5

813 60 1
                                        

Aku berada di sisi tangga lantai 1 sedang memilah-milah sampah. Sekedar informasi, Jepang memiliki tata cara dan jadwal membuang sampah. Ada 3 kategori sampah yaitu sampah yang bisa dibakar, sampah yang tidak bisa dibakar, dan sampah yang bisa didaur ulang. Ketiga jenis sampah ini memiliki tempat sampah masing-masing dan aku sedang melakukan hal konyol tersebut, memilah sampah. Merepotkan. Selesai membuang sampah aku berencana pergi ke supermarket terdekat membeli beberapa persediaan makanan.

Di tengah perjalanan aku melihat gadis itu sedang membeli seikat bunga. Aku berniat menyapanya, namun ia buru-buru menghentikan salah satu taksi dan pergi.

"Kemana? Apa dia akan bertemu kekasihnya? Apa dia sudah punya?" gumam ku

Karena penasaran aku segera menghentikan taksi mengikutinya diam-diam.

Setengah jam kemudian ia berhenti di Tokyo Station, aku menyusul di belakang. Ia mengambil tiket kereta JR Tokaido, begitu juga denganku. Perjalanan ini memakan waktu 50 menit menuju Fujisawa Station. Kemudian mengambil kereta lokal Odayaku menuju Enoshima.

Disinilah kami dalam kereta Odayaku menuju Enoshima yaitu sebuah pulau kecil yang terletak di Prefektur Kanagawa. Kami duduk di gerbong yang berbeda, tapi aku masih bisa mengawasinya. Ia tengah asyik memandang keluar jendela dengan bunga di pangkuannya.

Kami tiba di pemberhentian terakhir yaitu Katase Enoshima Station selama 7 menit. Setelah keluar dari area stasiun gadis itu menaiki taksi, aku bergegas manaiki taksi di belakangnya. Perjalanan kami melewati daerah-daerah wisata terkenal disini, seperti Enoshima Aquarium, pantai Enoshima, Samuel Cocking Garden, dan Sea Candle. Tapi kami melewati semuanya. Kemana tujuannya aku tak bisa menebaknya. Daerah yang kami lewati semakin jauh dari perkotaan. Kami mulai memasuki area bukit kecil. Aku sempat membaca tulisan yang tertera di atas gapura.

"Pemakaman? Siapa?"

Taksi yang ditumpangi gadis itu berhenti di pintu gerbang area pemakaman, sedangkan aku berhenti di sekitar gapura ucapan selamat datang yang terletak beberapa meter dari sana.

Sekitar setengah jam kemudian gadis itu kembali ke taksi dan melewati jalan sebelumnya. Aku penasaran siapa pemilik makam yang didatanginya, tapi ku urungkan dan pergi menyusulnya.

Gadis itu berhenti di taman Samuel Cocking Garden. Berbagai macam jenis bunga Tulip dipajang disini. Ia tampak menikmati suasana penuh warna-warni. Kalau dipikir-pikir ini pekerjaan paling konyol yang pernah ku lakukan, pekerjaan bagi orang-orang pengangguran. Aku tak menepis kenyataan bahwa status ku masih dalam masa pengangguran sementara.

Karena tak terlalu fokus aku kehilangan jejaknya. Aku mengelilingi sekitar taman mencari gadis itu, tapi aku tak melihatnya dimana pun. Aku mengacak rambut lalu duduk di salah satu kursi kosong.

"Kau mencariku?"

Suara itu, jadi ia menyadari keberadaanku? Aku tertawa kecil. Tak perlu menoleh aku sudah tau siapa dia. "Jadi kau sudah tau?"

Ia duduk di sampingku menyisakan jarak. "Apa yang membuat mu penasaran sampai harus menguntitku sejauh ini" tanya nya tanpa memandangku.

"Karena kau tak memberiku kesempatan untuk mengenalmu"

"Lain kali jangan lakukan ini"

"Jika aku melakukannya lagi?"

Iya menoleh. "Apa yang ingin kau tau tentang ku tak akan pernah kau dapatkan sampai kapan pun, jadi jangan mengganggu hidup ku"

Give Me One Last ShotCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang