Enam

20 3 0
                                    

Rifan pun masuk ke uks yang didalam masih ada aza, via, dan khansa. Namun rifan membawa aja keluar uks untuk ke kelas karna memang upacara telah selesai. Selama di perjalanan aza mengajak rifan bicara.

"Fan apa yang tadi pagi dibilang khansa bener ya?"
"Emang khansa bilang apa?"
"Via suka sama lu"
"Ya mana gue tau kalo itu"
"Ish lu cari tau dong"
"Lu cemburu ya?"
"Ga lah, ngapain gue cemburu sama adek gue sendiri"
"Terus ngapa lu nyuruh gue nyari tau?"
"Ya kalo via beneran suka gue bisa jaga diri dari lu"
"Kalo gitu gue gamau ah. Nanti kalo via beneran suka lu ngejauh lagi dari gue, terus gaada temen yang bisa gue jailin tanpa harus baper dan gaada temen yang selalu curhat ke gue"
"Yaelah lebay lu"
"Eh lu mau balik apa tetep belajar aja? Kayaknya hari ini ga belajar dha"
"Lha ko ga belajar?"
"Lu lupa apa pikun?"
"Sama aja rifan yang gantengnya maksimal, kata orang"
"Gue tetep sekolah aja deh"
"Yakin lu?"
"Ya"
"Yaudah yuk cepetan jalannya. Kayaknya mau ada lomba gitu dha nah pagar tangganya mau dikunci takutnya udah dikunci. Lu masih lemes ga?"
"Ga"

Tiba tiba saat rifan dan aza ingin belok menuju tangga, bu gita memanggil aza.

"Fan lu duluan aja nanti gue susul"
"Gausah kalo lu udah selesai ngomongnya tunggu di kursi itu aja nanti gue ke situ. Gue bawain ko tas lu"
"Oh okay"

Aza pun berjalan mendekati bu gita yang sedang duduk di kursi tadi yang rifan tunjuk.

"Ada apa bu?"
"Kamu ga ikut upacara ya?"
"Iya bu. Maaf ya bu"
"Iya gapapa. Ibu tau tadi kamu pingsan kan. Bunda kamu tadi telfon ibu bilang kalo kondisi kamu belom bener bener sembuh sebenernya ibu pengen manggil kamu tadi biar ga upacara tapi ibu udah keburu dipanggil kepala sekolah. Maaf ya"
"Iya gapapa bu"
"Terus adik kamu ikut upacara ga tadi? Bunda kamu juga minta tolong ke ibu nyuruh via gausah ikut upacara"
"Via ga ikut upacara ko bu. Tadi dia di kelas tapi sekarang lagi di uks bu"
"Oh yaudah. Maaf ya ibu ganggu kamu. Ibu tinggal ya mau ke uks dilu temuin adik kamu"
"Oh iya bu"

Setelah bu gita masuk ke uks, khansa keluar dari uks. Dan khansa liat aza berada di kursi samping tangga yang letaknya tidak begitu jauh dari uks. Khansa pun mendekati aza dan duduk di sebelahnya.

"Eh khansa"
"Ka aza sendirian aja"
"Sha, Emang via beneran suka sama rifan ya?"
"Gatau deh ka. Tapi aku liatin dari gerak gerik pas dia lagi dideket ka rifan sama tatapan dia mandangin ka rifan beda"
"Sok tau nih khansa"
"Bisa aja beneran kan ka"
"Oh iya tadi rifan bilang kayaknya hari ini ga belajar"
"Oh gitu. Nanti sih sekitar jam sembilanan aku mau izin ga masuk karna ada acara keluarga"
"Oh. Kalo via gaada perubahan dari pusingnya nanti via pulang bareng kamu aja boleh ga?"
"Boleh ka"

Bu gita pun keluar uks dan dia menyuruh khansa untuk mengajak via pulang bersama karna memang sebelumnya khansa sudah izin ke bu gita. Jadi maksud bu gita, khansa dan via pulang bersama saja. Karna bu gita sudah tahu keadaan via yang sedikit tidak baik.

