"Wah, lumayan juga rencanamu, Rief!" Komentar Tya.
"Iya, tadi juga. Kertas itu kamu dapat ide dari film-film. Kamu 'kan sukanya main game," Sahut Irfan.
"Hehe. Entah mengapa, saat-saat terdesak dan membahayakan begini otakku encer banget. Aku juga kagum sama diriku sendiri," Arief tersenyum bangga.
"Fan? Kamu tahu tempat gudangnya, 'kan? Ayo kesana! Yang lainnya, dibagi 2 kelompok. Putra, Priyo, Trisna, Maulana, Amal, Keysha, Ana, Laili, Sekar, Hira, Sywa, Dyan, A'yun, dan Ica, ikut aku ke gudang! Sisanya, langsung ke rumah Naomi. Fit, masih hafal yang dikatakan ibu Karisma tadi, 'kan?" Kata Tya. Fitri mengangguk.
"Kalau begitu, ayo!" Arief berlari mendahului yang lainnya.
"Rief! Tunggu!" Putra langsung mengejar Arief.
"Fit! Aku serahkan ke kamu, ya!" Tya langsung berlari mengejar Arief begitu Fitri mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, ayo kita ke rumah Naomi!" Ajak Fitri yang dijawab anggukan yang lainnya.
***
Fitri dan yang lainnya tiba di depan rumah Naomi.
"Yang ini, 'kan?" Kata Syifa. Fitri hanya mengangkat bahu.
"Ada bel. Coba tekan," Sahut Raya.
Fitri mengangguk lalu menekan bel. Terdengar suara dari dalam rumah. Rumah itu memang sangat mewah. Dengan pagar yang menjulang tinggi berwarna emas, rumah yang bertingkat 3, tidak heran yang namanya Naomi ini bisa berbuat seenaknya.
"Siapa?" Seorang pembantu yang bekerja di rumah itu keluar dari rumah.
"Kami teman-temannya Naomi. Betul ini rumahnya Naomi?" Tanya Fitri.
Pembantu itu mengangguk. "Tapi Nona Naomi sedang tidak ada di rumah,"
"Siapa, bi?" Seorang pemuda seumuran mahasiswa keluar dari rumah itu membuat Fitri dan yang lainnya sontak terkejut.
"Ini, teman-teman Nona Naomi ingin bertemu Nona,"
Pemuda itu melirik Fitri dan yang lainnya sekilas. "Biarkan mereka masuk," Lalu pemuda itu masuk kembali ke dalam rumah.
"Silahkan masuk," Pembantu itu membukakan gerbang lebih lebar untuk Fitri dkk.
"Terima kasih," Fitri mengangguk ke arah Putri. Putri yang sudah tahu tugasnya, membalas anggukan Fitri.
***
"Gudang ini, huh?" Arief menatap gudang tua yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Ini gudang terdekat disini, aku nggak terlalu yakin, sih. Tapi...."
"Ini gudangnya," Priyo memotong ucapan Irfan.
Arief langsung menoleh ke arah Priyo. Priyo memberi isyarat ke Arief untuk melihat sisi kanan dan kirinya. Dan benar saja, terlihat beberapa pengawal berpakaian rapi sedang berjaga di depan gudang.
"Wah, ini namanya tantangan. Satu lawan dua, ya?" Putra menyiapkan tinjunya.
"Yah, untuk bisa masuk memang harus melewati mereka dulu. Kuserahkan ke kalian, deh" Tya langsung mundur beberapa langkah untuk memberi ruang kepada para lelaki yang mungkin siap bertarung.
"Sepertinya mereka orang terlatih, harus pakai akal, nih," Priyo menanggapi. Putra mengangguk setuju.
"Aku punya ide," Maulana menepuk pundak Priyo lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DEATH CLASS
Teen FictionDelapan A ( 8A ) diulangi lagi biar paham, DELAPAN A. Siapa yang nggak kenal si kelas artis yang selalu keluar dari mulut para guru? Kami memang kelas rusuh, but, cerita suka dan duka tak pernah lepas dari kelas kami. Kejadian aneh satu persatu mula...
