggamnya. "Kau ingin kita bagaimana di hadapan mereka? Apa kita harus memberitahu semuanya? Jujur aku sudah tidak tahan lagi."
Aku tersentak. "Apa? M-memberitahu semuanya? Tidak. Mereka tidak boleh tahu tentang perasaanmu padaku, Harry. Aku tidak ingin Dad dan Mom akan marah besar. Kumohon jangan beritahu." Aku membawa tanganku menyentuh dadanya yang bidang agar mau bersabar.
"Setidaknya jawablah kata hatiku. Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?"
Pertanyaan seperti ini langsung membingungkan pikiranku. Hatiku berkecamuk, dan tiba-tiba suasana menjadi gerah. Aku masih belum menemukan jawabannya. Perasaan itu seperti apa? Apa seperti aku yang mencintai keluargaku walau mereka bukan keluarga kandungku? Apa seperti aku mencintai barang berharga milikku yang selalu kusimpan di balkon kamarku? Apakah perasaan itu terasa tidak menyenangkan saat ada yang hilang? Ya, aku akui aku sangat tidak ingin Harry pergi. Aku tidak menginginkan jika Harry berada di jalan yang salah seperti mabuk-mabukkan, berbuat onar, dan mempermainkan wanita dan bahkan selalu dimarahi oleh Dad. Aku menyayanginya dan aku tidak ingin dia terluka dan tersiksa.
"Edith?" Harry memanggilku.
"Uh-- ya?"
Dia mengangkat kedua alisnya pertanda menunggu jawabanku. Dan ya aku sudah siap menjawabnya tapi aku tetap tidak bisa mengambil resiko bersamanya. "Ya, aku mencintaimu, Harry. Aku mencintaimu." Aku memejamkan mataku meresapi hal-hal yang akan terjadi setelah ini.
Harry begitu senang. Raut wajahnya mengekspresikan bentuk kebahagiaan yang mendalam. Kemudian ia langsung memelukku erat dan mencium keningku.
"Akhirnya! Edith.... kau mencintaiku. Dan aku mencintaimu." Ucap Harry berulang-ulang. Aku tetap diam di dalam pelukannya sambil tersenyum bahagia karena aku bisa melihat Harry sesenang ini.
Author P.O.V
Harry begitu gembira saat Edith menyampaikan perasaannya dan berbuah manis. Perasaan Harry akhirnya pun berbalas. Disaat mereka mulai terhanyut oleh kata-kata cinta di sebuah kursi kayu panjang yang mereka duduki, ada seseorang pria yang tak sengaja mendengar pembicaraan mereka, bahkan sempat melihat aksi mereka ketika berpelukan dan mencium kening.
"Ini tidak mungkin." Gumamnya masih menyender lesu di tembok dinding yang agak jauh. Pria berambut kuning mengkilat itu masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Hingga seseorang menyadarkan dirinya.
"Niall?"
Yang di panggil menoleh. "Louis?"
Louis menghembuskan napas leganya. "Kau darimana saja? Sekarang saatnya kita latihan band. Ayo, Sang Gitar sudah menunggumu di studio." Louis langsung merangkul Niall dan mengajaknya pergi. Sementara Niall membalasnya dengan senyuman palsu. Dia masih tidak percaya dengan yang dilakukan kedua adiknya tersebut.
***
Setelah pulang sekolah keempat bersaudara Anderson ini sekarang sudah berada di meja makan, menyantap makan siang mereka seperti biasanya. Sedadi tadi mereka sibuk berbasa-basi dan bercanda. Tapi entah mengapa hanya Niall yang diam saja sejak pulang sekolah tadi. Biasanya dia yang paling berisik, kini dia tidak ingin mengucapkan sepatah katapun di ruang makan.
"Hey, Niall mengapa makananmu belum habis-habis?" Ucap Harry sementara Niall hanya mengudak-aduk spagetthinya.
"Niall, kau tidak suka? Aku bisa membuatkanmu yang lain kalau begitu." Ucap Edith. Kemudian Niall langsung menoleh kearah Edith dan menggelengkan kepalanya.
"Niall, apa kau sakit? Kau banyak diam." Zayn langsung mejalankan tangannya ke dahi Niall. "Tidak panas."
"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit lelah. Dan nafsu makanku berkurang hari ini." Ucap Niall gugup kemudian mencoba menyingkir dari ruangan ini. Ia butuh bernapas dari saudara-saudaranya. Jadi ia langsung menaiki anak tangga dan berjalan hendak menuju kamarnya.
"Niall?" Zayn langsung memanggilnya ketika Niall susah sampai di lantai atas.
Niall menoleh.
"Ada sesuatu yang ingin kau katakan?" Ucap Zayn memastikan.
Niall bergeming sebentar seperti sedang menahan mulutnya sementara Harry dan Edith masih diliputi kebingungan melihat Niall yang aneh. "Tidak." Ucapnya singkat kemudian ia meneruskan berjalan kearah kamarnya.
TO BE CONTINUED
