Author POV
Setelah mendapat kabar Ara dan Haru segera ke rumah sakit. Mereka berlari di sepanjang koridor rumah sakit membawa berbagai macam perasaan tak menentu. Satu hal yang pasti mereka cemas dan takut.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa...?" Ara tak mampu melanjutkan pertanyaannya.
Haru merangkul, memukul kecil pundaknya, memberikan ketenangan. "Tenanglah" bisik nya
Tubuh Ara bergetar hebat, bukan karena tangis melainkan menahan emosi yang hampir meledak. Kizzy dan Shin saling berpangku tangan dan khawatir. Arah pandang mereka hanya tertuju pada satu arah yaitu pintu ruang operasi, menunggu lampu merah berubah hijau. Bermacam doa dan harapan mereka lantunkan dalam hati, berharap Naoki selamat dari kejaran maut.
Berjam-jam mereka menunggu, akhirnya pintu bercat putih itu terbuka lebar membawa Naoki yang masih menutup mata di atas brankar dengan berbagai macam alat medis yang masih melekat di sekujur tubuhnya.
"Bagaimana keadaan pasien dok?" tanya Haru setelah dokter datang menghampiri mereka
Dokter menghela nafas. "Pasien memang sempat kehabisan darah, beruntung masih bisa bertahan untuk saat ini. Kondisinya masih dalam keadaan kritis, pisau tertancap hampir mengenai jantung nya. Tapi yang membuat saya tak habis pikir, bukan hanya karena pisau itu yang membuatnya seperti itu melainkan pisau tersebut juga dilumuri racun"
"Haa?"
Kizzy, Shin, dan Haru terperangah, sedang Ara masih bertahan duduk di kursi tunggu masih dengan emosi tak menentu dan pandangan kosong ke bawah. Dadanya seakan sesak, nafasnya tak beraturan, cengkraman tangan pada ujung kursi semakin erat. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Ara meninggalkan mereka. Gadis itu murka, dapat terbaca melalui raut wajah yang tegang dan tatapan tajam menusuk. Seakan memberi kode, semua yang melihatnya menyingkir dengan sendirinya. Bahkan polisi yang bertugas menyelidiki kasus ini menelan ludah, tak berani membuka suara.
Haru yang menyadari kepergian Ara segera menyusulnya.
"Mau kemana kau?"
Ara tak menggubris, terus berjalan tanpa menoleh pada pria itu sekali pun. Haru terus mengejarnya, berlari kecil, menyamakan langkah Ara yang tergesa-gesa. Hingga di parkiran bawah tanah Haru menarik tangan gadis itu agar berbalik memandangnya.
Pria itu mengatur nafasnya yang tak beraturan. "Apa yang ingin kau lakukan?"
"Apa perlu ku jelaskan?" tanya nya balik masih dengan emosi yang sama
"Aku tau, tapi tidak bisakah untuk saat ini kau tenang dan kita pikirkan besok bersama. Adik mu masih dalam masa kritis" bentaknya
"Tak ada gunanya aku menunggu, hanya duduk meratapinya tidur" kedua bola mata Ara mulai berkaca-kaca. Seketika emosi Haru menghilang. "Aku tak mau lagi membuang waktu, secepatnya pria itu harus ditangkap jika tidak yang lainnya juga akan bernasib sama seperti mereka. Aku..." sebutir air mulai jatuh dari kelopak mata Ara, ia menunduk menyembunyikan kesedihan yang sudah lama terpendam dan tak kunjung bisa ia keluarkan.
Tatapan Haru melunak, seakan tertusuk jarum ia menyadari kesalahannya. Gadis itu sedang kacau. Dengan perasaan pilu tak menentu Haru menghilangkan jarak diantara mereka, merengkuh tubuh Ara yang semakin bergetar hebat. Akhirnya gadis itu melepaskan segalanya berharap air matanya dapat menghilangkan keangkuhan, kebencian, kemarahan, kesedihan, dendam dan luka dalam pelukan Haru. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya menyalurkan kekuatan pada gadis itu.
Detik itu ia menyadari gadis itu diam-diam juga menginginkan kebebasan. Kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan perasaan benci dan takut hingga menimbulkan dendam yang mengharuskan nya untuk bersembunyi dibalik sikapnya yang dingin sampai batas waktu tak menentu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me One Last Shot
Rawak[Completed] Gadis itu. Dingin, keras kepala, penyendiri & pendiam. Kepribadian yang menyimpan banyak cerita yang akhirnya menggiring ku menjadi partner nya. Partner dalam penuntasan dendam yang sama. Seiring berjalannya waktu, aku semakin tertarik...
