STORY 14

415 34 3
                                        

     "Li! Jangan main-main, dong!" Fitri mengguncang tubuh Laili dengan emosi.

     "A, aku nggak bohong! Karisma kemarin BBM aku, dia merasa kalau ada yang akan menculik dia! Lalu dia off," Ujar Laili sedikit bergetar.

     "Dia BBM kamu? Jam berapa?" Tanya Tya.

     "Sekitar... Jam 4 sore,"

     "Itu waktu kita pulang sekolah, kan'? Siapa yang terakhir kali lihat dia?!"

     "Kami! Kami piket hari selasa!" Seru Irfan sambil mengangkat tangan.

     "Kemungkinan penculiknya menculik dia waktu pulang sekolah!" Seru Ana.

     "Bisa saja. Ini sudah keterlaluan! Si peneror ini benar-benar membahayakan nyawa kita!" Arief mengepalkan tangan kesal.

     "Ya! Kamu tau siapa yang menculik Karisma, 'kan?!" Kata Keysha menoleh ke arah Tya.

     "Aku belum yakin, soalnya aku belum memastikan nama sekolahnya. Kalau memang nama sekolahnya sesuai perkiraanku, berarti dugaanku dan Karisma benar," Suara Tya bergetar. Anak-anak 8A hanya bisa menunduk pasrah.

     "Apa kita harus lapor polisi? Ini benar-benar sudah keterlaluan!" Sahut Fitri.

     "Kamu yakin? Kamu yakin kalau Karisma akan ditemukan dengan bantuan polisi? Kita pakai jalan belakang saja," Usul Arief.

     "Maksudmu, Rief? Kamu selalu punya ide yang aneh-aneh," Sywa menanggapi.

     "Maksudku, kita tangkap si peneror ini dengan diam. Jadi, si peneror nggak akan curiga kalau kita tetap mengejar mereka. Si peneror ini pasti berpikir kalau kita menyerah dan lapor polisi. Sebenarnya nggak. Li, coba aku lihat isi BBM mu dengan Karisma,"

     Laili memberikan HP nya ke Arief sambil berdecak kagum.

     "Nggak biasanya otak ketua kelas kita encer begini,"

     "Aku begini pada saat-saat yang dibutuhkan saja. Sebentar, isinya..." Arief membuka ikon berbentuk Blacberry Messenger.

     "Awalnya kami bicara biasa saja. Lalu tiba-tiba dia bilang kalau dari sekolah ada yang mengikutinya," Jelas Laili. Arief hanya merenung menatap layar benda kotak itu. "Lalu, dia bilang satu petunjuk padaku,"

     Arief langsung menoleh ke arah Laili. "Apa itu?"

     "Semua tertulis di BBM itu. Katanya, "Datangi rumahku, semuanya ada disitu," begitu katanya,"

     "Rumahnya?" Arief memasang raut wajah bingung.

     Laili mengangguk. "Aku juga awalnya nggak paham. Lalu dia tiba-tiba off,"

     "Teman-teman! Nama sekolahnya ketemu!" Seru Putra mengagetkan seluruh kelas yang sedang serius berpikir.

     Putra langsung menghampiri Arief dan memberikan selembar kertas kepadanya.

     "Ini Karisma yang suruh?" Tanya Arief. Putra mengangguk.

     "Aku juga mau lihat," Tya melihat isi kertas itu. Beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah. "Seperti... Dugaanku dan Karisma,"

DEATH CLASSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang