Author POV
Garis polisi melingkari sekitar panthouse, keadaan ruangan dibiarkan berantakan. Ara mendatangi tempat kejadian sendiri, menelusuri setiap sudut, mempelajari keadaan, mencari sesuatu yang dapat dijadikan bukti untuk menemukan pelaku pembunuhan. Dengan cermat dan teliti, Ara melakukan olah TKP berulang-ulang, menggambar sketsa lokasi dimana pertama kali darah korban ditemukan. Kemungkinan besar, setelah korban dibunuh, ia diseret menuju kolam renang, lalu dibuang disana. Naoki dan Kizzy sebelumnya juga sudah mengambil sempel darah yang ada di lantai.
Ara kembali ke ruangan dimana darah paling banyak berceceran. Saat kedua matanya menelusuri sekitar TKP, ia menemukan 2 buah kancing baju berwarna biru langit dan biru tua di bawah sofa lalu mengambilnya, memperhatikan dengan teliti. Ia segera merogoh HP dari saku celana dan menelepon Naoki.
"Apa warna baju yang dipakai korban?" tanya nya to the point
"Biru. Ada ap..."
"Biru apa?" sela Ara, tak memberi waktu Naoki bertanya
"Biru langit"
"Apa semua kancing bajunya utuh?"
"Apa? Kau...dimana kau sekarang?" bentak Naoki. "Kau di TKP?"
"Ya..."
"CEPAT KELUAR!!"
"Jangan khawatir kan aku. Setelah kau jawab pertanyaan ku, aku akan segera keluar"
"Kau..." Naoki geram, tapi ia langsung memeriksa baju yang digunakan korban. "Tidak, satu kancing terlepas"
Setelah memastikannya Ara memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia segera beranjak pergi. Namun, saat akan memutar kenop pintu seseorang menodong kepalanya dengan pistol dari belakang. Ara berjengit kaget, tapi ia berusaha tetap tenang.
"Kau benar-benar keras kepala Ara, sudah ku peringatkan dari awal untuk tetap bersembunyi"
Kedua mata Ara terbelalak, ia mengenal suara itu. Tanpa takut ia berbalik menemukan sosok pria bertopeng menutupi setengah wajahnya, Ara mengenalnya. "Apa yang kalian rencanakan? Kenapa kalian membunuhnya?" Ara menatapnya menuntut minta penjelasan
Pria itu menurunkan pistol, memalingkan wajah. "Maafkan aku" sesal nya
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Ia menghela nafas keras, menatap langsung pada Ara. "Kau sudah melewati batas nyaman mu. Mereka sudah tau keberadaanmu dan terus mengawasimu. Aku tak bisa banyak membantu. Pergilah ke Kabukicho, temui pemilik kancing itu. Kau akan menemukan jawaban mu disana" Ara mengangguk paham. "Dan...ajak Haru bersamamu, kau membutuhkannya. Hati-hati"
Saat Ara membuka suara, pria tersebut melesat pergi dalam sekejap mata. Ara kembali menutup mulut, memandang ke arah pintu menuju kolam renang dimana sosok itu pergi menghilang dari pandangannya. Ia mengamati 2 kancing dalam tangannya, menggenggam nya kuat. Tekad nya sudah bulat, ia akan memulai penyelidikannya sendiri. Mencari tau siapa dan mengapa ayahnya dijebak dan dibunuh. Dia akan menangkap dan membalaskan dendamnya sendiri.
*****
Keadaan rumah gelap, hanya ada pencahayaan dari luar. Hati-hati Ara berjalan masuk dan menyalakan lampu ruangan.
"Baru pulang?"
Ara tersentak kaget, berbalik menemukan Haru tengah berdiri di tangga, kedua tangan bersedekap di dada, bersandar ke dinding, menatapnya serius. Ara tak menjawab, ia berjalan ke dapur mengambil segelas minuman lalu mengistirahatkan diri di sofa. Haru mendekatinya, duduk tepat disampingnya, sengaja tak menyisakan jarak, dan bersandar ke sisi sofa seperti yang Ara lakukan. Pria itu memiringkan wajah, mengamati setiap inci wajah Ara yang sedang menutup mata menghilangkan lelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Give Me One Last Shot
Random[Completed] Gadis itu. Dingin, keras kepala, penyendiri & pendiam. Kepribadian yang menyimpan banyak cerita yang akhirnya menggiring ku menjadi partner nya. Partner dalam penuntasan dendam yang sama. Seiring berjalannya waktu, aku semakin tertarik...
