Langit semakin gelap, hujan mulai jatuh, angin malam juga tak ingin ketinggalan, menemani kota Tokyo. Para pejalan kaki sudah menggunakan payung dan pakaian tebal, begitu juga denganku sambil membawa sekantong plastik camilan ringan dan mie instan. Tak lupa sepasang earphone menemani langkah diamku.
Di pertigaan jalan aku berbelok memilih melewati jalan komplek perumahan. Keadaan sunyi, ada beberapa pejalan kaki saja. Perumahan ini terkenal dihuni oleh orang-orang menengah. Tak heran jika bangunan rumah-rumah yang ku lewati bernuansa agak mewah.
Di tengah perjalanan langkah ku terhenti. Pandangan ku tengah asyik memperhatikan seorang gadis mengelus seekor kucing yang meringkuk sendirian di bawah tangga terbuat dari beton. Gadis itu melepas syal nya, menyelimuti sang kucing, kemudian meletakkan sebuah payung, melindungi tubuh kucing tersebut dari cipratan air hujan. Sekilas terbayang kejadian di halte dulu.
Saat itulah naluri dan pikiran ku menuntun langkah ku mendekatinya, melindunginya dari rintikan hujan dengan payung yang ku bawa tanpa perduli hujan mulai membasahi tubuh ku. Beruntung hujan masih enggan jatuh terlalu deras.
Ia mendongak, tatapan kami bertemu dalam diam. Dan aku menyadari bahwa takdir sedang bicara pada ku dan sang waktu menuntun ku kembali bertemu dengannya, si gadis payung merah. Kami dipertemukan lagi dengan cara yang sama, pertemuan keenam di musim hujan di bawah payung yang sama, payung merah yang ku pungut dulu.
"Ambillah" ucapku
Ia berpaling, membenahi payung yang akan ditinggalkannya.
Karena tak kunjung mendapat respon aku kembali bicara. "Pakailah" ucapku lagi
Ia berdiri, mengamatiku. "Aku tidak butuh" ucapnya datar tanpa ekspresi
Jawabannya mengingatkan ku pada pertemuan kami yang keempat. Aku tersenyum. "Pakailah, kau lebih membutuhkan" aku ingat jawaban yang dilontarkannya saat itu
"Aku tidak membutuhkannya" tolaknya lagi lalu melangkah pergi
Aku menahan pergelangan tangannya, meletakkan payung yang kugunakan dalam genggamannya secara paksa. Ia diam memandangku dengan tatapan dan ekspresi yang masih sama, datar.
"Pakailah" kataku lagi lalu pergi menjauhinya. Ku lindungi kepala ku menggunakan topi dari jaket yang sedang ku pakai
"Aku tidak akan mengembalikan payung ini pada mu" ucapnya agak keras
Aku berbalik lalu tersenyum. "Aku tidak memberikan payung itu pada mu, aku hanya mengembalikan payung itu kepada pemiliknya" tanpa menunggu ocehannya lagi aku bergegas pergi, berlari kecil. Sempat ku lihat dahinya berkerut bingung.
Kau tahu? Salah satu benang merah yang menghubungkan ku dengannya sudah ku kembalikan, sebuah payung.
Kepala ku menggeleng kecil sambil tersenyum menganggap apa yang terjadi merupakan sebuah takdir yang sangat konyol. Tak pernah terbayangkan langit akan menuliskan jalan cerita ku seperti ini. Bicara tentang takdir, aku berharap kami kembali dipertemukan dengan caranya lagi.
Hujan turun semakin deras, terpaksa aku berteduh di depan sebuah kafe. Ku usap jaket ku mengeringkan sedikit air hujan yang telah meresap. Saat sedang menyibukkan diri, seseorang berdiri di sampingku berbagi payung. Aku menyadari keberadaannya dan belum sempat menyapanya.
Ketika urusan ku selesai aku menoleh bermaksud mengucapkan terimakasih. Bukannya kata terimakasih yang terucap melainkan pikiran ku tiba-tiba kosong, suara ku menghilang. Apa takdir benar-benar menjawab doa ku secepat ini?
Gadis itu menatapku, kami sama-sama terkunci dalam satu dimensi dimana hanya ada aku dan dia. Kali ini aku memandangnya lekat dalam jarak sedekat ini, ekspresi wajahnya masih sama tak ada yang berubah. Kami saling mengunci, tak ingin melewatkan kesempatan ini. Matanya menatapku sendu tapi tak menghilangkan kesan dingin. Wajah tirus tanpa make up, bibir tipis tanpa lipstik, kulit putih khas gadis asia, alis tak begitu tebal, topi rajut menutupi sebagian rambutnya yang terurai panjang, tubuhnya setinggi bahuku hingga terpaksa mendongak melihatku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me One Last Shot
Random[Completed] Gadis itu. Dingin, keras kepala, penyendiri & pendiam. Kepribadian yang menyimpan banyak cerita yang akhirnya menggiring ku menjadi partner nya. Partner dalam penuntasan dendam yang sama. Seiring berjalannya waktu, aku semakin tertarik...