Rifan sampai di kursi tempat aza menunggunya dan rifan mengajak aza ke kantin.

"Mau ke kantin ga za? Gue laper nih"
"Oh yaudah"

Khansa masuk kedalam uks mengajak via pulang namun ia tidak mau tapi khansa terus merayu via agar mau akhirnya via mau dan via pun ke kantin untuk izin kepada kakanya namun khansa menunggu via di parkiran bersama kakanya.

Saat di kantin rifan memilih kursi paling pojok karna ia tau pasti aza akan malu bila ia berbuat seperti orang pacaran saat makan di kantin.

"Za lu ga mau makan?"
"Paling juga lu ga abis tuh makanannya dan ujung ujungnya nyuruh gue ngabisin dha"
"Gue serius za"
"Gue udah sarapan, ka rifan.", kata aza yang menekankan akhir kalimatnya.
"Udah sarapan tapi pingsan"
"Dikit tadi makannya", aza menyeruput coklat panas yang ia pesan tadi.
"Pantes. Udah tau baru sembuh, sok sok an sekolah, juga sarapannya dikit", rifan memberi jedaan dalam kalimatnya "nih makan, buka mulutnya", rifan menyuapi aza dan aza membuka mulutnya.

Saat rifan menyuapi aza, tidak sengaja via melihatnya. Hal itu sudah beberapa kali via lihat. Via rasa bila ia menyukai rifan, ia hanya menganggu kakanya dan rifan. Via adalah tipe perempuan yang harus dituruti apapun yang ia inginkan, termasuk mendapatkan rifan. Namun menurutnya ia sudah harus dari sekarang mengurangi perlahan rasa yang ia miliki kepada rifan sebelum rasa itu datang lebih besar.

"Ka, via izin pulang ya", izin via yang tiba tiba sudah berada disamping aza.
"Lha ko via disini?"
"Ka, via izin ya hari ini"
"Via masih sakit?"
"Iya, pusing sedikit"
"Naik apa baliknya?"
"Bareng khansa"
"Emang khansa mau pulang?"
"Iya. Khansa sekarang lagi nunggu via di parkiran sama kakanya"
"Beneran nih izin? Udah bilang wali kelas via?"
"Belom tapi kata khansa udah di izinin"
"Yaudah. Hati hati ya"
"Iya ka"
"Nanti kaka yang izinin via"
"Iya sama gue", ternyata sedari tadi ia mendengarkan kedua adik kaka itu bicara.
"Siapa yang ngajakin lu?"
"Gua sendiri"
"Ya dah serah. Yaudah vi hati hati", aza mengajak via berdiri dan via berjalan ke arah parkiran sedangkan aza dan rifan berjalan menuju ruang guru yang letaknya tidak jauh dari kantin.

Sampainya di ruang guru, aza mencari wali kelasnya yaitu, bu gita. Rifan lun juga mencari dimana bu gita, mereka juga menanyakan kepada guru guru lain.

Ternyata bu gita ada di toilet yang berada dalam ruang guru. Sampainya bu gita di mejanya, aza bersama rifan datang.

"Bu"
"Eh aza sama rifan. Ada apa?"
"Via izin ya bu hari ini"
"Vja adik kamu ya?"
"Iya bu"
"Kenapa mau izin?"
"Kepala via pusing bu"
"Oh iya. Tadi ibu udah suruh khansa pulang bareng via. Kan ibu yang minta khansa ajak via pulang. Abis via keliatan pucet ibu takut dia kambuh sakitnya karna bunda kamu udah cerita tentang penyakit via"
"Iya bu makasih. Tapi aku minta tolong ya bu jangan kasih tau siapa siapa"
"Iya"
"Yaudah bu kita pamit ya"
"Oh iya", aza dan rifan salim dengan bu gita lalu keluar dari ruang guru.

loverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang